DIYAH GURU SM3T DI WOLOWARU NTT

“Jalan sepanjang seribu lima ratus meter harus ditempuh setiap hari untuk sampai ke madrasah tempat mengajar. Setiap berangkat ke madrasah harus melalui jalan menurun karena kos saya berada di lereng bukit, selanjutnya saya harus melewati jalan mendaki yang masih berupa tanah berbatu karena madrasah tersebut terletak di lereng bukit. Dibsini harus ikhlas mengabdi karena memang inilah keinginan saya sejak kecil untuk bisa merasakan kehidupan di luar pulau Jawa.”

Demikian ungkapan hati Diyah Panca Wati, tenaga pengajar SM3T yang ditempatkan di Madrasah Aliyah Al-Muttaqin Wolowaru, Ende, Nusa Tenggara Timur. Madrasah Aliyah Al-Muttaqin Wolowaru merupakan madrasah swasta yang didirikan oleh Yayasan Al-Muttaqin Wolowaru. Madrasah ini merupakan madrasah yang baru didirikan 4 tahun dan masih dalam tahap pembangunan. “Para murid saya harus menempuh jarak sekitar 8 km ke madrasah, setiap hari, selama tiga tahun,” kata Diyah. “Semangat murid-murid untuk memperoleh pendidikan yang lebih inilah yang mendorong saya rela ditempatkan disini.”

Madrasah Aliyah Al-Muttaqin Wolowaru terletak di dekat bukit dan jalan menuju ke madrasah hanyalah jalan setapak yang berbatu. Di sini air mahal harganya. Karena susah didapat, tak jarang air hujan ditampung di drum untuk keperluan semua warga madrasah. Toilet tidak berair dan untuk buang air harus menumpang ke rumah penduduk. Di madrasah ini setiap dhuhur selalu menjalankan ibadah sholat dhuhur bersama. Bila air tidak ada para murid sholat di mushola kampung yang dekat dengan madrasah dan saat ada air di madrasah bisa sholat di ruang kelas.

Fasilitas di madrasah belum lengkap karena hanya mengandalkan uang komite dari murid dan tak jarang gaji guru yang hanya Rp 300.000 per bulan pun sering terlambat berbulan-bulan karena menunggu uang komite dari murid. Hampir setiap minggu, Kepala Madrasah, Adrian Abdurahman, S.Pd.I., mengumpulkan murid untuk membayar uang komite tapi tetap saja banyak murid yang tidak membayar karena penghasilan orang tua mereka yang tidak tentu. Adrian Abdurahman mengatakan bahwa uang komite di madrasah ini sejumlah Rp 750.000 setahun.

Di sekolah ini, Diyah diberi tugas mengajar kelas X dengan mata pelajaran kimia dan biologi. Kelas X dibagi menjadi 2 ruang yaitu kelas XA dan XB. Ruang kelas X menggunakan aula yang hanya disekat dengan papan. “Sebenarnya, ruang kelas X tidak pantas dijadikan ruang kelas karena kondisi ruangan ini sangatlah memprihatinkan” kata Diyah. “Ruang kelas tidak mempunyai jendela dan pintu, meja murid sumbangan dari MTs Negeri Wolowaru sudah rusak dan atap kelas berlubang. Tidak jarang saat hujan murid harus menggeser meja mereka agar tidak kena air hujan.”

Sebagian besar guru di madrasah ini menggunakan metode ceramah, tidak adanya buku penunjang yang mengakibatkan murid harus mencatat semua materi dan selanjutnya guru menerangkan materi tersebut. Menurut warga Gergunung Klaten Utara tersebut, antusias murid saat digunakan metode selain ceramah sangatlah bagus. “Mereka lebih aktif dalam pembelajaran terutama saat saya menggunakan metode diskusi kelompok dan diskusi kelas” kata Diyah. “Bahkan saat saya melakukan demontrasi tentang materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit, mereka antusias sekali.”

Ketika para murid melakukan praktikum Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit, alumni Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY tersebut melihat kebahagiaan mereka kala mendapatkan pengalaman baru. Para murid bisa mengetahui secara nyata bahwa larutan bisa menghantarkan arus listrik dan ada yang tidak dengan melihat tanda di lampu dan elektroda.

Selain mengajar, di sini Diyah mendapat pengalaman baru yang mengajarkan tentang arti kehidupan dan pentingnya kebersamaan. “Saya bisa merasakan menjadi pekerja bangunan seperti angkat pasir, angkat batu, gali tanah dengan linggis dan cangkul” kata Diyah. “Ini merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya dan tidak akan saya lupakan.”

Menurutnya, berada di lingkungan madrasah ini haruslah bermental baja. Tidak ada kata mengeluh dan capek. Semua harus dilakukan dengan ikhlas tanpa pamrih demi madrasah tercinta. Sederhana itu indah bila kita saling berbagi, menerima, sabar, dan ikhlas menjalaninya. Dalam keterbatasan pasti ada jalan. (dedy)

Label Berita: