DRAMA BAHASA JAWA: PEDHUT KASIDAN

Mbah Sumi memiliki tiga orang putra: Harta, Brata, dan Bakuh. Mereka tinggal di Gunungkidul, Yogyakarta. Hidupnya pas-pasan penuh rasa kasihan, apalagi mbah Sumi yang menjanda sakit-sakitan.

Tak tahan hidup menderita, Harta dan Brata nekat mengadu nasib ke Kalimantan, bekerja di sebuah perkebunan kelapa Sawit. Dengan pongah, mereka pergi dan memberi mandat pada adiknya, Bakuh untuk menjaga ibunya. Padahal, kedua kakaknya jelas tahu jika Bakuh memiliki kelainan mental. Bakuh cenderung tertutup, suka melamun, dan tatapan matanya kosong.

Setelah ditinggal kedua anaknya bekerja, keadaan Mbah Sumi makin parah. Sakitnya kian bertambah. Bakuh pun bertambah linglung, sering kelayapan di malam hari. Tetangga banyak yang mengingatkan Bakuh agar senantiasa menunggui ibunya.

Begitulah potongan cerita pementasan drama bahasa Jawa yang dipentaskan Pendidikan Bahasa Jawa kelas H 2010, Kamis (30/5/2013) lalu. Drama berjudul “Pedhut Kasidan” yang disutradarai oleh Exwan Andriyan itu memiliki tema yang berbeda. Bukan tema Asmara, tapi mereka menghadirkan hal sedih dengan pementasan apik.

Dengan dekorasi khas rumah desa, penonton yang memenuhi Laboratorium Karawitan FBS UNY dibuat histeris dengan adegan pembuka yang sedikit horor. Penonton di tepi depan panggung sejenak merinding, bau-bau dupa dan menyan menyeruak. Sekitar 5 menit kemudian, dari arah belakang beberapa orang menjunjung keranda serta menebar bunga. Para penonton perempuan berteriak histeris menambah ngeri suasana. Lalu rombongan penjunjung keranda berhenti di atas panggung. Segera, mereka letakkan perlahan keranda bertudung batik di tengah-tengah panggung. Gamelan ditabuh lagi. Lampu hanya menyorot panggung dan penonton makin terbius.

Namun, seluruh pementasan malam itu yang dimulai pukul 21.00 WIB tidak serta merta menghadirkan kesedihan. Ada beberapa plot yang sengaja dikemas untuk membuat tawa penonton. Contohnya, ketika dua tetangga wanita Mbah Sumi kaget melihat Mbah Sumi yang meninggal. Mereka berdua yang awalnya beradegan kalut dan ketakutan, malah memancing tawa. Pasalnya, pemeran Rani yang dimainkan Diah Ayu P tampak sangat kemayu dengan suaranya yang medhok. Pementasan juga semakin interaktif saat beberapa pemain berkomunikasi dengan penonton.

Akhir cerita, kakak-kakak Bakuh pulang kampung lantaran mendengar ibunya meninggal. Bukannya bersedih, mereka malah menyalahkan Bakuh habis-habisan. Pikir mereka, semua adalah salah Bakuh yang tidak becus mengurus ibunya. Bakuh dengan terbata-bata membela diri dengan berkata mengapa kakaknya baru pulang setelah sekian tahun ke Kalimantan.

Tak kuasa menanggung kesedihan, Bakuh pun bunuh diri dengan cara menggantung di pelataran rumahnya. Semua tercengang dan rasa-rasanya, kalimat “Penyesalan memang selalu datang terlambat” benar adanya. Mengetahui sang adik mati, Harta dan Brata dirundung duka. Apalah arti harta yang mereka kumpulkan, jika ibu dan adiknya secara bersamaan pergi meninggalkan dunia dengan tragis.

Ditutup dengan tangisan Harta dan Brata, pementasan drama dalam rangka ujian mata kuliah Sanggar Sastra Jawa yang didapat mahasiswa semester 6 itu mendapat sambutan meriah dari penonton. “Rasa-rasanya, pertunjukkan semacam ini layak diapresiasi. Selain bagus juga sebagai cara melestarikan budaya Indonesia,” kata Yusuf ditanya mengenai pendapatnya seusai pementasan. Benar saja, pementasan malam itu juga dipadukan dengan permainan gamelan yang dimainkan para mahasiswa. Selain itu, mahasiswa PB Jawa juga menunjukkan kepiawaian mereka dalam menyinden dan menjadi pranata adicara atau pembawa acara. (FitriAnanda)