BATIK BERPERAN PENTING DALAM HAL BUDAYA DAN PEREKONOMIAN

25
May
2011

Batik awalnya hanya dibuat dan dipakai di lingkungan raja-raja terutama di pulau jawa untuk keperluan upacara-upacara yang berhubungan dengan kehidupan di lingkungan istana/keraton. Kain batik penuh dengan muatan seni dan budaya bahkan disakralkan untuk motif-motif tertentu. Seiring dengan perkembangan zaman batik secara perlahan mengalami pergeseran dan diperjualbelikan sebagai mata dagangan yang bernilai tambah tinggi secara ekonomi.
Dalam perkembangan produk batik menjadi wujud nyata dari karya cipta dan seni yang diekspresikan pada desain motif kain pakaian dan kain dekorasi lainnya yang terus tumbuh dan berkembang dan telah menjelma menjadi kekayaan nasional yang mempunyai peran penting bagi Indonesia baik dalam hal budaya maupun perekonomian.

Demikian dipaparkan Dirjen Industri Kecil dan Menengah, Euis Saedah, pada seminar dan pameran nasional Empowering Batik dalam Membangun Karakter Budaya Bangsa, Kamis (19/5) di ruang sidang UNY. Seminar yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Seni Kerajinan Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni UNY merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-47 UNY. Sedangkan pameran batik diselenggarakan 18-19/5 di hall rektorat  menampilkan karya-karya batik dan praktik membatik.

Lebih lanjut dikatakan, jika batik sudah menjadi sesuatu yang monumental yang bisa membangun kesejahteraan ekonomi bangsa tidak ada lagi disparitas kelas ekonomi yang jauh. Disatu sisi ada komunitas hanya mau memakai batik yang harganya jutaan rupiah dan dilukis dengan indah. Disisi lain masih ada yang pendapatannya lima puluh ribu rupiah.

Pada saat bersamaan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Jepang, Afrika Selatan dan beberapa negara Eropa tengah gencar-gencarnya mengembangkan potensi produk berbasis budaya dengan didukung kampanye global.

”Sesungguhnya produk budaya seperti batik  dapat merupakan salah satu pilar utama bagi terwujudnya suatu bangsa yang maju sejahtera yang memiliki ciri dan karakter dan watak yang kuat yang jika dikombinasikan dengan daya inovasi dan kreativitas yang tinggi akan terbentuk bangsa yang berdaya saing dan kompetitif,” tambahnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Suminto A Sayuti, budayawan dan guru besar FBS UNY mengatakan, pendidikan karakter berbasis warisan budaya, hakikatnya merupakan upaya menyiapkan dan membentuk sebuah masyarakat yang keberlangsungannya didasarkan pada prinsip-prinsip moral.

Dijelaskan, upaya pengembangan yang dilaksanakan sudah seharusnya mampu pula menemukan, menghidupkan, dan menyegarkan kembali semangat kebebasan, individualisme, kemanusiaan, dan toleransi dalam jiwa.

”Untuk itu keutamaan kecendikiawanan dan pengayaan kultural merupakan keniscayaan, yaitu keniscayaan untuk menanamkan ke dalam dirinya prinsipp-prinsip etika dan kebenaran moral yang berasal dari cita-cita peradaban dan warisan intelektual yang benar-benar berakar pada kultur sendiri,” jelas Suminto. (wit)

submitted by humas