DAUN KERSEN SEBAGAI ANTISEPTIK KULIT

19
Jun
2017

Pohon kersen (Muntingia Calabura)  mudah ditemukan di sekitar kita karena pohon ini dapat tumbuh dengan sendirinya tanpa perawatan yang khusus. Pohon kersen banyak tumbuh secara liar bahkan seringkali dianggap mengganggu. Daun kersen hanya dibiarkan berserakan padahal daun dan buah pohon kersen memiliki banyak manfaat. Hal ini mendorong mahasiswa Fakultas MIPA UNY melakukan sesuatu dengan memanfaatkan daun kersen menjadi sprayer herbal antiseptik. Fajar Meirani dan Ashma Nur Hanifah Heninda Putri dari prodi pendidikan matematika serta Intania Betari Miranda dan Listika Wibawaning Putri prodi pendidikan kimia membuat Antiseptik Bio-Sprayer Muntingia Calabura (Abis Maca) dengan kandungan senyawa antibakteri. Inovasi produk ini memiliki keunggulan berbahan alami, mudah dalam penggunaan, terjangkau dan mampu memberikan perlindungan sebagai antiseptik kulit.

Menurut Fajar Meirani, selama ini daun kersen banyak terbuang sebagai sampah. “Padahal daun kersen mengandung kelompok senyawa atau lignin antara lain flavonoid, tannin, triterpene, saponin, dan polifenol yang menunjukkan aktivitas antioksidatif” kata Fajar Meirani. Hasil penelitian dengan uji fitokimia menunjukkan bahwa adanya kandungan flavonoid pada daun kersen mampu menghambat aktivitas bakteri. Ashma Nur Hanifah Heninda Putri menambahkan bahwa daun kersen juga bermanfaat sebagai obat. “Biladirebus atau direndam dalam air bisa untuk mengurangi pembengkakan kelenjar prostat” kata Fajar Meilani “Juga bisa sebagai obat untuk menurunkan panas, menghilangkan sakit kepala, flu dan mengobati penyakit asam urat”.  Selain itu daun kersen juga dapat dimanfaatkan sebagai antiseptik, antioksidan, antimikroba, mengurangi radang, antidiabetes, dan antitumor.

Intania Betari Miranda menjelaskan bahwa untuk membuat bio-sprayer antiseptik ini dibutuhkan daun kersen yang dioven dalam suhu 60 derajat Celcius selama 24 jam. “Kemudian digrinding halus dan direndam selama 24 jam” ujar Intania “Perbandingan daun kersen dan aquades adalah 1:5”. Racikan ini lalu diekstrak selama 5 jam menggunakan rotary evaporator bersuhu 80 derajat Celcius. Hasilnya diformulasi dengan gliserin, aquades, katalis serta pengawet, dan dikemas dalam bentuk bio-sprayer.

Bio-sprayer antiseptik ini menambah khasanah obat herbal di Indonesia, apalagi dibuat dari bahan yang mudah didapatkan di masyarakat. Listika Wibawaning Putri mengatakan bahwa ketertarikan masyarakat pada pengobatan herbal karena dinilai lebih aman dan tanpa efek samping. “Selain harganya yang terjangkau, obat herbal juga mengandung lebih sedikit bahan kimia sehingga mengurangi resiko penyakit lebih lanjut” kata Listika “Hal tersebut sekaligus menempatkan usaha pengobatan herbal lebih menjanjikan di kalangan masyarakat”. Karya mahasiswa FMIPA UNY tersebut berhasil meriah dana Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan tahun 2017. (Dedy)

submitted by humas