ECOBRICK, SOLUSI PENGOLAHAN LIMBAH PLASTIK

27
Aug
2018

Plastik adalah bahan yang melekat erat dengan kehidupan manusia. Hampir di setiap sisi kehidupan manusia, mulai dari hal-hal terkecil seperti pembungkus makanan hingga peralatan rumah tangga. Plastik berasal dari residu pengolahan minyak bumi yang kemudian diolah kembali dengan mencampurkan bahan-bahan kimia tertentu sehingga menghasilkan biji-biji plastik yang siap digunakan sebagai bahan baku pembuatan plastik. Plastik  sendiri merupakan bahan yang sangat sulit terurai oleh alam, perlu waktu ribuan tahun untuk menguraikan plastik di alam. Plastik tidak akan hilang meskipun dibakar melainkan berubah bentuk menjadi lebih kecil yang disebut micro plastick, bahan ini dapat berbahaya jika tercampur pada tanah dan air karena akan menjadi racun jika tercampur di air dan masuk kedalam tubuh manusia.

Masyarakat di pedukuhan Jurang Depok masih memiliki kebiasaan membakar dan menjual limbah plastik, mereka belum mampu mengolah limbah plastik menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna yang tinggi. Melihat kondisi tersebut, kelompok KKN 81 Universitas Negeri Yogyakarta memilih untuk melaksanakan pelatihan ecobrick untuk masyarakat. Pelatihan dipandu oleh penggiat Ecobrick, Willa Lutfi Kholbiyulhusna, S.Pd. beliau merupakan alumni Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta. Ecobrick sendiri merupakan salah satu metode pengolahan limbah sampah plastik menjadi barang serbaguna. Mulai dari bangku hingga panggung pertunjukan dapat dibuat menggunakan metode Ecobrick. Metode ecobrick merupakan metode terakhir dalam pemanfaatan limbah plastik. Ketika sampah plastik tidak dapat diolah kembali menjadi barang lain seperti kerajinan tas maupun kerajinan yang lainnya, ecobrick dapat menjadi solusi. Pelatihan diawali dengan pengenalan sampah plastik dan bahayanya bagi tubuh manusia maupun lingkungan.

Pengolahan sampah menggunakan metode ecobrick tergolong mudah, bahan yang diperlukan berupa sampah plastik. Sampah plastik dipilah menjadi dua, sampah halus seperti plastik ‘kresek’ dan sampah kasar seperti pembungkus makanan, plastik minyak goreng, mie instan, dan lain sebagainya. Agar dapat digunakan, sampah-sampah ini dibersihkan dari sisa-sisa bahan seperti makanan, minyak dan sabun kemudian keringkan. Selain kedua sampah tersebut, siapkan juga botol plastik bekas air mineral yang telah dibersihkan dan dikeringkan untuk media. Bahan-bahan tersebut dibersihkan terlebih dahulu dari sisa-sisa Alat-alat yang diperlukan adalah gunting dan bambu ukuran 2x40 cm untuk memadatkan sampah plastik di dalam botol. Cara pengolahannya sendiri dimulai dari merobek sampah halus dengan warna yang sama, kemudian dimasukkan ke dalam botol dan padatkan menggunakan bambu hingga benar-benar padat, lapisan ini dijadikan sebagai lapisan dasar. Setelah sampah halus menjadi padat, lanjutkan dengan sampah kasar. Potong kecil sampah kasar menggunakan gunting, setelah itu masukan potongan tersebut kedalam botol dan padatkan kembali hingga botol penuh. Untuk membuat bangku kecil diperlukan minimal 7 botol dengan merk yang sama.

Pelatihan ecobrick diharapkan mampu menyadarkan masyarakat akan bahaya sampah plastik bagi lingkungan. Masyarakat saat ini dituntut untuk mengelola sampah dengan bijaksana mengingat keadaan lingkungan yang semakin memburuk, pengelolaan tersebut mulai dari pemilahan sampah organik dan non-organik, mengurangi penggunaan sampah plastik, dan memanfaatkan sampah plastik menjadi barang yang memiliki nilai guna seperti ecobrick maupun metode lainnya yang efisien.

submitted by humas