KENALKAN BUDAYA YOGYAKARTA MELALUI BUKU

17
Jul
2018

Dewasa ini, budaya lokal seakan-akan menjadi hal yang terlupakan bagi para generasi muda. Termasuk kearifan lokal (local wisdom) yang lambat laun mulai luntur akibat dari adanya pengaruh negatif globalisasi. Salah satunya yaitu kebudayaan luar masuk ke Indonesia. Fenomena saat ini yang banyak terlihat pada perubahan aktivitas bermain anak yaitu lebih seringnya anak bermain permainan dengan teknologi seperti game online. Pengenalan budaya lokal perlu dilakukan sejak awal anak usia dini, termasuk sejak usia sekolah dasar. Budaya lokal menjadi informasi yang mampu dikenali oleh siswa secara mendalam karena lingkungan asal informasi terkait dekat dengan siswa. Untuk itu perlu adanya buku penunjang sebagai bahan ajar untuk memperkenalkan budaya Yogyakarta bagi siswa sekolah.

Mahasiswa PGSD FIP UNY Nafi’atul Latifah, Meuthia Damayanti Kusuma Devi dan Latif Pertiwi merancang buku sebagai bahan ajar untuk memperkenalkan budaya lokal Yogyakarta pada siswa sekolah dasar. Menurut Nafi’atul Latifah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki potensi budaya dalam bentuk kearifan lokal yang sangat banyak dan juga beragam, hanya saja bahan ajar yang disediakan dan dipergunakan pada sekolah-sekolah di lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta pun belum berbasis budaya lokal. “Oleh karena itu kami kembangkan bahan ajar ini untuk memperkenalkan kembali budaya lokal dengan mengkaitkannya pada mata pelajaran siswa sekolah dasar” ungkap Nafi’atul Latifah. Meuthia Damayanti Kusuma Devi menambahkan, buku ini diberi nama Buku Tematik Budaya Yogyakarta (Butik Buyog), dimana bahan ajarnya disesuaikan dengan beragam kearifan lokal mencakup mulai dari tarian, seni teater, wayang, permainan tradisional, festival Yogyakarta. “Buku yang kami buat mengedepankan permainan tradisionalnya sesuai dengan sifat siswa sekolah dasar yang suka bermain” katanya.

Menurut Latif Pertiwi ada beberapa permainan tradisional yang menjadi bahan ajar dalam Butik Buyog, diantaranya nglarak blarak, jemparingan dan gobag sodor. “Dalam buku ini siswa diajak mengenali olahraga tradisional, permainan tradisional dan pelestariannya”  ungkap Latif. Butik Buyog terdiri dari tiga subtema dan satu kegiatan berbasis proyek. Struktur penulisan buku diusahakan memfasilitasi pengalaman belajar yang bermakna yang diterjemahkan melalui subjudul: Ayo Mengamati, Ayo Bermain Peran, Ayo Berlatih, Ayo Bercerita, Ayo Berkreasi, Ayo Menulis, Ayo Membaca, Ayo Bernyanyi, Ayo Beraktivitas, Ayo Berdiskusi, Ayo Menanya, dan Kegiatan Bersama Orang Tua. Buku ini bersifat serba-mencakup (self contained) agar dapat digunakan oleh orang tua secara mandiri untuk mendukung aktivitas belajar siswa di rumah dimana aktivitas dalam Butik Buyog pun berbasis budaya Yogyakarta, sehingga memungkinkan bagi siswa dan guru untuk melengkapi dan memperkaya materi dari berbagai sumber di sekitarnya. Di setiap akhir pembelajaran, terdapat kolom untuk orang tua dengan subjudul Kegiatan Bersama Orang Tua, kolom ini berisi aktivitas belajar yang dapat dilakukan orang tua bersama siswa. Orang tua diharapkan berdiskusi dan terlibat aktif dalam aktivitas belajar siswa. Lembar latihan merupakan bagian akhir subtema yang dapat digunakan untuk melatih daya pikir siswa. Guru pun dapat mengembangkan materi latihan sendiri sesuai dengan kebutuhan. Buku ini telah diujicobakan pada siswa kelas 3 SDN Tukangan Yogyakarta. Mayoritas siswa menyatakan bahwa mereka dapat memahami materi serta menyukai gambar dan informasi tentang budaya dalam Butik Buyog. Karya ini berhasil meraih dana Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian tahun 2018. (Dedy)

Tags: 
submitted by humas