MENELADANI MANGIR DAN PAMBAYUN DALAM PEMENTASAN MANGIR DAN RAHIM SEMESTA

3
Jan
2019

Adalah Mangir, tokoh muda dari daerah perdikan Mangir pada masa kekuasaan Panembahan Senopati. Figurnya yang dicintai rakyat, membuat Panembahan Senopati sedikit geram, sehingga berencana untuk menaklukan daerah Mangir. Keberanian, sikap Mangir sebagai seorang menantu, suami, dan pemimpin, diuji dalam konflik apik berbalut persoalan cinta dengan hadirnya Pambayun dalam kehidupannya.

Kisah fiksi sejarah dari naskah Mangir karya Pramoedya Ananta Toer  ini dipentaskan Teater Mirat pada Minggu (30/12) di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Pentas ini merupakan bagian dari mata kuliah Pentas Drama tiga kelas.  Selain itu, pentas ini juga merupakan malam puncak dari serangkaian acara Bulan Bahasa Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) FBS UNY yang digelar sejak awal Oktober lalu.

 Pementasan yang disutradarai oleh Ahmad Hayya ini mengangkat sisi yang jarang diangkat dalam pementasan Mangir sebelumnya, yaitu kekuatan perempuan dalam kekuasaan. Ketika dihadapkan pada cerita Mangir, sebagian masyarakat  pasti akan selalu mengingat peristiwa di mana Ki Ageng Mangir dibunuh oleh Panembahan Senopati. Padahal jauh dari itu, banyak nilai-nilai yang justru lebih baik untuk diangkat. Salah satunya tentang keteladanan perempuan, yang diwakili oleh Pambayun.

Muhammad Yunanda Suken, Pimpinan Produksi Teater Mirat, mengatakan bahwa pementasan yang dipersiapkan sejak tiga bulan yang lalu ini melalui proses yang tidak singkat, banyak yang harus dikorbankan juga penuh peluh dan kerjasama yang kuat dalam penggarapannya. Meskipun banyak kendala yang dihadapi, Yohanes Riski, salah satu aktor, mengungkapkan bahwa pementasan ini sangat sukses dan melebihi ekspetasi. “Saya sangat terharu dengan animo penonton dan kerja keras teman-teman Sasindo 2016,” ujarnya. Adegan yang menggambarkan konflik antara Pambayun, Wanabaya, Baru Klinting, dan Mandaraka menjadi salah satu adegan favorit Else Liliani, salah satu dosen pembimbing Mata Kuliah Pentas Drama.  

Sementara itu, bagian lain yang menarik dari pementasan Mangir dan Rahim Semesta adalah cara sutradara mengemas sudut pandang. “Mereka membawakan feminisme dalam aspek kehidupan, baik di zaman dahulu maupun sekarang. Untuk konflik kerajaan dan tanah perdikan pun dikemas dengan mengusahakan keobjektifitasan. Cara melihat cerita sejarah yang tidak biasa,” ujar Apriliasari, salah satu penonton yang menyaksikan pementasan ini. 

Pimpinan Produksi Teater Mirat mengungkapkan harapan untuk mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2016 yang telah melaksanakan pementasan ini, “Semoga pementasan ini menjadi pengalaman teman-teman dan juga pembelajaran dalam sistem kerja serta pembagian tugas,” pungkasnya. (Suken)

submitted by humas