SABUN DARI MINYAK JELANTAH

10
Jan
2019

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY membuat terobosan teknologi yaitu membuat sabun dari minyak jelantah. Para mahasiswa tersebut yaitu Asmi Aris, Ilyas Gistiana, dan Hafiizhoh Hanafia dengan dosen pembimbing Dr. Retno Arianingrum.

Lewat penelitian yang berjudul Saponification Test Triasilgliserol pada Limbah Minyak Goreng dengan Variasi Konsentrasi Alkali sebagai Upaya Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga, mereka mampu memanfaatkan limbah rumah tangga tersebut.

Ismi menerangkan, menurut penelitian, minyak goreng yang telah digunakan berulang dan pada suhu tinggi kualitasnya akan menurun. Kandungan lemak yang terdapat pada minyak goreng sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali dengan proses pemurnian yang selanjutnya dapat diolah menjadi bahan baku industri non pangan seperti sabun.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan yaitu dengan dengan mengolah trigliserida, asam lemak bebas dan metil ester asam lemak pada minyak goreng dengan metode soponifikasi. Pada proses ini dapat digunakan berbagai jenis pereaksi basa alkali untuk mendapatkan sabun dengan kualitas baik. Teknik ini sangat mudah untuk dilakukan sehingga memiliki prospek yang cukup baik untuk dilakukan kedepannya, baik dari segi kesehatan, lingkungan dan ekonomi.

“Untuk penelitianya kami menggunakan minyak goreng yang diberi perlakuan berupa pengulangan penggorengan dengan jumlah yang telah ditentukan yaitu 3,5, dan 7 kali. Minyak goreng bekas dibersihkan dari bahan pengotor sisa penggorengan menggunakan kertas saring. Sampel minyak ditambahkan adsorben sebanyak 5% berat minyak dan didiamkan  selama 72 jam. Kemudian minyak goreng disaring kembali untuk dipisahkan dari arsorben,” lanjutnya.

Sementara itu, Ilyas mengatakan, pembuatan sabun dilakukan dengan menggunakan basa alkali NaOH sehingga produk yang terbentuk adalah sabun padat. Uji karakteristik sabun meliputi uji kadar air dengan metode termogravimetri, uji keasaman dengan metode potensiometri menggunakan pH meter, uji kadar asam lemak bebas dengan metode alkali metri, dan uji kadar alkali bebas menggunakan metode asidimetri.

Pada uji keasaman, nilai keasaman (pH) merupakan parameter yang penting dalam pembuatan sabun, karena erat kaitannya dengan kelayakan sabun saat digunakan. Data yang diperoleh pada percobaan diketahui bahwa berat NaOH yang ditambahkan berbandinng lurus dengan pH, semakin banyak NaOH yang ditambahkan maka nilai pH semakin tinggi. Hal tersebut merupakan pengaruh dari NaOH yang bersifat basa. Berdasarkan SII rentang pH yang dianjurkan untuk sabun yaitu 8 – 11. Jadi Variasi konsentrasi NaOH yang dilakukan memberikan dampak yang signifkan terhadap karakteristik sabun. Selain itu, variasi pengulangan penggorengan berpengaruh secara signifikan pada kadar air dan kadar asam lemak bebas.

“Sabun dari limbah minyak goreng telah berhasil dibuat dan di lakukan uji standar karakteristik sabun. Penelitian ini dapat di kembangkan menjadi sabun organik oleh masyarakat guna mengurangi limbah minyak goreng, membuka peluang usaha baru dan sebagai upaya untuk meningkatkkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan lingkungan,” tambahnya.  (witono)

submitted by humas