KRMT ROY SURYO NOTODIPROJO

21
Aug
2013

ORASI ILMIAH MENPORA PADA OSPEK MABA UNY 2013

Arti Karakter, adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain.

Istilah karakter sering digunakan dalam pembicaraan sehari-hari, namun teramat jarang didefinisikan. Dalam bahasa Yunani, karakter diterjemahkan dari kata yang berarti “sesuatu yang tidak berakhir, sifatnya abadi, atau tanda yang tidak mungkin diubah”. Sifat dari karakter akan terbawa dalam perilaku sehari-hari, melekat ke dalam tindakan atau aksi dari orang yang memilikinya. Sehingga dengan sifatnya yang demikian, karakter dapat didefinisikan sebagai “nilai dalam aksi/tindakan”. Sebagaimana kita melihat karakter dari seseorang atau sekelompok orang, kita sering menunjuk karakter pada sekumpulan nilai inti (core values)  yang secara konsisten selalu terdapat pada “tindakan”. Sehingga kita pun akan dengan mudah menyatakan bahwa seseorang atau sekelompok orang tidak akan kita katakan memiliki karakter tertentu jika memperlihatkan perilaku yang tidak khusus, tidak terduga, atau hanya lebih berupa hasil keberuntungan semata-mata. Untuk bisa disebut berkarakter, suatu pikiran atau tindakan harus bersifat khusus, disengaja, konsisten, bebas dan secara logis dipilih dalam dan untuk menghadapi suatu kondisi atau suatu persoalan.

Karakter adalah suatu manifestasi nyata dari beberapa proses yang saling terkait, sebagai perwujudan dari kejujuran, respek, tahan banting, atau keberanian, yang merupakan hasil dari satu atau banyak proses psikologis, lebih sering digolongkan ke dalam tiga kategori umum, yaitu kognisi, afeksi, dan perilaku (psikomotor).

Sementara ketiga proses ini sering dipercayai sebagai aspek yang terpisah, atau dapat dipisahkan, sebenarnya ketiganya saling terkait satu sama lain, dan hampir-hampir tidak mungkin dipisahkan.

Dalam dunia olahraga, banyak ahli yang membagi karakter ini ke dalam dua jenis karakter:

      Pertama disebut karakter perfoma (performance character) yang berarti dimilikinya pengetahuan, kebiasaan, dan kecenderungan untuk sukses dalam olahraga, sekolah, tempat kerja, dan wilayah kinerja lainnya, yang  membutuhkan kerja keras, ketabahan, disiplin diri, dan daya juang tinggi. Untuk memperoleh karakter performa ini diperlukan upaya:

  1. Mengembangkan etos kerja yang kuat dan komitmen internal untuk selalu melakukan yang terbaik;
  2. Mengembangkan keterampilan untuk mewujudkan keyakinan diri, tahan banting, dan tujuan yang realistis; dan
  3. Mengembangkan motivasi berprestasi yang sehat.

      Kedua adalah karakter moral (moral character), yang menunjuk pada keunggulan moral yang tidak terlihat, seperti integritas, kejujuran, kepedulian pada orang lain serta pada keadilan. Karakter moral ini yang mengatur nafsu atau ambisi pribadi kita dengan menyeimbangkannya dengan issu keadilan dan hak orang lain. Untuk memperoleh karakter moral ini diperlukan upaya:

  1. Mengembangkan identitas moral, di mana seseorang melihat moral dirinya sebagai bagian penting dari perilakunya (sehingga dia akan merasa bersalah jika melakukan sesuatu yang dia rasa tidak pada tempatnya) dan memiliki kesadaran untuk menolak tekanan sosial manakala harus bertindak di luar yang dipercayainya bertentangan dengan kepercayaannya;
  2. Mengembangkan kemampuan alasan moral (moral reasoning) dan pemecahan masalah, bersamaan dengan dimilikinya keterampilan yang diperlukan untuk menjadi warga Negara sipemokratis; dan
  3. Mengembangkan gaya hidup dan tujuan hidup yang sehat, di samping dimilikinya kontrol diri dan disiplin diri untuk tetap kommit pada tujuan-tujuan yang ditetapkan.

Pengembangan karakter memerlukan waktu yang lama dan kontinyu. Merupakan bentukan sejak anak masih berada dalam the golden age of growth, atau yang sering kita sebut balita (di bawah lima tahun), dan terus diperkuat olah pengalaman dan pendidikan serta pengajaran di usia-usia berikutnya.

  • Pendidikan karakter sebernarnya harus dimulai di rumah, dan peletak dasarnya adalah orang tua. Meskipun orang tua bukan ahli pendidikan karakter, perilaku dan tindakan orang tua sedikit banyak akan membentuk karakter anak-anaknya. Melalui apa yang dilihat dan didengarnya, anak membentuk nilai dan kepercayaan  yang lambat laun mengkristal menjadi ciri kepribadiannya, serta memperbesar kecenderungan dan atau potensi, akan menjadi apa karakternya kelak di kemudian hari.
  • Kemudian potensi dan predisposisi sikap anak tadi dikembangkan juga di sekolah, bahkan juga tentu dipengaruhi oleh warna perilaku teman-teman sebayanya. Di sinilah pentingnya guru menguasai dan menyadari peranannya yang amat kuat menentukan kepribadian dan karakter seorang anak melalui model pembelajaran, ucapan, hingga perilakunya sehari-hari.
  • Kritik kepada para ahli pendidikan, yaitu dalam hal kecederungannya dalam memperlakukan teori belajar yang sudah dikembangkan oleh para ahli psikologi pembelajaran. Kita semua mengenal teori belajar behaviorism, kemudian teori ini seolah digantikan oleh teori belajar yang lebih baru, yaitu teori cognitivism. Belum lagi teori ini diterapkan dengan baik, muncuk lagi teori belajar dari bandura yang disebut teori belajar sosial (social learning theory). Belakangan, para guru pun diperkenalkan lagi dengan teori belajar konstruktivisme.
  • Ada kecenderungan para guru seolah-olah relatif mengesampingkan teori belajar yang satu dan memilih teori belajar yang lain. Dengan pernyataan lain, guru menganggap bahwa teori belajar yang lama sudah dianggap usang (obsolete) dan mendewa-dewakan teori belajar yang lebih baru.
  • Padahal kenyataannya, semua teori belajar tersebut sampai sekarang masih tetap berlaku, karena memang sesuai dengan fitrah dan cara kita manusia pada umumnya belajar dan mendewasa sebagai manusia utuh.
  • Khususnya dalam pendidikan dan pengembangan karakter, amatlah perlu guru menyadari bahwa semua teori belajar yang disebutkan diatas tetap dipergunakan secara lengkap, karena sifatnya saling melengkapi.
  • Teori behaviorisme, misalnya, mengerjakan ketekunan, keterulangan, keterlatihan, dan perasaan berhasil oleh adanya reward and punishment, dsb.
  • Teori kognitivisme dan konstruktivisme mengajarkan bagaimana pentingnya penyadaran secara kognitif tentang nilai, etika, dan sikap yang terintegrasi antara ucapan dan tindakan, sehingga mengkristal dalam bentuk internalisasi sadar dan terpahami.
  • Dan yang tidak kalah pentingnya, teori pembelajaran sosial mewajibkan adanya teladan, baik di rumah, di sekolah, dan di masyarakat.
  • Guru harus menyadari bahwa upaya mengembangkan karakter anak perlu dioptimalkan upaya-upaya yang mendorong anak menerapkan nilai dan tindakan menjadi kebiasaan yang baik, perlu juga disediakan waktu dan tempat agar anak mendiskusikan dan menilai tentang perilaku-perilaku yang baik dan tidak baik, dan itu semua kemudian diperkuat oleh contoh dari semua elemen masyarakat sekolah terutama guru. Contoh kejujuran, contoh ketekunan, contoh kebersihan, contoh perilaku sehat, contoh budaya akademik yang sehat dan ilmiah, dsb.
  • Kepemimpinan nasional memerlukan orang-orang atau pemimpin yang berkarakter. Pemimpin nasional adalah orang yang memiliki niat tulus untuk mengubah kondisi masyarakat bangsa menjadi lebih baik dari kondisi sebelumnya. Untuk kondisi Indonesia dewasa ini yang masih selalu ketinggalan kemajuannya dalam banya bidang dari bangsa lain, tentu diperlukan kehadiran dari tokoh-tokoh nasional yang berkarakter pembaharu dan murni untuk kepentingan bangsa.
  • Untuk hadirnya tokoh-tokoh yang akan mengisi kepemimpinan nasional di masa depan tentu diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dalam membekali mereka dengan karakter yang positif. Karakter apa saja? Tentu karakter kepemimpinan yang kuat, visioner, tanpa pamrih pribadi, serta berkeinginan tulus mendorong bangsa Indonesia maju sejajar bahkan mengungguli kemajuan bangsa-bangsa lainnya, baik secara ekonomi, kesejahteraan, serta kualitas moral yang baik pula.
  • Perhatikan tokoh-tokoh nasional yang kita akui sebagai pemimpin nasiona. Kita mengenal Sudirman, Sukarno, Bung Hatta, Syahrir, Buaya Hamka, bahkan figur sejarah yang lebih lama: Pangeran Antasari, Pangeran Diponegoro, Hamengkubuwono IX, Tan Malaka, atau Para Wali. Apa saja melekat pada mereka; tak lain adalah hadirnya karakter pada diri mereka. Mereka memiliki apa saja yang sering disebut sebagai rela berjuang tanpa pamrih, tidak memikirkan diri sendiri, nasionalisme tinggi, visi yang bersih, dll.
  • Karakter adalah gabungan kualitas moral, ahlak, serta kebijakan yang bergabung dengan kecerdasan, perhitungan matang, serta pengabdian keputusan yang tepat. Keberanian saja tidaklah mencukupi. Keberanian tanpa perhitungan adalah kekonyolan dan kebodohan. Demikian pula sebaliknya, perhitungan dan pemikiran tanpa didukung keberanian mewujudkannya, hanya akan berwujud sebagai niat saja, yang tidak pernah teramalkan.
  • Perlu pula difahami, bahwa ospek yang pelaksanaannya hanya sebentar tidak mungkin membekaskan perubahan apalagi membentuk karakter. Apalagi jika ospeknya masih diwarnai oleh berbagai aksi kekerasan dan balas dendam senior kepada junior.
  • Mungkin ada senior yang menganggap bahwa pembentukan karakter harus dilakukan dengan kekasaran dan kekerasan. Itu sih model lama. Itu semua merupakan warisan dari model pendidikan militer yang diadopsi oleh pendidikan akademis.
  • Bagaimana anda sebagai orang LPTK memiliki peran dalam pendidikan karakter. Ketahui model dan pendekatan  pengajaran yang tepat untuk pembentukan karakter. UNY dan LPTK-LPTK lainnya memiliki tanggung jawab yang besar dalam hal bagaimana dunia pendidikan di Indonesia mampu menjawab tegas dalam mendidik manusia Indonesia menjadi bangsa yang berkarakter.
  • Jangan sampai sindiran bagi guru di Amerika di jaman tahun 70-an masih berlaku di kita. Dulu, di Amerika sana, ada sindiran untuk para guru yang sering dinyatakan begini:

        “the first five years you will learn what you teach. Then you spend 30 years trying ti figure out how to teach it”.'

 

Menteri Pemuda dan Olahraga,

 

KRMT Roy Suryo Notodiprojo

submitted by humas