Prof. Dr. Dimyati, M.Si.

8
Feb
2021
KEDUDUKAN LATIHAN KETERAMPILAN MENTAL DALAM PSIKOLOGI OLAHRAGA DAN URGENSINYA BAGI PELATIH ATLET USIA MUDA DI INDONESIA
Mengawali tulisan Latihan Keterampilan Mental (LKM) bagi atlet dalam konteks pembinaan olahraga usia muda sebagaimana yang menjadi tema tulisan ini, perlu kiranya terlebih dahulu saya sampaikan tentang kedudukan dan kajian LKM dalam Psikologi Olahraga di Indonesia. Karena kaitan antara LKM dan pembinaan prestasi atlet usia muda tidak bisa dilepaskan dari peran dan kedudukan Psikologi Olahraga sebagai bagian dari Ilmu Keolahragaan yang telah nyata memberikan kontribusi dalam keberhasilan pembinaan olahraga.
 
Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional secara eksplisit menegaskan bahwa: “olahraga prestasi adalah olahraga yang membina dan mengembangkan atlet secara terencana, berjenjang dan berkelanjutan melalui kompetisi untuk mencapai prestasi dengan dukungan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Keolahragaan”. Tersirat dalam batasan itu bahwa olahraga prestasi merupakan sebuah proses dari suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen. Salah satu komponen untuk mewujudkan pembinaan prestasi adalah membina olahraga usia muda dengan dukungan Ilmu Keolahragaan. Ilmu Keolahrgaan sebagai ilmu yang berdiri sendiri, pada hakikatnya bukanlah suatu ilmu yang mono dicipline, ia bukan hanya kumpulan, tetapi sebuah algamasi dari berbagai sub-disiplin ilmu. Secara epistimologi isi pengetahuan dalam Ilmu Keolahragaan hakikatnya merupakan batang tubuh (body of knowledge) ilmu keolahragaan sendiri (Mutohir, 2013).
 
Ada tujuh bidang teori utama ilmu keolahragaan, yaitu Psikologi Olahraga, Kesehatan Olahraga, Biomekanika Olahraga, Pedagogi Olahraga, Sosiologi Olahraga, Sejarah Olahraga, dan Filsafat Olahraga. Kajian dan penerapan ilmu keolahragaan tersebut di dunia internasional telah memberikan kontribusi  nyata pada pembinaan dan peningkatan prestasi atlet dan mempromosikan pemahaman tentang masalah universal dalam olahraga dan kesehatan. Crocker (2016), menegaskan untuk menciptakan prestasi olahraga harus memahami dan melibatkan banyak subdisiplin dalam ilmu olahraga termasuk Psikologi Olahraga.
 
Sebagai sebuah ilmu, Psikologi Olahraga merupakan bidang yang relatif muda dibandingkan dengan bidang ilmu yang lain (Haag, 1994; Chia & Chiang, 2010). Psikologi Olahraga di Indonesia merupakan cabang psikologi yang baru, begitu juga di dunia internasional (Singgih, 2008). Kajian dan arti penting Psikologi Olahraga bagi pembinaan olahraga prestasi baru eksis tahun 1965 bersamaan dengan kongres pertama para pakar Psikologi Olahraga dunia yang diselenggarakan di Roma, Italia. Kongres tersebut telah melahirkan International Society of Sport Psychology (ISSP) suatun wadah pertama organisasi profesional yang ditujukkan untuk mengembangkan dan mempromosikan Psikologi Olahraga sebagai disiplin ilmu, kongres tersebut juga telah mendeklarasikan bahwa “sport need psychology” (Weinberg & Gould, 2015).
 
Sejak deklarasi itu kajian Psikologi Olahraga khususnya di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa semakin meningkat, dan telah tumbuh kesadaran di kalangan para pembina dan pelatih, bahwa pembinaan olahraga tidak mungkin berkembang optimal tanpa melibatkan Psikologi Olahraga. Papaioannou & Hackfort (2014), menyatakan, konsultan psikologi olahraga di China, Amerika Serikat, dan Brasil memberikan layanan yang komprehensif kepada para atlet nasional mereka dalam persiapan Olympiade. Disiplin ilmu terapan ini di dunia internasional merupakan komponen penting dari Ilmu Keolahragaan (Crocker, 2016), serta diakui secara luas sebagai satu disiplin Ilmu Keolahragaan yang digunakan para profesional di seluruh dunia dalam bentuk LKM terstandar yang telah memenuhi ketentuan kompetensi profesional (Tenenbaum et al., 2003).
 
Latihan keterampilan mental menjadi fokus utama untuk penelitian dan praktik dalam Psikologi Olahraga. Beberapa peristiwa menunjukkan profesionalisasi Psikologi Olahraga telah bergeser dari disiplin penelitian akademis ke bidang profesional interdisipliner yang menawarkan layanan kepada stakeholders (Tenenbaum & Eklund, 2007). Metode dan teknik yang merupakan elemen standar LKM awalnya berasal dari berbagai sumber, sebagian besar dalam psikologi mainstreams. Area ini diantaranya modifikasi perilaku, teori dan terapi kognitif, terapi emosi rasional, kontrol perhatian (Weinberg, & Gould, 2015). LKM merupakan bagian dari pengetahuan disiplin Psikologi Olahraga yang dapat diterapkan sebagai sebuah intervensi pelatihan dalam olahraga dan latihan (Andersen, 2005).
 
Dewasa ini semakin banyak penelitian di negara-negara maju untuk menyelidiki pengaruh LKM pada atlet usia muda (Fortes, et al., 2018), dan telah tumbuh kesadaran diantara mereka bahwa atlet muda dianggap basis kajian yang perlu dikembangkan secara khusus oleh praktisi psikolog olahraga. Di  sisi lain terdapat keterbatasan penelitian dan bukti empirik bahwa penyusunan program LKM telah berdasar pada konsep Psikologi Olahraga yang benar, serta kemampuan pelatih menggunakan LKM dalam meningkatkan kinerja dan pengembangan pribadi atlet usia muda juga masih terbatas (Henriksen et al., 2014), ke depan perlu mencari cara terbaik untuk menyesuaikan program LKM dengan kebutuhan atlet muda tersebut dan dalam jangka panjang perlu ada evaluasi yang tepat (Ong & Griva, 2017).
 
Masih banyak keterbatasan kajian aspek LKM untuk atlet usia muda, pembahasan tentang LKM dan pembinaan olahraga usia muda didekati dari sudut Ilmu Keolahragaan tidak bisa lepas dari kajian Psikologi Olahraga. Psikologi Olahraga di atas semua itu merupakan sebuah ilmu yang mengkaji perilaku individu manusia dalam konteks olahraga. Kajian perilaku manusia  dalam konteks olahraga adalah persoalan kompleks yang  penting. Psikologi Olahraga merupakan kajian yang kompleks karena dalam berbagai literatur mutahir Psikologi Olahraga itu telah membagi ke dalam kajian cukup luas, seperti aspek pribadi, lingkungan, dinamika tim, peningkatan prestasi, kepemimpinan olahraga, peningkatan kualitas kesehatan, perkembangan, kebahagiaan hidup, perkembangan karakter, tumbuh kembang anak, ginetika dan kinerja gerak, ketangguhan mental, otak dan respon latihan, kesadaran dalam olahraga, kebiasaan dan perilaku berolahraga (Tenenbaum & Eklund, 2020).
 
Psikologi Olahraga penting, karena aspek mental merupakan faktor yang menentukan keberhasilan dalam pembinaan olahraga dan kinerja atlet. Akan tetapi fakta empiris dalam tataran praktis sangat sering kita saksikan atlet usia muda mengaitkan penampilan buruk mereka dengan faktor mental seperti kehilangan konsentrasi akibat berada dibawah tekanan. Kesalahan umum yang dilakukan oleh pelatih untuk memperbaiki kinerja buruk itu dengan menambah jam latihan fisik. Ini merupakan sebuah refleksi para pelatih masih belum memahami psikologi olahraga sebagai sebuah ilmu terapan.
 
Paparan sebagaimana tersebut di atas memberi pengetahuan kepada kita bahwa untuk memahami perilaku manusia dalam konteks pembinaan olahraga usia muda, secara mental harus dilihat dari berbagai dimensi. LKM merupakan bidang kajian Psikologi Olahraga yang bersifat teknis namun sangat strategis untuk meningkatkan kinerja atlet. Pemahaman yang komprehensif tentang Psikologi Olahraga akan mendasari pemahaman dan arti penting bagi para pelatih dalam menerapkan LKM  untuk pembinaan dan meningkatkan kinerja atlet usia muda.
 
Penting bagi para pelatih untuk memahami bagaimana pengetahuan LKM yang diperoleh secara ilmiah hadir serta mampu memaknai cara kerjanya. LKM bagian penting dari Psikologi Olahraga sebagai sebuah ilmu, dan merupakan sesuatu yang dinamis yang terus menerus membutuhkan pengkajian. LKM dalam konteks Psikologi Olahraga juga bukan sekadar akumulasi fakta yang ditemukan melalui pengamatan rinci, tetapi lebih dari itu merupakan proses pembelajaran tentang pemahaman perilaku manusia dalam konteks olahraga yang diungkap melalui penyaringan pengetahuan yang sistematis, terkontrol,  dan empiris, yang diperoleh melalui pengalaman empirik dan kajian teoretik.
 
Peranan dan arti penting penerapan LKM agar dapat berjalan dengan tepat harus dikaitkan dalam kedudukan Psikologi Olahraga sebagai ilmu pengetahuan, yang setidaknya mencakup tiga hal. (1) Eksplanatif, yaitu menjelaskan dan memahami gejala tingkah laku manusia berolahraga karena tindakan dan perbuatan yang tampak pada dasarnya tidak dapat lepas dari sikap yang tidak tampak yang didorong oleh banyak faktor mental lainnya seperti sifat, motif, pemikiran, perasaan, pengalaman, dan situasi. (2) Prediksi, yaitu meramalkan kemungkinan yang dapat terjadi dalam olahraga sehingga lebih siap menghadapi hal-hal yang mungkin terjadi. Prediksi yang tepat didasarkan atas pengalaman empirik dan analisis deduktif dengan menerapkan teori-teori yang tepat, dan untuk prediksi yang tepat perlu ditunjang dengan pengetahuan tentang tes, pengukuran, dan evaluasi. (3) Mengontrol, yaitu mengendalikan gejala-gejala perilaku dalam olahraga yang dapat menjurus ke hal-hal yang tidak menguntungkan perkembangan atlet. Untuk mengontrol gejala perilaku yang dapat berakibat negatif perlu ditunjang data yang akurat, dan penguasaan teknik treatment yang tepat. Penerapan LKM dalam pandangan Psikologi Olahraga pada atlet usia muda, tentunya memiliki tujuan untuk mendeskripsikan, menjelaskan, memprediksi, dan memungkinkan kontrol perilaku yang bermuara pada kebahagian dan peningkatan kinerja.
 
Urgensi LKM bagi Peningkatan Kinerja Atlet Usia Muda
Penampilan kinerja puncak para atlet sangat didukung oleh keterampilan mental yang sangat berenergi namun tetap rileks secara fisik dan mental. Dalam kondisi ini atlet benar-benar fokus pada aktivitas dan dapat menjalankan tugas gerak dengan mudah secara otomatis. Di sisi lain kinerja buruk sering dikaitkan  dengan kondisi mental yang buruk seperti kurang gairah, kurang percaya diri, kehilangan konsentrasi. Keadaan ini terjadi biasanya pada atlet dalam kondisi penuh tekanan. Tekanan  tinggi akan mengakibatkan kesulitan yang lebih besar sebagai dampaknya terjadi kekakuan perhatian, sukar untuk belajar, mengingat dan melaksanakan perilaku terampil. Fenomena negatif ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam  pembinaan  atlet usia muda.
 
Sesungguhnya sudah ada pemahaman pada pelatih dan atlet bahwa keterampilan fisik perlu dilatih secara teratur dan  disempurnakan melalui ribuan pengulangan. Serupa dengan keterampilan fisik, keterampilan mental juga harus dipraktikkan secara sistematis. Pelatihan fisik tidak cukup membuat atlet unggul dalam sebuah kompetisi, jika elemen kunci lainnya yaitu mental atlet tidak dipersiapkan dengan sempurna sesuai dengan kebutahan dan tantangannya (Massimiliano, 2019).
Ketangguhan mental merupakan sebuah keterampilan mental yang harus dimiliki atlet. Atlet yang memiliki ketahanan mental berarti atlet tersebut memiliki keterampilan mental yang baik untuk menghadapi berbagai tekanan. Ketahanan mental bukanlah sesuatu yang diwariskan, tetapi aspek mental akan berkembang melalui pengalaman yang harus dipelajari. Vealey (1988), menegaskan LKM sebagaimana layaknya latihan fisik, harus diajarkan dan dipelajari. LKM yang diimplementasikan secara paralel dengan program pelatihan fisik, memerlukan tingkat keterlibatan yang tinggi oleh atlet untuk mencapai kinerja optimal (Dosil et al., 2016).
 
Di beberapa negara Asia yang unggul dalam prestasi olah- raganya seperti Jepang, China, dan Korea Selatan untuk persiapan mengikuti event-event besar seperti Olympiade dan Asian  Games, telah mengkaji dan menerapkan LKM sebagai bagian yang tak terpisahkan dari aplikasi Psikologi Olahraga dalam pembinaan olahraganya. Tidak demikian halnya perkembangan Psikologi Olahraga dibelahan bumi lainnya seperti di Afrika, Amerika Tengah, dan Indonesia berjalan lambat (Crocker, 2016; Singgih, 2008). Di Indonesia, pentingnya aspek Psikologi Olahraga belum disadari oleh pembina dan pelatih olahraga. Mereka lebih dominan memberikan latihan fisik dan teknik, melupakan LKM (James & Apta, 2017).
 
Padahal kita mengetahui bahwa dalam proses pembinaan atlet usia muda secara mental banyak mengalami masalah. Di antaranya tekanan selama keikutsertaan mereka dalam latihan dan kompetisi. Karenanya selama proses pembinaan usia muda memerlukan pengembangan aspek keterampilan mental. LKM yang dilakukan secara konsisten dan sistematis selain dapat meningkatan kinerja juga dapat meningkatkan rasa senang para atlet usia muda (Weinberg & Gould, 2015). Program LKM yang dilakukan terhadap pemain tenis remaja dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam mengatur fokus dan kontrol emosional (Dohme et al., 2020). Begitu juga penelitian pada atlet taekwondo yang dipersiapkan terjun di Olympiade meyimpulkan bahwa LKM dapat meningkatkan kinerja (Lim, & O’Sullivan, 2016). Atas dasar inilah dewasa ini pelatih di negara-negara maju semakin menyadari arti penting Psikologi Olahraga dan perannya dalam membantu atlet untuk mempelajari cara mengelola aspek mental dalam permainan atlet usia muda, juga lebih dari itu LKM dapat menjadi alat yang ampuh untuk meningkatkan kemampuan atlet usia muda. Jika salah satu prinsip filosofi kepelatihan adalah agar atlet menikmati pengalaman dan memiliki mental yang baik, maka LKM dapat memfasilitasi perkembangan pribadi atlet (Burton & Raedeke, 2008).
 
Perkembangan Atlet Usia Muda dan LKM
Diberbagai negara, seperti di Amerika Serikat, diperkirakan ada 48 juta orang anak muda berusia antara 5 dan 18 tahun ambil bagian dalam olahraga. Di Inggris Raya sekitar 39% anak-anak usia 5–16 tahun aktif berolahraga. Lebih dari 5 juta waraga Jerman berusia antara 7 dan 14 tahun telah memulai pelatihan formal melalui klub-klub sepakbola. Program serupa dapat ditemukan di sebagian besar negara lain, bahkan di negara yang secara ekonomi miskin dan negara berkembang. Di Indonesia berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang dirilis 20 November 2019 menyebutkan bahwa anak usia 11-17 tahun aktif berolahraga kurang 20%, sedangkan angka partisipasi olahraga anak usia 10 tahuh ke atas mencapai 27, 61 persen (LeUnes, 2011; Quick et al., 2010; WHO, 2019; BPS, 2015). Dari data ini membuktikan bahwa secara global olahraga telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan anak usia muda.
 
Umumnya pada anak, puncak partisipasi olahraga terjadi antara usia 10 tahun dan 13 tahun dan kemudian terus menurun hingga usia 18 tahun. Usia 10 sampai 13 tahun ini merupakan masa kritis bagi anak-anak dan memiliki konsekuensi penting pada harga diri dan perkembangan sosial mereka (Santrok, 2012).
Hurlock (2003), membagi remaja menjadi  3  kelompok usia tahap perkembangan, early adolescence (remaja awal) dengan rentang usia 12 sampai 15 tahun, middle adoelescence (remaja pertengahan), dengan rentang usia 15 sampai 18 tahun dan late adolescence (remaja akhir) berkisar pada usia 18 sampai 21 tahun. Atlet muda remaja awal diklasifikasikan sebagai usia muda awal dalam rentang usia 12 sampai 15 tahun. Secara fisik, atlet mengalami permulaan masa pubertas, yang melibatkan pertumbuhan yang cepat, pematangan seksual, dan bentuk tubuh serta perubahan komposisi (Horn & Butt, 2014). Akibatnya, performa keterampilan olahraga para atlet menjadi lebih canggung dan tidak terkoordinasi saat mereka mengatur perubahan pola gerak tubuhnya. Secara kognitif, atlet lebih mampu merefleksikan diri dan mulai membentuk identitas diri (Horn, 2004). Mereka mengembangkan kepercayaan diri, tetapi dapat dipengaruhi oleh peningkatan keterlibatan sosial dan hasil perbandingan dengan teman sebaya. Gejolak emosional mungkin lebih sering terjadi karena emosi kompleks berkembang selama masa pubertas.
 
Di sisi lain atlet remaja awal itu mulai menganggap persetujuan dari teman sebaya lebih penting daripada persetujuan orang tua atau orang dewasa lainnya, mereka mulai mengembangkan kemampuan untuk menilai kompetensi mereka sendiri (Vealey & Chase, 2016). Pelatih harus mengenali perubahan perkembangan yang terkait dengan pubertas, dan pentingnya bekerja dengan kondisi mereka, daripada melawan perubahan tersebut. 
 
Pandemi dan gejolak emosi sering kali merupakan hasil sampingan dari peningkatan kesadaran diri dan perkembangan emosi. Dan, atlet usia remaja awal ini lebih sadar akan pikiran mereka sendiri dan pikiran orang lain, mereka mungkin lebih sadar diri dan berjuang untuk tampil. Pelatih memiliki tanggung jawab untuk membantu atlet pada rentang usia ini belajar mengelola emosi mereka dari pada menghukum yang akan terjadi pemberontakan dalam pengelolaan olahraganya.
Atlet usia remaja pertengahan diklasifikasikan berada pada rentang usia 15 sampai 18 tahun. Secara fisik, perubahan yang dibawa masa pubertas mulai melambat.
 
Namun, atlet muda remaja pertengan ini belum mencapai kedewasaan, perubahan bentuk dan komposisi tubuh cenderung berlanjut (Horn & Butt, 2014). Secara kognitif, atlet menjadi pemikir multidimensi, yang dapat mempertimbangkan berbagai sumber informasi. Pemikiran dan perilaku atlet pada usia ini terkadang tidak konsisten. Selain itu, atlet muda pada rentang usia ini memiliki pemahaman yang lebih besar tentang berbagai identitas yang mereka pegang dan deskripsi dirinya lebih akurat dan menunjukkan lebih banyak pengendalian diri (Guerra & Bradshaw, 2008). Dengan memudarnya pengaruh pubertas pada atlet rentang usia ini, ledakan emosi yang dialami selama awal masa muda menurun dan mereka lebih mampu untuk memahami dan mengekspresikan perasaannya. Dengan demikian, atlet usia remaja pertengahan ini cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman sebaya dan terlibat dalam hubungan yang lebih dewasa dengan teman sebaya. Pelatih yang menangani usia remaja pertengahan akan mengenali atlet yang sedang berkembang terkadang tampak serupa dengan orang dewasa. Perlu diingat bahwa atlet usia remaja pertengahan merupakan atlet muda yang sedang berkembang secara fisik, sosial, dan mental. Pelatih perlu mempertimbangkan untuk membantu mereka memahami dan mengatur pikiran serta perasaannya yang semakin kompleks dalam olah-raga.
 
Urgensi Peran Pelatih dalam Menerapkan LKM
International Council for Coaching Excellence (ICCE), sebuah organisasi nirlaba internasional yang memiliki misi mengembangkan pembinaan olahraga secara global, menyatakan ada jutaan pelatih olahraga di hampir 200 negara (ICCE, 2018). Pelatih memiliki pengaruh yang luar biasa dan berada dalam posisi  untuk membantu atlet usia muda mengembangkan keterampilan yang diperlukan dalam situasi penuh tekanan yang dialami mereka (Zakrajsek et al., 2017), secara tradisional, program pelatihan dan sertifikasi pembinaan dan pendidikan formal profesi pelatih lebih memfokuskan perhatian pada peningkatan kemampuan kinerja fisik daripada meningkatkan kinerja mental pada  atlet usia muda (Gould et al., 2006). Agar dapat menjelaskan mengapa pelatih atlet usia muda cenderung memfokuskan pada pengem- bangan keterampilan fisik, karena pengetahuan mereka tentang LKM tidak memadai padahal pengetahuan pelatihan fisik saja tidak cukup untuk menjadi pelatih yang komprehensif (Côté & Gilbert, 2009).
 
Pelatih atlet usia muda tidak diharapkan menjadi ahli dalam melatih keterampilan mental, akan tetapi mereka harus mempertimbangkan perkembangan atlet secara keseluruhan saat merancang, menerapkan, dan mengevaluasi praktik latihan dan kompetisi (ICCE, 2018). Pelatih memiliki kedudukan strategis untuk membantu atlet usia muda belajar bagaimana mengatur pikiran, emosi, dan perilaku dalam pengalaman olahraga mereka (McGuire, 2012). Atlet usia muda selama proses latihan penting untuk dibentuk dan ditingkatkan aspek psikogisnya melalui LKM yang diterapkan dalam sesi latihan, yang diimplementasikan secara paralel dengan program pelatihan fisik (Dosil et al., 2016).
 
Di Indonesia dengan meningkatnya partisipasi olahraga dalam program mandiri, klub-klub olahraga, dan klub-klub olahraga yang didanai dan dikelola oleh perusahaan-perusahaan besar maka pembinaan yang berkualitas sangat penting untuk memastikan pengaruh positif yang diperoleh dari partisipasi olahraga usia muda, dan ada kebutuhan besar untuk lebih memahami optimalisasi peran pelatih yang menangani atlet usia muda. Pengembangan karakter, kepemimpinan, sikap dan perilaku sportif, tidak terjadi secara ajaib melalui partisipasi olahraga semata. Manfaat nilai-nilai positif dari olahraga tersebut keberhasilannya sangat tergantung atas peran pelatih yang kompeten serta menjadi role model yang dapat memberi pengalaman dan contoh positif pada anak-anak (Weinberg & Gould, 2015). Begitu juga dalam menerapkan LKM pada atlet usia muda keberhasilannya sangat ditentukan oleh peran pelatih.
 
Urgensi Pelatih Memahami Mental Atlet Usia Muda
Dewasa ini hampir terjadi di seluruh dunia bahwa pada program olahraga atlet usia muda seperti di pusat-pusat pelatihan olahraga, banyak diantara mereka yang terpapar stress oleh situasi olahraga dan jumlahnya semakin meningkat (Dohme et al., 2017). Seiring dengan perjalanan waktu olahraga telah berubah menjadi lingkungan yang membuat stress dan menghilangkan banyak kesenangan bagi anak usia muda (LeUnes, 2011). Ada tanggung jawab pada pelatih atlet usia muda untuk mempelajari dan membantu meningkatkan keterampilan mentalnya agar mereka mampu mengatasi stress dan dapat meningkatkan perkembangan fisik, sosial, dan mentalnya. Para pakar bidang Psikologi Olahraga menyarankan agar atlet usia muda dengan keterampilan dan karakteristik mental yang dimilikinya perlu difasilitasi dan dikembangkan dengan baik agar stress dan masalah mental lain- nya yang berpotensi terjadinya drop out dini juga dapat dihindari (Henriksen et al., 2010)
 
Sebuah studi mendalam terhadap 50 anak dengan rentang usia 10 sampai 18 tahun yang drop out dari aktivitas olahraga, menyebutkan penyebabnya karena adanya faktor negatif seperti ketidaksukaan pada pelatih, kegagalan dalam menguasai teknik olahraga, aktivitas olahraga tidak menggembirakan, dan adanya tekanan berlebihan. Hasil penelitian juga menunjukkan, pelatih dan teman satu tim adalah dua kelompok paling berpengaruh pada anak usia muda untuk mengambil keputusan drop out dini dari olahraga (Weinberg & Gould, 2015). Pelatih dan pemimpin olahraga remaja lainnya harus peka terhadap masalah ini saat bekerja dengan atlet usia muda.
 
Dalam banyak kasus, pelatih atlet usia muda telah me- mainkan peran besar dalam membimbing mereka, tetapi pelatih kurang memahami kebutuhan anak-anak. Selain itu, mereka sering tidak tahu bagaimana harus berurusan dengan orang tua pemain mereka (LeUnes, 2011). Kondisi ini tidak menguntung- kan karena keterampilan mental yang berkembang juga aspek mental lainnya seperti disposisi sifat hanya dapat dioptimalkan melalui LKM yang diberikan sejak usia muda agar potensi pribadi atlet itu berkembang baik (Dohme et al., 2017).
 
Semakin jelas bahwa kedudukan Psikologi Olahraga sebagai sebuah ilmu keolahragaan dan pembinaan aspek mental melalui LKM pada atlet usia muda adalah suatu keniscayaan agar potensi mental mereka dapat berkembang dengan baik, sehingga mampu mengatasi berbagai stress dan masalah mental selama proses pembinaan menuju atlet yang berhasil.
 
Pengalaman saya selama empat tahun terakhir di lapangan dalam rangka menyebarluaskan pengetahuan tentang program LKM pada guru-guru dan sekaligus pelatih ekstra kurikuler olahraga di lima kabupaten/kota di DIY, pertanyaan tentang kapan dan aspek mental apa yang tepat diberikan pada anak-anak selalu muncul. Ini suatu indikator kuat bahwa para pelatih usia muda belum memahami tentang bagaimana penerapan LKM pada anak usia muda. Tremayne & Newbery (2005) pun menyampaikan, dalam diskusi tentang isu perkembangan mental anak melalui LKM kajiannya masih sangat terbatas. Sehingga belum dipahami dengan jelas aspek mental apa yang dapat ditingkatkan melalui LKM dan pada rentang usia berapa yang tepat anak-anak mulai bisa menerima LKM. Dalam konteks ini teori perkembangan kognitif dari Piaget (1958) dapat dijadikan salah satu rujukkan utama untuk menentukan kapan anak-anak sesuai dengan perkembangannya siap menerima LKM.
 
Piaget, membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi semakin canggih seiring pertambahan usia. Berdasar teori dari Piaget ini anak usia 12 tahun dalam tahap operasional formal, yaitu memiliki kemampuan berpikir abstrak, bernalar logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia (Piaget,1958). Sehingga usia 12 tahun adalah tepat untuk memulai menerima LKM karena telah memiliki kemampuan berpikir abstrak, bernalar logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang ada, terutama LKM yang menggunakan instruksi verbal.
 
Apek keterampilan mental adalah kualitas yang merupakan dasar keterampilan mental, maka konten aspek mental LKM yang sesuai untuk anak usia muda adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan dengan cermat. Kirschenbaum (2005) menjelaskan bahwa keterampilan mental dasar adalah sumber daya intrapersonal yang merupakan dasar keterampilan mental untuk mencapai sukses dalam olahraga. Keterampilan mental dasar meliputi: motivasi, kesadaran diri, harga diri, berpikir produktif, dan kepercayaan diri. Keterampilan mental dasar juga meliputi ko- mitmen, motivasi, kepercayaan diri dan ahraga diri (Hodge, 2001). Khsusus aspek mental bagi anak usia muda Vealey (2007), merekomendasikan aspek keterampilan mental itu diantaranya, goal mapping (pemetaan tujuan), relaksasi dan imajeri.
 
Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa para pelatih telah menerapkan LKM pada berbagai cabang olahraga dan hasil penelitian itu menemukan, penetapan tujuan, percaya diri dan konsentrasi merupakan tiga aspek mental yang paling sering diterapkan oleh pelatih dalam program LKM (Grobbelaar, 2007). Latihan Keterampilan Mental berhubungan dengan teknik kognitif-somatik secara umum yang meliputi latihan mental, yaitu mental imagery dan visualisasi, latihan gerak visual, terapi kognitif, bio-feedback, relaksasi otot secara progresif, dan meditasi. Pengecualian untuk imajeri dapat dikatakan baik sebagai psychological methods maupun psychological skill (Cox, 2012).
 
Konten keterampilan mental sangat beragam aspeknya dan harus diberikan kepada atlet sesuai dengan kebutuhannya, dengan menggunakan berbagai metode dan teknik latihan yang tepat. Beragam konten aspek keterampilan mental yang bisa diterapkan melalui metode LKM selama proses pembinaan olahraga. Lesyk, menyatakan setidaknya ada sembilan aspek keterampilan mental yang spesifik yang berkontribusi terhadap keberhasilan dalam pembinaan olahraga, yaitu: (1) sikap; (2) motivasi; (3) tujuan dan komitmen; (4) keterampilan sosial; (5) self-talk;  (6). imajeri; (7) mengelola kecemasan yang efektif; (8) mengelola emosi yang positif; dan (9) menjaga konsentrasi (Dimyati, 2018). 
 
Masing-masing dari sembilan aspek mental, antara aspek psikologis dalam setiap level saling terkait dan berkesinambungan satu sama lainnya. Tiga level itu hakikatnya merupakan tingkatan pembinaan keterampilan mental jangka panjang, selama proses pembinaan, persiapan mental pra-kompetisi dan selama kompetisi untuk unjuk kerja yang optimal.
Level I-Keterampilan mental ini; merupakan dasar yang luas dan kuat yang harus ditanamkan pada atlet usia muda sejalan dengan pembentukan keterampilan teknik dasar gerak untuk mencapai tujuan jangka panjang berlatih, dan mempertahankan praktik latihan sehari-hari. Konten aspek-aspek mental ini  diperlukan dan harus ditanamkan dalam keseharian berlatih pada atlet usia muda sebagai pondasi pembentukan sikap positif terhadap olahraga. 
Level II–Keterampilan mental ini digunakan dalam rangka persiapan untuk memperoleh kinerja yang optimal. Latihan keterampilan aspek-aspek mental ini digunakan untuk pra-kompetisi dimulai, atau segera sebelum melakukan aktivitas tertentu untuk membantu meningkatkan penguasaan teknik keterampilan gerak yang diharapkan agar lebih optimal sebelum memasuki kompetisi. Sedangkan, 
Level III- Keterampilan psikologis ini digunakan oleh atlet selama perilaku kinerja aktual atau saat kompetisi.
 
Ada beberapa catatan agar kesembilan keterampilan mental yang diperlukan itu berjalan baik, yaitu (1) keterampilan itu dapat dipelajari dan ditingkatkan melalui instruksi dan pelatihan praktik keterampilan mental (LKM); (2) harus disadari bahwa untuk memulai latihan mental itu perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu atlet; (3) harus dikembangkan rencana melatih dan meningkatkan keterampilan khusus yang perlu perbaikan bagi individu atlet; (4) secara berkala meninjau kembali kemampuan atlet dalam setiap keterampilan untuk menilai kemajuannya, dan (5) keterampilan mental sikap, motivasi, tujuan dan komitmen, serta keterampilan sosial merupakan dasar yang luas dan kuat yang harus ditanamkan pada atlet usia muda.
 
Harapan Ke depan
Dengan dimikian ingin ditegaskan dalam bagian penutup, bahwa setidaknya ada dua tantangan yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) bagaimana menjadikan Psikologi Olahraga menjadi bagian penting dalam pembinaan olahraga nasional; dan (2) bagaimana meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para pelatih tentang arti penting LKM sebagai alat dari Psikologi Olahraga untuk pembinaan dan meningkatkan ketangguhan mental para atlet usia muda.
Adanya tantangan pertama tidak bisa dilepaskan dari kondisi Psikologi Olahraga di Indonesia yang merupakan ilmu pengetahuan baru. Psikologi Olahraga sebenarnya sama dengan Psikologi mainstreams yaitu sebagai ilmu pengetahuan yang memang relatif masih sangat muda dibandingkan ilmu-ilmu lainnya. Psikologi mainstreams itu baru muncul pada awal tahun 50-an di Indonesia dan Psikologi Olahraga di akhir tahun 60-an.
 
Kajian dan pengembangan Psikologi maintreams setidaknya sejak awal telah dibidani dan dikawal serta terus di dukung oleh lima Perguruan Tinggi Negeri besar di Indonesia seperti UI, UGM, Unair, Undip, Unpad, yang membuka program studi atau jurusan dan mengelola serta pengembangkan Ilmu Psikologi secara khusus, ditambah puluhan lagi yang dikembangkan oleh PT-PT swasta. Sehingga dalam bidang-bidang tertentu, seperti Psikologi Klinis, Psikologi Pendidikan, Psikologi Perkembangan, Psikologi Sosial, Psikometri dll., dapat eksis dan terus berkembang yang pada gilirannya sebagai kajian Psikologi  tersebut dapat menempatkan diri dan diterima sebagai bagian yang tidak terpisahkan bahkan terpadu dengan ilmu-ilmu lain.
 
Namun tidak demikian halnya dengan Psikologi Olahraga yang perkembangnnya masih belum menggembirakan, dan para pengambil kebijakan di PT-PT besar yang memiliki Fakultas Psikologi sebagaimana saya sebutkan di atas masih belum memandang Psikologi Olahraga menjadi sesuatu yang penting untuk dikaji dan dikembangkan. Dari 4500 lebih PT baik negeri maupun swasta di Indonesia, belum ada yang secara khusus mengelola dan mengembangkan ilmu Psikologi Olahraga sebagai sebuah kajian dalam wujud Jurusan (departemen). Kondisi ini secara tidak langsung berimplikasi terhadap perkembangan dan kemajuan Psikologi Olahraga di Indonesia. Karena kajian ilmu Psikologi Olahraga belum dikelola dan dikembangkan sebagai bagian yang penting di PT besar di Indonesia.
 
Kondisi tersebut di atas bertolak belakang  dengan  apa yang terjadi di negara-negara maju, justru universitas-universitas ternama di negara maju, selain telah mengembangkan pusat-pusat kajian Psikologi Olahraga juga membuka dan mengembangkan bidang Ilmu Keolahragaan umumnya dalam bentuk jurusan dan fakultas, sebagai misal di Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Canada, dll., (Dosil, 2006; Thomas & Nelson, 2001).
 
Belum jelasnya lembaga pendidikan tinggi di Indonesia yang menyelenggarakan program studi Psikologi Olahraga, memberi gambaran bahwa kajian Psikologi Olahraga belum menjadi prioritas kebijakan pemangku kepentingan olahraga nasional dan perguruan tinggi terkait khususnya serta masyarakat olahraga pada umumya.
 
Kemampuan inovasi suatu bangsa dalam bidang olahraga terkait erat dengan kualitas sumber daya manusianya, yang berarti juga kualitas sistem pendidikan tingginya. Sangat wajar apabila perkembangan Psikologi Olahraga dan IPTEK olahraga di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain. Ini memberi sinyal ”lampu kuning” bahwa upaya untuk mencapai pengetahuan dan pengembangan Psikologi Olahraga, dengan cara yang lebih bernilai adalah sesuatu tantangan dan keniscayaan untuk diwujudkan di tanah air tercinta ini. Tantangan untuk melakukan pengembangan dan penggalian baru Psikologi Olahraga melalui program penelitian dengan berbagai dimensinya serta aplikasi metodologi yang berbeda memerlukan curah pemikiran segenap pengelola dan kualitas SDM PT penyelenggara pendidikan ilmu keolahragaan khususnya dan PT-PT yang membuka Fakultas Psikologi umumnya. Keberadaan berbagai program Doktor bidang Ilmu Keolahragaan yang dikembangkan oleh lembaga Pendidikan Tinggi eks IKIP diharapkan dapat mengembangkan tujuh bidang teori utama Ilmu Keolahragaan termasuk Psikologi Olahraga. Dalam realitasnya  semuanya masih dihadapkan pada kendala-kendala yang menyangkut infra- struktur pendukung terutama yang terkait softwere.
 
Dalam perpektif seperti itu, dukungan infrastruktur, dan kerja keras saja tidak cukup, tapi harus diiringi adanya visi dan aksi penataan dan pengembangan SDM dalam bidang Psikologi Olahraga. Lantas langkah apa yang dapat dilakukan untuk mencari jalan keluar menjawab tantangan tersebut di atas. Setidaknya ada dua upaya bisa dilakukan. (1) Menumbuhkan kesadaran kepada seluruh komponen yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam pembinaan olahraga tentang pentingnya kajian dan aplikasi Psikologi Olahraga dalam pembinaan olahraga prestasi dan pembinaan olahraga usia muda khususnya. Cara yang dapat ditempuh untuk mewujudkan hal ini melalui diseminasi hasil-hasil penelitian baik yang dilakukan di dalam negeri maupun di luar negeri, juga melalui kajian-kajian ilmiah lainnya yang dapat menyakinkan masyarakat yang terlibat dalam pembinaan olahraga atlet usia muda khususnya. (2). Meningkatkan SDM bidang Ilmu Keolahragaan khususnya Psikologi Olahraga. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengembangkan SDM yang berada di lembaga Pendidikan Tinggi Keolahragaan untuk mengambil program master atau Doktor dalam bidang sport science (sport psychology) di negara-negara maju di luar negeri. Juga dengan membuka dan mengembangkan program studi Psikologi Olahraga pada PTN besar maupun swasta yang mengelola dan mengembangkan ilmu Psikologi.
Tantangan kedua terkait upaya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para pelatih tentang arti penting LKM sebagai alat untuk pembinaan dan meningkatkan ketangguhan mental para atlet usia muda. Dewasa ini para pelatih olahraga di Indonesia umumnya disuplai melalui dua jalur utama, yaitu: (1) jalur formal yaitu lulusan dari PT yang mengembangkan akade- misi dan profesi sebagai pelatih, terutama sebelas LPTK eks-IKIP yang memiliki FIK/FPOK dan PT swasta lainnya; dan (2) upaya swadaya masyarakat (kebanyakan mantan atlet) yang mengikuti kursus-kursus kepelatihan yang diselenggarakan oleh induk-induk organisasi olahraga nasional maupun internasional. Dengan kondisi ini berarti perlu ada upaya yang sinergis dan sungguh-sunguh untuk mereposisi dan merevitalisasi kondisi maupun peran Psikologi Olahraga umumnya dan program LKM khususnya dalam kurikulum untuk lebih memperhatikan arti penting bobot muatan Psikologi Olahraga dan atau LKM sebagai bagian integral dari kurikulumnya.
 
Sumber dari Pidato Pengukuhan Prof. Dr. Dimyati, M.Si. sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Psikologi Olahraga pada Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta, dengan judul “Kedudukan Latihan Keterampilan Mental Dalam Psikologi Olahraga dan Urgensinya Bagi Pelatih Atlet Usia Muda di Indonesia”, Sabtu, 12 Desember 2020
 
submitted by admin