PROF. Dr. Ir. KH. MOHAMMAD NUH, DEA

23
May
2017

Pendidikan Karakter dalam Membangun Kemandirian Bangsa

Menuju Kejayaan Indonesia 2045

Semua amal ibadah, baik rohani maupun jasmani, perkataan maupun perbuatan, tidak akan dihitung kecuali disertai perilaku serta budi pekerti yang terpuji. Menghiasi amal di dunia dengan adab (karakter baik) menjadi tanda bahwa amal itu akan diterima kelak di akhirat (KH Hasyim Asy‘ari dalam karya klasiknya, Adabul ‘Alim wal Muta‘allim)

Pengantar

Alhamdulillah, kita semua harus bersyukur ke hadirat Ilahi Rabbi, Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat dan karunia Nya, sehingga kita bisa hadir dalam acara Dies Natalis Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang ke 53 dalam keadaan sehat wal afiat. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikutnya sampai akhir jaman.

Perkenankan dalam kesempatan yang mulia ini, saya ingin menyampaikan ucapan selamat Dies Natalis Universitas Negeri Yogyakarta ke 53, sebagai salah satu Universitas terbaik di negeri yang kita cintai, khususnya di bidang pendidikan. Kami juga memberikan apresiasi yang sangat tinggi atas segala prestasi dan kontribusinya dalam dunia pendidikan, khususnya penyiapan para guru yang profesional. Selama periode 2009-2014, sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan merasakan betapa besar kontribusi UNY dalam ikut menyelesaikan berbagai persoalan dan tantangan untuk memajukan dunia pendidikan Indonesia antara lain kontribusinya dalam program SM3T, Bidikmisi dan Kurikulum 2013. Untuk itu, perkenankan dari lubuk hati yang sangat dalam kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada UNY, khususnya kepada Bpk. Prof. Suyanto (sebagai Dirjen) dan Bpk. Prof Rachmat Wahab (sebagai Rektor). Dan tentu saya ucapkan selamat kepada Bpk. Prof Sutrisna Wibawa sebagai Rektor UNY, semoga di bawah kepemimpinan Bapak, UNY semakin maju dan menjadi referensi dunia pendidikan kita.

Tema orasi ilmiah yang diminta kepada saya adalah: Pendidikan Karakter dalam Membangun Kemandirian Bangsa. Sungguh tema tersebut sangat tepat dan sangat relevan untuk kita pahami  bersama, khususnya dalam rangka menyiapkan generasi emas, 100 tahun Indonesia merdeka 2045. Dalam berbagai kesempatan, saya selalu mengajak untuk memanfaatkan momentum 100 tahun Indonesia merdeka, masa pembuktian akan kejayaan Indonesia. Kita harus berhemat energi kebangsaan kita, jangan dihambur-hamburkan untuk perkara yang tidak memiliki nilai strategis dan bahkan bisa melemahkan kekuatan dan keutuhan kita sebagai bangsa dan negara besar.

Peristiwa akhir-akhir ini yang menghiasi berbagai media terutama media sosial, harus segera diakhiri dengan prinsip keadilan, ketegasan dan kearifan. Upaya saling membenturkan antar komponen bangsa merupakan ‘experimen’ yang sangat berbahaya. Ibarat sebuah eksperimen untuk memisahkan salah satu spektrum warna dari warna putih yang terdiri dari spektrum merah, jinggu, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Hilangnya satu spektrum warna, menyebabkan warna putih tidak menjadi putih lagi. Warna putih adalah warna yang memiliki tingkat clarity terbesar. Ibarat warna, NKRI itu warna putih. Bukan NKRI kalau tidak ada Hindunya, Budhanya, Kristen, Konghucu atau Islamnya. Bukan NKRI kalau tidak ada Bataknya, Dayak, Sunda, Jawa dan Maduranya. NKRI adalah ‘kumpulan’ spektrum agama, etnik, ras dan spektrum lainnya pembentuk NKRI. Itulah NKRI yang ditakdirkan kebhinekaan sebagai jati dirinya.

Oleh karena itu, upaya pembenturan tersebut harus ditangani sesegera mungkin, bahkan kalau sengaja dibiarkan para otak intelektual dan operator lapangan berleluasa melakukan ‘experimen’ ini, bisa jadi kita kehilangan momentum kejayaan Indonesia 2045, yang kurang dari 30 tahun mendatang. Bagi ukuran bangsa, 30 tahun bukanlah waktu yang panjang. Disharmoni antar spektrum kebangsaan, menyebakan tiga kerugian sekaligus yaitu hilangnya keberkahan, hilangnya energi secara percuma dan hilangnya kesempatan untuk menjadi negara dan bangsa yang besar dan maju. Untuk itu, menjaga stabilitas, keharmonisan dan kecerdasan dalam mengelola sumberdaya serta kesempatan (tidak salah urus) menjadi syarat mutlak akan kejayaan Indonesia 2045.

Tantangan Kini dan ke Depan

Kita semua menyadari bahwa jaman terus berubah dengan karakteristik masing-masing. Kalau kita telusuri sejarah peradaban yang diawali jaman batu dan agrikultur sejak jauh sebelum masehi sampai dengan abad ke 17. Ribuan tahun dunia berada pada era batu (stone era) dan agrikultur (agriculture era). Seakan mengalami stagnasi. Hal itu sejalan dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Namun, setelah ditemukannya mesin uap dengan tokoh sentralnya James Watt (1781), dunia mengalami revolusi yang dikenal dengan Revolusi Industri 1.0.

Dunia mengalami revolusi kembali, Setelah Alexander Graham Bell (1876) sebagai tokoh sentralnya  menemukan mesin tilpon. Terjadilah revolusi industri yang kedua atau Revolusi Industri 2.0. Meski Bell telah menemukan mesin tilpon, tapi dia tidak pernah menelpon istri dan ibunya, karena mereka tunarungu. Inilah salah satu bukti kesejarahan, bahwa orang yang berkebutuhan khusus memiliki potensi khusus, dan kalau dihantarkan secara khusus, mereka akan berprestasi secara khusus. Khusus memang harus didekati secara khusus. Inilah pentingnya pendidikan bagi yang berkebutuhan khusus. Selain sebagai seorang insinyur dan Profesor di Boston University, Bell juga sebagai guru bagi tunarungu. Selain Bell, tokoh yang sangat berperan dalam Revolusi Industri 2.0. adalah Michael Faraday, sang penemu listrik.

Revolusi Industri 3.0, terjadi setelah ditemukannya komputer dan tilpon selular pada tahun 1960-an yang merubah mulai perilaku organisasi, manajemen, metodologi pembelajaran sampai dengan gaya hidup (life style). Dan kini, tidak terasa  (sejak 2014) kita telah memasuki Revolusi Industri 4.0. yang lebih dikenal dengan Internet of Things (IoT) atau ada yang menyebutnya sebagai Pervasive Technology Age (Angus Maddison, JP Morgan 2014).

Setiap era memiliki karakteristiknya masing-masing dan kalau kita cermati dengan seksama, perubahan (revolusi) terjadi dalam kurun yang semakin pendek. Dari ribuan tahun, menjadi ratusan tahun dan kini menjadi kurang dari sepuluh tahunan. Hal ini dikarenakan semakin tinggi dan besarnya modal manusia, ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi. Tentu ini semua, membawa konsekuensi terhadap semakin kompleksnya (sofistikasi) persoalan yang harus kita hadapi dan semuanya harus diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat. Hal ini diperkuat dengan hasil survei yang telah dilakukan oleh Price Water Coopers (PwC) terhadap 2.106 eksekutif senior dunia yang hasilnya dirilis juli 2016. Hasil survei tersebut sejalan dengan kajian yang telah dilakukan oleh Yves Morieux (Six Simple Rules: How to Manage Complexity Without Getting Complicated, 2014).

Kajian lain yang dilakukan oleh Ian Goldin (Profesor Oxford University) terhadap data dan fenomena sejak tahun 500 sampai dengan 2014 (Age of Discovery, 2016). Salah satu kesimpulannya adalah, kompleksitas sosial (socio complexity) memiliki kecepatan yang jauh lebih tinggi dibanding kemampuan pemahaman (cognitive capacity). Akibatnya, semakin banyak misteri atau persoalan yang belum diketahui (blind zone) duduk perkara dan solusinya. Inilah tugas para prominent person seperti civitas akademika UNY untuk mengungkap dan mencari jawabnya.

Anak-anak kita yang sekarang ini sedang bersekolah atau kuliah akan menghadapi persoalan yang semakin kompleks dan harus diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat. Ini yang menjadi salah satu obyektif dunia pendidikan di abad 21. Kalau bekal yang kita berikan tidak mencerminkan kemampuan (kompetensi) untuk menyelesaikan kompleksitas persoalan, sangat dimungkinkan dunia pendidikan kita akan terjebak sebagai mesin pencipta generasi kedaluwarsa (expired generation). Karena, kompetensi yang dimiliki tidak sesuai (disconnected) dengan persoalan yang dihadapi.

Menghadapi tantangan seperti ini, tidak ada cara lain yang paling ampuh kecuali menyiapkan generasi yang memiliki keutuhan kompetensi sikap (attitude), ketrampilan (skills) dan pengetahuan (knowledge). Sekali lagi adalah keutuhan kompetensi, sebagaimana konsep dasar Kurikulum 2013. Kita tidak boleh terjebak pada pernyataan: Kita tidak butuh orang pinter, tetapi yang kita butuhkan orang jujur. Paradigma berpikir seperti ini adalah paradigma ‘atau’ (‘or’ paradigm). Pinter atau jujur. Meskipun bisa dipahami yang melatar belakangi mengapa menggunakan paradigma ‘atau’.

Tetapi yang kita butuhkan adalah paradigma ‘dan’ (‘and’ paradigm). Mereka harus memiliki keutuhan ketiga kompetensi tersebut. Mereka memiliki kemampuan berpikir orde tinggi, kreatif dan ketajaman intuisi. Mereka memiliki kompetensi yang sifatnya personal sekaligus kompetensi sosial. Mereka memiliki keterampilan untuk menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan. Mereka memiliki pengetahuan dan bisa menerapkannya untuk menganalisis berbagai persoalan secara logis (Act Foundation, Future Skills, 2016). Pendekatan ini, juga digunakan oleh negara OECD (Global Competency for Inclusive World, 2016). Jadi apa yang dulu kita gagas dan rumuskan melalui Kurikulum 2013, ternyata konvergen dengan kajian yang dilakukan oleh lembaga internasional dalam mengantisipasi kebutuhan kompetensi abad 21. 

Analogi pentingnya kemampuan berpikir orde tinggi dengan kompleksitas persoalan dapat digambarkan: kalau persoalannya adalah untuk menyelesaikan persamaan kuadrat, maka dengan rumus ‘abc’ sudah cukup. Tetapi kalau persoalannya itu persamaan orde 3 ke atas, maka sampai kapanpun rumus ‘abc’ tersebut tidak mampu menjawabnya. Mereka harus kita bekali dengan kemampun merubah persamaan orde 3 ke atas menjadi menjadi persamaan orde 2, dalil sisa atau dengan metode numerik. Meminjam istilah Taksonomi Bloom, kemampuan berpikir orde tinggi dicirikan dengan kemampuan analisa, evaluasi, dan kreasi (analysing, evaluating, and creating).

Generasi Millennial dan Kompetensi Global

Keberlangsungan kehidupan ini dilakukan melalui mekanisme generasi per generasi. Setiap generasi memiliki karakteristik, tantangan dan persoalan masing-masing. Bagi kita para dosen yang lahir antara tahun (1946-1964) dikategorikan sebagai generasi Baby Boomers. Bagi mereka yang lahir (1965-1980), disebutnya sebagai generasi X. Dan yang lahir antara (1980-1995) disebutnya sebagai Y (Millennials) serta yang lahir antara (1995-2010) disebutnya sebagai generasi Z atau Digital Native. Tentu yang lahir sebelum 1946 disebutnya sebagai Silent Generation. Para siswa dan mahasiswa yang menjadi peserta didik sekarang ini adalah generasi millennial dan digital native. Mereka memiliki karakteristik, persoalan dan tantangan spesifik sesuai jamannya. Oleh karena itu, sangat tepat apa yang pernah dipesankan oleh Sayyidina Ali yaitu: Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya. Sungguh mereka akan menghadapi masa yang berbeda dari masamu.

Di antara karakteristik yang menonjol dari generasi millennial dan digital native adalah melekatnya gaya hidup mereka dengan teknologi, khususnya teknologi digital (technology savvy), kolaborasi virtual (virtual collaborative), tidak terlalu terikat dengan lokasi (nomadic) dan kemauan yang seketika, tidak sabar atau disebutnya ‘we want it now generation’. Desain pendidikan haruslah mempertimbangkan dua hal yang mendasar yaitu: pemahaman tentang karakteristik dasar peserta didik dan kemampuan membaca kecenderungan masa depan (future trends) dan kompetensi yang dibutuhkannya. Itu semua harus dilakukan agar tidak terjadi disconnected antara  karakteristik dasar peserta didik, sistem pembelajaran dan kebutuhan kompetensi. Disconnected antara input, proses, dan output.

Di sinilah peran strategis dari UNY sebagai LPTK untuk melakukan kajian intensif dan berkelanjutan tentang demografi (termasuk karakteristik personal dan sosial), membaca kecenderungan masa depan dan pengembangan sistem pembelajaran (proses) yang mampu menghubungkan antara karakteristik peserta didik (input) dengan kompetensi yang dihasilkan (output). Di antara ketiga elemen tersebut, proseslah yang harus beradaptasi terhadap perubahan input dan output. Dengan karakteristik peserta didik yang berbeda, persoalan dan tantangan juga berbeda, maka pendekatan dalam pembelajaran tentu juga berbeda. Di sinilah pentingnya inovasi dalam dunia pendidikan.

Pendidikan Karakter

Penting dan urgensinya pendidikan karakter, tidak ada perbedaan pandangan di antara kita. Yang menjadi pekerjaan besar adalah bagaimana pendidikan karakter itu dapat dilakukan secara efektif.  Ilustrasi cerita berikut ini diharapkan dapat memberikan gambaran, bagaimana pendidikan karakter itu bisa dilakukan.

Pagi yang cerah, murid-murid kelas IV turun ke sawah untuk melihat proses pengolahan padi. Mulai dari menuai, merontokkan, menjemur, hingga menggiling padi. Mereka bersemangat dan bergembira, berjalan menyusuri pematang sawah, bertegur sapa dengan petani.

Ketika sampai di sawah, mereka membantu petani menuai padi dengan menggunakan sabit. Batang padi yang sudah dipotong dikumpulkan di pinggir sawah, lalu diangkut ke lapangan. Siswa melihat bagaimana petani merontokkan padi kering dan dimasukkan dalam karung berukuran kecil yang memungkinkan diangkut oleh siswa. Satu per satu mereka bergantian memanggul karung padi itu ke tempat penggilingan.

Saat berada di tempat penggilingan, spontan Akbar bertanya kepada gurunya. “Bu Guru, berarti kita harus melepaskan dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak baik ya?”

“Memangnya kenapa, Akbar?” tanya guru menanggapi.

“Lihat, Bu, agar jadi beras yang bersih, yang siap dimasak menjadi nasi, padi harus melepaskan kulitnya. Kita harus seperti itu, Bu.”

Ibu guru tertegun dan bangga. Akbar yang baru kelas IV SD sudah bisa memetik nilai dari sebuah proses penggilingan padi. Sepulang dari sawah, Ibu Guru meminta siswa mengambil hikmah atau nilai yang mereka dapatkan.

“Kita harus bersyukur dengan rezeki yang diberikan Tuhan,” kata Gita sambil angkat tangan.

“Kita harus menghargai jerih payah petani,” tukas Hani.

Beberapa siswa lain pun menambahkan hasil refleksinya. Itu semua makna yang dapat diungkapkan dalam bahasa lisan. Namun, guru menemukan pelajaran paling berharga yang tak diungkapkan siswa lewat kata-kata. Sejak  itu, tidak ada sebutir nasi pun yang tersisa di piring mereka ketika makan siang bersama di sekolah. Mereka sudah meninggalkan kesia-siaan atau kemubadziran.

Kisah tersebut bukan fiktif, melainkan aktivitas nyata anak-anak SD yang menerapkan pendidikan berbasis karakter sebagai bagian dari masukan waktu menyusun dan merumuskan Kurikulum 2013 yang mengintegrasikan kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan. Pagi itu mereka tengah belajar tentang empati: merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi petani. Empati diyakini para ahli sebagai inti emosi moral yang membantu anak didik memahami perasaan orang lain. Empati membuat mereka peka terhadap kebutuhan orang lain dan mendorong mereka untuk saling menolong dan saling mengasihi.

Begitulah salah satu contoh praksis pendidikan karakter. Jangan bayangkan mereka harus menghafal setumpuk dalil dan teori tentang kebaikan, kejujuran, ketulusan, dan karakter luhur lainnya. Itu hanya menambah pengetahuan tentang kebaikan. Penting tapi tak cukup. “The dimensions of character are knowing, loving, and doing the good,” kata Thomas Lickona. Para pendidik bangsa saat  dulu mendirikan sekolah agar anak-anak didik mereka mengetahui yang baik, mencintai yang baik, dan mengamalkan yang baik. Itulah etika (kebaikan). Tentu diajarkan pula tentang logika (kebenaran) dan estetika (keindahan).

Jadi, tak ada yang meragukan perlunya pembentukan karakter. Sebab, bila seseorang kehilangan karakternya, ia kehilangan sisi genuine-nya dan  kehadirannya di publik akan kehilangan kemanfaatan bahkan menambah rumitnya kehidupan. Layaknya dalam pertunjukan sirkus, mereka yang tampil (sirkustor) telah mengalami de-i-sasi. Singa yang buas dan ditakuti jadi jinak dan tampak lucu dan bersahabat. Ia mengalami proses de-singa-i-sasi. Begitu juga dengan hewan-hewan  lain, semua telah kehilangan watak orisinalnya. Tentu saja hal itu mengagumkan dan menyenangkan bagi penonton. Semakin jauh dari karakter orisinilnya, semakin lucu dan menarik. Itulah dunia sirkus. Namun kehidupan ini sejatinya bukanlah sirkus, bukan lucu-lucuan, tetapi dalam kehidupan yang sejati, para pelaku harus memainkan masing-masing karakter orisilnya (genuine character).

Bagaimana jika de-i-sasi itu terjadi dalam kehidupan nyata? Penegak hukum dengan keadilan sebagai karakter dan perilaku dasarnya ternyata harus diadili. Tokoh masyarakat yang berfungsi sebagai pencerah ternyata justeru menyesatkan dan harus dicerahkan. Wakil rakyat yang mestinya menyerap aspirasi rakyat dan memperjuangkannya, malah korupsi uang rakyat secara kolektif. Pendidik harus dididik. Demikian seterusnya. Pembicaraan mereka di ranah publik bisa saja mengagumkan, tapi manfaat nyata bagi perubahan masyarakat sulit diharapkan. Karena kehilangan karakternya. Mereka hanya jadi tontonan dan tak pernah jadi tuntunan. Dalam pribahasa “When wealth is lost, nothing is lost; when health is lost, something is lost; when character is lost, everything is lost.”

Bangsa ini membutuhkan bukan saja orang-orang jenius dalam perspektif pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membutuhkan orang yang santun dalam bertutur kata, menghargai, menghormati sesama  dan memanusiakan manusia (humanizing the human being). Dalam bahasa Kurikulum 2013, yang kita bangun adalah generasi yang memiliki keutuhan kompetensi sikap (attitude), ketrampilan (skills), dan pengetahuan (knowledge). Keutuhan ketiga kompetensi tersebut menghantarkan menuju kesempurnaan. Itulah tradisi profetik dan tradisi pendiri bangsa yang menjadi sumber keteladanan bagi kita.

Sehubungan dengan itu, menarik sekali apa yang disampaikan oleh salah satu pendiri dan guru bangsa sekaligus pendiri NU, KH Hasyim Asy‘ari dalam karya klasiknya, Adabul ‘Alim wal Muta‘allim: semua amal ibadah, baik rohani maupun jasmani, perkataan maupun perbuatan, tidak akan dihitung kecuali disertai perilaku serta budi pekerti yang terpuji. Menghiasi amal di dunia dengan adab (karakter baik) menjadi tanda bahwa amal itu akan diterima kelak di akhirat.

Karakter mulia atau seringkali dipadankan dengan akhlak mulia, meliputi keyakinan dan pengetahuan tentang kebaikan, lalu menimbulkan komitmen terhadap kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan, maka proses pembentukannya setidaknya perlu dua hal utama selain pemahaman: keteladanan (role model) dan pembiasaan (habituation).

Keteladanan dan Habituasi

Sebagaimana tercermin dalam kisah tentang anak-anak Sekolah Dasar yang belajar tentang proses penanaman padi hingga menjadi beras, anak-anak dapat  melihat keteladanan hidup secara nyata dan ini berperan sebagai kanal transmisi nilai, norma, serta cinta. Sebab, kebaikan sebenarnya adalah wujud hakiki manusia. Kebaikan itu panggilan fitrah—bakat bawaan setiap manusia. (Khan: 2005). Dan agama diturunkan Tuhan untuk mengembangkan bakat bawaannya itu dan pendidikan menuntunnya agar terhindar dari salah arah. 

Neurosains juga membuktikan bahwa otak manusia dirancang sedemikian rupa sehingga bersikap baik kepada orang lain itu membuat kita merasa nyaman; berbagi itu menyenangkan. Dalam sebuah eksperimen pemindaian otak yang belum lama ini dilakukan, puluhan responden diberi uang 128 dolar AS dan kemudian dipersilakan untuk menabung atau menyumbangkan uangnya. Pusat otak orang yang memilih untuk menyumbangkan uang mereka menjadi aktif, dan mereka merasa senang atas kedermawanan mereka. Bahkan, pusat otak beberapa orang responden lebih aktif ketika mereka bertindak altruistik (lawan dari egoisme) ketimbang ketika mereka menerima hadiah uang tunai. (Dapretto et al., “Understanding Emotions”: 2011).

Jadi, kebaikan itu sejatinya tak perlu atau harus dijejalkan dari luar. Anak-anak butuh cermin yang bisa memantulkan kilau kebaikan dalam diri mereka.  Mereka butuh upaya dan stimulasi kreatif dari kita untuk mencuatkan fitrah kebaikan itu, mereka butuh keteladanan, sebagai role model (Lickona, 2012).

Yang kedua, pembiasaan (habituation), proses menanam kebiasaan tentang yang baik sehingga guru dan peserta didik memahami, mampu merasakan, dan mau melakukan yang baik. Karakter berasal dari kata charassein (bahasa Yunani)  yang berarti “to engrave”, yakni, melukis, mengukir, memahatkan. Kita ingin melukis pola pikir kebaikan di benak anak didik kita,  mengukir cita-rasa kebaikan di sanubari mereka, sehingga perilaku baik  terpahatkan menjadi kebiasaan.

Para peneliti Massasuchet Institute of Technology (MIT) pada tahun 1990-an melakukan penelitian terhadap seekor tikus yang dimasukkan ke dalam pipa dan di sudut pipa diberi cokelat. Setelah tikus dilepaskan dan mencari cokelat. Kegiatan ini dilakukan berulang kali dan direkam aktivitas otaknya. Ternyata, pada awal-awal, amplitudo aktivitas otak tikus sangat tinggi, dan berangsur menurun sejalan dengan banyaknya pengulangan. Hal ini menandakan bahwa, pada saat awal, untuk mendapatkan cokelat tikus membutuhkan energi yang besar. Namun, setelah berulang kali dilakukan, sehingga  menjadi kebiasaan, amplitudonya menurun. Kalau tikus saja mengenali tentang kekuatan pembiasaan, tentu manusia yang memiliki tingkat kesempurnaan yang lebih tinggi, pembiasaan akan menjadi kekuatan tersendiri (the power of habit). Hasil penelitian tersebut diadopsi oleh Charles Duhigg dalam bukunya The Power of Habit (2013). Intinya adalah, bahwa pembiasaan memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dalam pembentukan karakter.

Masa yang paling efektif dalam pembentukan karakter adalah pada usia formatif, usia emas (golden age). Di sini kita jadi ingat pesan orang tua lewat lagu kasidahan: belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu (at-ta‘allum fis shighari ka an-naqsyi ‘alal hajari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Di sinilah pentingnya gerakan pendidikan anak usia dini (PAUD) yang telah dicanangkan tahun 2011 dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan memanfaatkan fasilitas umum (balai RT dan RW) dan keagamaan (masjid, musholla, gereja, dan pura).

Pendekatan Sistemik

Persoalan mendasarnya adalah anak-anak kita tidak berada dalam ruang yang steril dari berbagai pengaruh negatif. Bahkan seringkali energi negatifnya lebih kuat dibanding energi positif yang terpaparkan (exposure) kepada anak-anak kita. Di sinilah pentingnya pendekatan sistemik dalam pembentukan karakter. Ada tiga wilayah utama, yang menjadi sasaran yaitu, wilayah sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pengendalian wilayah sekolah dan keluarga relatif lebih dapat dikendalikan dibandingkan wilayah masyarakat. Salah satu unsur wilayah masyarakat, adalah media massa (cetak dan elektronik) dan media sosial. Di sinilah media memiliki peran yang khusus dalam pembentukan karakter. Media dalam menyiapkan dan meramu informasi yang akan disajikan ke publik haruslah: mendidik (educate), memberdayakan (empowering), dan memberikan pencerahan (enlightenment). Dan semua itu, bermuara untuk penguatan nasionalisme anak-anak kita. Istilahnya 3E (Educate, Empowering, dan Enlightement) dan 1 N (Nationalism).

Dari mana Harus Memulai

Dari sisi subyek dan waktu, tidak ada jawaban yang paling tepat kecuali mulai dari sekarang (now) dan dari diri sendiri (your self). Bahasa agamanya, Ibda’ binafsik. Kata nafs dalam konteks ini tidak saja berarti personal atau pribadi perorangan, melainkan bisa diperluas menjadi keluarga sendiri dan masyarakat lingkungan terdekat.  

Di samping itu, harus dilakukan perubahan paradigma khususnya dalam sistem pendidikan. Prakarsa  pengalihan pengetahuan dan keterampilan (transfer of knowledge and skills) saja tidaklah cukup. Namun, pengalihan nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial (transmission of cultural values and social norms) harus menjadi satu kesatuan. Meleburkan nilai-nilai moral yang relevan ke dalam semua mata pelajaran dan kegiatan kurikuler, ko-kurikuler, dan ekstra-kurikuler. Intinya, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia (humanizing the human being) dengan segala aspek yang melekatnya.

Indonesia 2045

Kita semua harus bersyukur ditakdirkan menjadi Indonesia, suatu negara yang memiliki akar kesejarahan, potensi dan peluang menjadi negara dan bangsa besar. Kajian sejarah menunjukkan bahwa pada jaman Sriwijaya dan Majapahit (abad ke 7 sampai 14) sebagai cikal bakal Indonesia pernah berkontribusi ekonomi sebesar 20% dari perekonomian dunia saat itu. Setelah itu mengalami masa suram dan kemunduran baik akibat penjajahan, konflik internal maupun keterbatasan dalam mengelola sumber daya. Kini, kita memasuki abad 21 dan diramalkan secara saintifik Indonesia ke depan akan menjadi negara dan bangsa besar (Angus Madison, Historical Statistics for the World Economy, McKinsey & Co). Beberapa kajian oleh lembaga-lembaga yang kredibel menunjukkan optimisme akan kejayaan Indonesia pada 20-30 tahun mendatang (Yayasan Indonesia Forum 2007, Mc. Kinsey Global Institute 2012 dan Price Water Coopers Februari 2017).

Salah satu modal yang sangat berharga adalah populasi usia produktif dalam periode 2005-2035 mencapai sekitar 70%. Memang jumlah populasi produktif tersebut tidak serta merta akan menjadi bonus demografi, bahkan bisa menjadi bencana demografi (demographic dissaster), apabila mereka tidak memiliki keutuhan kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan. Saat inilah investasi besar-besaran di bidang sumberdaya manusia secara berkeadilan harus dilakukan. Sekali lagi, kalau ini tidak kita lakukan, bisa menjadi bencana demografi (na’udzubillah). Dan yang lebih menggembirakan, Human Capital Index (HCI) untuk penduduk usia dibawah 15 tahun melebih HCI rata-rata dunia dengan total populasi 28% (Word Economic Forum, Human Capital Index, 2016). Ini adalah modal masa depan yang sangat luar biasa, sepanjang tidak salah urus. Oleh karena itu, mengapa pada tahun 2010-2014 yang lalu kita buat berbagai kebijakan antara lain: Bidikmisi, SM3T, Kurikulum 2013, Dana abadi pendidikan (LPDP), pendidikan menengah universal, pendirian perguruan tinggi negeri di wilayah perbatasan, pendirian sekolah anak-anak TKI, Adik dan Adem. Itu semua kita lakukan, agar seluruh anak Indonesia bisa menaiki ‘kereta peradaban’ menuju stasiun kejayaan Indonesia 2045.

UNY dengan visi, misi, sumberdaya dan kemuliaannya bisa menjadi kontributor utama dalam mewujudkan kejayaan Indonesia 2045 yang berperadaban unggul. Insha Allah. Menarik untuk disimak ungkapan Lance Morrow : Transmisi nilai-nilai kebaikan adalah kerja peradaban. Sejarah mengingatkan kita bahwa peradaban tak selamanya tumbuh. Kadang bangkit, kadang runtuh. Ia meruntuh saat moral merosot—kala suatu masyarakat gagal mewariskan kebaikan-kebaikan utama—kekuatan karakternya—kepada generasi barunya.

Dirgahayu UNY yang ke 53, semoga UNY menjadi kebun ilmu dan rumah pembentuk peradaban.

 

(Pidato Dies Natalis UNY ke-53 di Auditorium UNY pada Senin 22 Mei 2017)

submitted by humas