Mahasiswa Ilmu Sejarah UNY Gelar Pameran Temporer, Memotret Kemanusiaan Lewat Karya Sebelas Sastrawan

Mahasiswa semester empat program studi Ilmu Sejarah sukses menyelenggarakan pameran temporer bertajuk “Manusa Rasa: Yang Tersisa Dari Manusia”. Pameran yang memadukan sejarah dan sastra ini berlangsung baru-baru ini di Sangkasa Art Gallery.

Pameran “Manusa Rasa” bukan sekadar ajang unjuk kreativitas biasa, melainkan wujud nyata dari tugas akhir mata kuliah Museologi. Melalui pameran ini, mahasiswa ditantang untuk mempraktikkan langsung teori permuseuman yang mereka pelajari selama satu semester, mulai dari kurasi, desain tata pamer, konservasi arsip, hingga penyusunan narasi koleksi. Fokus utama dari pameran ini adalah sastra humanis. Pengunjung diajak untuk menyelami gagasan-gagasan besar tentang kemanusiaan yang bertumpu pada sebelas sastrawan terkemuka.

“Pameran sejarah bertajuk Manusa Rasa ini hadir sebagai upaya membaca kembali perkembangan sastra humanisme melalui arsip, karya sastra, dokumentasi dan jejak pemikiran para sastrawan. Pemilihan tema ini juga berdasarkan pada ketertarikan untuk mengkaji bagaimana sastra humanisme berkembang di tengah situasi politik yang represif, serta bagaimana para sastrawan tetap menyisipkan realitas sosial-politik melalui pendekatan estetik dan simbolik.” ungkap Zara, salah satu kurator pameran tersebut.

Di dalam Sangkasa Art Gallery, karya-karya dan rekam jejak kesebelas sastrawan tersebut dikurasi dengan apik. Mahasiswa Ilmu Sejarah menampilkan berbagai arsip, kutipan, potret sastrawan, dan buku yang merepresentasikan perjalanan para sastrawan. Pendekatan ini berhasil membuat sejarah sastra menjadi sesuatu yang visual, interaktif, dan mudah diresapi oleh pengunjung.

Selama tiga hari pelaksanaannya, pameran ini mendapat sambutan hangat. Tidak hanya dihadiri oleh dosen pengampu dan mahasiswa Ilmu Sejarah semata, pameran ini juga berhasil menarik minat para penikmat sejarah, pegiat literasi, dan masyarakat umum. Melalui pameran “Manusa Rasa”, mahasiswa Ilmu Sejarah angkatan 2024 ini membuktikan bahwa sejarah dan sastra tidak hanya hidup di atas tumpukan buku, tetapi bisa direkonstruksi menjadi sebuah ruang pameran temporer yang edukatif, estetik, dan menyentuh sisi paling dasar dari seorang manusia.

Penulis
Vicky Sa'adah
Editor
Dedy
Kategori Humas
IKU 2. Mahasiswa Mendapat Pengalaman di Luar Kampus