Mahasiswa KKN UNY Hidupkan Kesenian Lokal melalui Malam Apresiasi dan Pentas Seni di Kenteng

Pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan formal. Panggung hiburan masyarakat juga dapat menjadi ruang untuk mengenalkan, mengapresiasi, dan menjaga keberlangsungan kesenian lokal. Hal inilah yang dilakukan mahasiswa KKN Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui Malam Apresiasi dan Pentas Seni Gebyar HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Padukuhan Kenteng,Pacarejo, Semanu, Gunungkidul.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di kediaman Bapak Tontro, yang menghadirkan beragam penampilan seni yang melibatkan masyarakat, mulai dari kesenian tradisional hingga tari kreasi. Penampilan Thoklik Laras Madyo dari Karangasem naungan Bapak Riyanto dan Karawitan Putri Laras menjadi bagian dari rangkaian acara yang memperkenalkan kembali kesenian tradisional kepada masyarakat. Selain itu, panggung pentas seni juga diramaikan dengan empat penampilan tari tradisional dan tari kreasi di antaranya Tari Angguk Jos,Tari Rampak,Tari Pari Suka Pari dan Tari Gugur Gunung yang dibawakan oleh siswa siswi SDN Dengok, memadukan unsur budaya lokal dengan kreativitas generasi masa kini.

Keberagaman penampilan tersebut menunjukkan bahwa kesenian lokal memiliki ruang untuk terus berkembang di tengah perubahan zaman. Kesenian tradisional tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dapat terus dihidupkan melalui partisipasi masyarakat dan kreativitas generasi muda.

Bagi mahasiswa KKN UNY, penyelenggaraan pentas seni menjadi salah satu cara untuk mendukung masyarakat dalam menciptakan ruang apresiasi terhadap kebudayaan lokal. Ketua KKN UNY di Padukuhan Kenteng, Muhammad Plato Wibowo, menilai keterlibatan masyarakat dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kesenian tradisional.

“Kolaborasi budaya antara karawitan, thoklik, dan tari anak pada malam puncak 17-an diadakan sebagai wadah regenerasi dan pelestarian seni tradisi desa secara berkelanjutan serta memperkenalkan potensi warga. Melalui panggung bersama ini, interaksi lintas generasi terbangun erat, merangkul anak-anak, pemuda, hingga sesepuh untuk memperkuat semangat guyub rukun dan gotong royong khas warga pedukuhan Kenteng,” jelasnya.

Lebih dari sekadar hiburan dalam rangka memperingati HUT ke-81 RI, kegiatan ini menjadi ruang interaksi dan kebersamaan bagi warga Padukuhan Kenteng. Masyarakat tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi juga berperan dalam mempersiapkan dan menyukseskan kegiatan. Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat tumbuh dari partisipasi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya menghidupkan kesenian lokal melalui kegiatan masyarakat juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan. Salah satu target dalam SDG 11 adalah memperkuat upaya untuk melindungi dan menjaga warisan budaya. Kegiatan seni dapat menjadi salah satu ruang sederhana untuk menjaga agar kesenian tetap dikenal, dipraktikkan, dan diapresiasi oleh masyarakat.

Melalui Malam Apresiasi dan Pentas Seni, mahasiswa KKN UNY berupaya menjadikan momentum perayaan kemerdekaan tidak hanya sebagai ajang hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk merawat identitas budaya masyarakat. Dari bunyi thoklik, alunan gamelan karawitan, hingga gerak tari tradisional dan kreasi generasi muda, panggung di Padukuhan Kenteng menunjukkan bahwa budaya akan terus hidup ketika masyarakat memiliki ruang untuk mengenal, menikmati, dan mewariskannya.

Dengan demikian, pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pelaku seni atau pemerintah, tetapi merupakan upaya bersama yang dapat dimulai dari lingkungan masyarakat. Satu panggung, beragam kesenian, dan keterlibatan lintas generasi menjadi langkah kecil untuk menjaga budaya lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Penulis
Diah Nurasih
Editor
Dedy
Kategori Humas
IKU 2. Mahasiswa Mendapat Pengalaman di Luar Kampus