IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM DUNIA PENDIDIKAN

10
May
2012

Karakter atau watak pada hakekatnya merupakan ciri khas kepribadian yang berkaitan dengan timbangan moralitas normatif yang berlaku. Kualitas kepribadian seseorang bersifat relatif tetap dan akan tercermin dalam penampilan kepribadiannya ditinjau dari sudut timbangan nilai moral normatif. Model pembangunan karakter tersebut dirangkum dalam “Model Lima E” yaitu example atau teladan, experience atau pengalaman, education atau pendidikan, environment atau lingkungan, dan evaluation yang merupakan bentuk memberikan keputusan terhadap suatu keadaan berdasarkan pertimbangan tertentu. Demikian dikatakan Prof. Dr. Mohammad Surya, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Bandung dalam Seminar Nasional dan Temu Alumni, Sabtu (5/5) di Ruang Sidang Utama Rektorat UNY. Seminar bertema “Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Membangun Bangsa” tersebut  diselenggarakan oleh Ikatan Alumni UNY dalam rangka Dies Natalis UNY ke-48,  dan dibuka oleh Rektor UNY Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., MA. Pembicara lainnya adalah Prof. Suyanto, Ph.D, Dirjen Pendidikan Dasar Kemdikbud RI, Prof. Dr. Noor Rochman Hadjam, SU, Guru Besar Psikologi UGM, Sri Surya Widati Bupati Bantul dan KH Jazir Asp tokoh masyarakat pemerhati pendidikan.

Lebih lanjut Prof. Dr. Mohammad Surya menjelaskan ada sepuluh faktor dinamis sebagai penentu bagi terwujudnya mutu sekolah efektif yang pada gilirannya akan membangun karakter peserta didik dan lulusannya. “Sepuluh faktor tersebut adalah kepemimpinan, guru dan staf, proses belajar mengajar, pengembangan staf, kurikulum, tujuan dan harapan, iklim sekolah, penilaian diri, komunikasi serta keterlibatan orang tua dan masyarakat” kata Surya.

Sedangkan Prof. Suyanto, Ph.D mengatakan  pendidikan karakter harus terus diajarkan kepada anak didik secara berkesinambungan dari tingkat PAUD sampai perguruan tinggi dengan tidak mengabaikan keterlibatan keluarga, masyarakat dan lingkungan dalam menyukseskan pendidikan watak ini.  Melengkapi Suyanto, Prof. Dr. Noor Rochman Hadjam, SU menjelaskan mendidik karakter tidak hanya mengenalkan nilai-nilai secara kognitif tetapi juga melalui penghayatan secara afektif dan mengamalkan nilai-nilai tersebut secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. “Kegiatan siswa seperti pramuka, upacara bendera, palang merah remaja, teater, praktek kerja lapangan, menjadi relawan bencana alam, atau pertandingan olahraga dan seni adalah cara-cara efektif menanamkan nilai-nilai karakter yang baik pada siswa” kata Noor Rochman.  Senada dengan ketiga pembicara lainnya, Bupati Bantul Sri Surya Widati mengemukakan pendidikan berbasis karakter adalah penanaman nilai-nilai efektif sebagai penekanan yang harus dicapai pada semua mata pelajaran. Ia menekankan pendidikan berbasis karakter bukan merupakan mata pelajaran tersendiri melainkan dampak pengiring yang diharapkan tercapai. (deddy/ls).

submitted by humas