PENINGKATAN LAYANAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI BERKEBUTUHAN KHUSUS

Pendidikan sepanjang hayat secara implisit memiliki makna, bahwa pendidikan dimulai sejak adanya hayat, sejak seorang bayi ditiupkan “ruh” ke dalam tubuhnya. Berasamaan dengan itu secara hakiki kemampuan dan sistem nilai sudah tertanan dalam jiwa seseorang anak. Saat itulah pendidikan semestinya dimulai. Artinya, sejak anak masih dalam andungan seorang ibu, mereka harus mengaktualisasi dan mengaktivasi kemampuan dan nilai-nilai yang sudah ada. Akan tetapi, Brewer (2007) mengatakan bahwa usia yang sangat strategis bagi perkembangan anak selanjutnya adalah sejak lahir sampai usia delapan tahun. Jadi, kapan pendidikan harus dimulai, sejak dalam kandungan atau setelah lahir?. Sejauh kita memiliki kesiapan dan kemauan yang kuat, serta fasilitas pendukungnya yang memadai untuk memenuhi tumbuh kembang, semuanya akan berdampak positif dalam menstimulasi perkembangan anak selanjutnya. Intervensi pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas utama jika ingin balita kita tumbuh dengan baik dan sehat. Adanya posyandu misalnya, telah mengurangi dan meminimalisasi anak-anak yang kurang sehat karena faktor nutrisi, dan sebagian besar ank-anak sudah tumbuh dengan sehat.

                Sekarang ini, banyak anak usia dini yang proses tumbuh kembangnya berlangsung dengan cepat, fisik-motoriknya bagus, berpikirnya kreatif, berbicaranya lancar, atau faktor lainnya, yang mungkin tidak terjadi pada masa lampau, ketika seorang bayi butuh waktu beberapa hari atau bahkan mingguan untuk sekeedar membuka matanya saja setelah dilahirkan. Percepatan tumbuh kembang yang demikian itu membuat kita dan para orang tua merasa sangat senang. Hal itu sangat mungkin terjadi karena terpenuhinya gizi dan nutrisi yang diperlukan selama proses tumbuh kembang anak. Namun, ada kenyataan lain bahwa terjadinya percepatan tersebut juga berpengaruh terhadap percepatan masa puber. Santrock (2007)menjelaskan tentang keadaan tersebut, faktanya, sejfalan dengan waktu jadwal masa puber berubah. Di Norwegia, menarche (menstruasi) pertama anak perempuan, kini terjadi pada usia 13 tahun, di tahun 1840-an pada usia 17 tahun. Di Amerika usia rata-rata menarche turun rata-rata sekitar dua hingga empat bulan per dekade selama abad keduapuluh.

                Penelitian tentang status pendidikan anak usia dini dimata publik telah menarik perhatian berbagai pihak, tidak terkecuali pemerintah dan para praktisi pendidikan. Kajian-kajian dalam berbagai bidang terkait seperti, etologi, ekologi, psikologi, neurodains, ataupun pedagogis telah mendorong program-program layanan pendidikan usia dini dan pemenuhan kebutuhan fasilitas pendukung sebagaimana layanan untuk anak-anak usia sekolah.

                Etologi memandang tentang perkembangan, bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh faktor biologis dan evolusi (Santrock, 2007). Teori ini menekankan bahwa kepekaan kita terhadap jenis pengalaman senantiasa berubah dalam kehidupan. Dengan kata lain, ada periode kritis atau periode sensitif dalam beberapa pengalaman. Apabila kita gagal mendapat pengalaman sebelum periode sensitif, menurut teori etologi perkembangan tidak mungkin optimal. Penerapan penting dalam teori ini adalah konsep kelekatan (attachment) dari Bowlby (1989), bahwa kelekatan pada pengasuh pada satu tahun pertama kehidupan akan memiliki konsekuensi penting sepanjang hidup. Jika positif anak akan memiliki dasar lperkembangan yang baik terutama dalam hubungan sosial dan sebaliknya.

                Ekologi, menjelaskan adanya implikasi penting perkembanan anak dengan faktor lingkungan, terutama adalah lingkungan keluarga. Apa yang dialami dan dalam situasi seperti apa anak-anak menghabiskan waktunya untuk memperoleh pengalaman, akan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Jumlah dan kualitas interksi anak dengan keluarga dan teman-temannya juga akan berdampak penting terhadap perkembanan anak.

                Hasil kajian Balitbang Departemen Pendidikan Nasional, tahun 1999, (Bappenan, 2008) menunjukkan bahwa makin rendah tingkat kesiapan makin tinggi angka mengulang kelas di SD. Layanan Pendidikan Anak Usia Dini khususnya TK berdampak positif terhadap kesiapan bersekolah anak. Anak-anak kelas I SD yang berumur 6 dan 7 tahun yang memperoleh layanan TK menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam perkembangan akademik, ekspresi diri, sosial-emosional ataupun kemampuan menolong diri sendiri.

Proyek penelitian spectrum yang berlandaskan teori kecerdasan jamak dari Gardner (1993), dan teori perkekembangan non-universal dari David Henry, (1994) sebagaimana diungkapkan Roopnarine, (2009) menjelaskan bahwa setiap anak menunjukkan profil kemampuan kognitif yang berbeda. Semua kemampuan ini tidak tetap, sehingga bisa ditingkatkan dengan kesempatan pendidikan, seperti lingkungan yang kaya dengan materi yang mendorong pembelajaran dan pengungkapan diri. Di sini telah terjadi pergeseran pemikiran tradisional tentang sifat dasar pikiran manusia, perkembangannya, serta proses pndidikan yang dilakukan.

Sejatinya seorang anak dilahirkan untuk mewakili butir kesempurnaan kuasa Illahi, dalam sebuah episode kehidupan di dunia, “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, lalu kamu Dimatikan dan Dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”, (Q.S. 2:28). Ayat tersebut mengingatkan kita atas kuasa-Nya dalam penciptaan dalam keberadaan manusia di dunia ini. Secara umum, anak dilahirkan dengan kondisi beragam, tidak ada yang identik. Sebagian besar dari mereka dikaruniai kesempurnaan fisik dan mental intelektualnya. Anak-anak yang dinilai kurang beruntung, yang dalam konteks ini adalah anak berkebutuhan khusus itulah, yang dimasa lalu sebelum abad ke-15 sering mendapat perlakuan sangat diskriminatif, bahkan dibunuh karena dianggap sebagai kutukan Tuhan oleh masyarakat. Padahal, sesungguhnya siapapun dia dan bagaimanapun keadaannya, anak secara biologis merupakan insan yang sangat hebat, yang lahir dari proses “kompetisi” internal di antara ratusan atau ribuan juta sel sperma. Dengan demikian, tentu saja anak-anak berkebutuhan khusus, bukanlah sebagaimana yang sering distigmakan orang sebagai produk Tuhan yang gagal. Terkadang kita menghadapi keracunan dalam menggunakan istilah untuk anak berkebutuhan khusus. Ketika menyebut disabilitas berarti kita merujuk pada inabilitu yaitu kehilangan kemampuan pada kondisi biologis fisik, indera, otot. Sementara handicap adalah dampak atau konsekuensi dari disabilitas, (Gargiulo,2006). Di masyarakat banyak digunakan kata diffable yaitu kata singkat yang tidak akan pernah ditemukan artinya di kamus manapun, karena itu merupakan akronim dari different ability. Istilah ini mulai diperkenalkan pada tahun 1981 oleh orang-orang yang tidak suka dengan istilah disability pada konferensi ketunaneteraan yang dislenggarakan bersama oleh International Federation of the Blind (IFB) dan World Council for the Welfare of the Blind (WCWB) di Singapura (Didi tarsidi, 2009). Akan tapi, yang mana dan seberapa besar perbedaan itu? We are all different.

Dalam refensi, anak-anak berkebutuhan khusus didefinisikan sebagai anak-anak yang mengalami hambatan fisik, mental-intelektual, ataupun social-emosional. Undang-undang Nomor 20/2003, pada pasal 32 ayat 2, menjelaskan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, social, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Anak-anak berkebutuhan khusus mencakup berbagai jenis, klasifikasi dan karakteristiknya masing-masing. Berikut ini akan dikemukaan beberapa jenis anak berkebutuhan khusus:

(1)    Anak- anak yang mengalami disfungsi penglihatan yang mengakibatkan keterbatasan dalam orientasi lingkungan. Ada dua kategori hambatan visual yaitu kategori buta total (the blind) yaitu mereka sama sekali tidak dapat melihat, dan kategori kurang lihat (low vision) yaitu mereka yang masih memiliki sisa penglihatan. Keduanya secara umum mengalami disorientasi lingkungan dan membutuhkan layanan pendidikan khusus.

(2)    Anak-anak dengan hambatan pendengaran, yaitu mereka mengalami disfungsi pendengaran, yang menyebabkan hambatan berbahasa dan berkomunikasi. Secara umum, hambatan pendengaran terdiri ats tuli total (the deaf) yaitu mereka yang sama sekali tidak memiliki kemampuan mendengar, dan kurang dengar (hard of hearing) yaitu mereka yang masih memiliki sisa pendengaran,

(3)    Anak-anak dengan hambatan fisik, adalah mereka yang mengalami keterbatasan motorik, tidak mampu mengontrol gerakan, seperti halnya anak-anak cerebal palsy (cp) yang umumnya disebabkan factor genetic, disfungsi minimal otak, atau kerusakan system syaraf pusat,

(4)    Anak-anak dengan keterbatasan intelektual, yaitu mereka yang diidentifikasi dengan usia mentalnya (mental age) berada di bawah usia kronologisnya (cronological age), dan kemampuan intelektual yang dimilikinya setara dengan anak-anak kelas lima sekolah dasar,

(5)    Anak-anak berkesulitan belajar(learning disabilities), dengan beragam spectrum-nya, menurut Gargiulo (2006) mereka memiliki rentang permasalahan yang luas mencakup gangguan pemusatan perhatian, kelemahan kemampuan motorik, masalah protes informasi, masalah kognitif, kesulitan dalam berbahasa oral, membaca, menulis, berhitung, dan keterampilan social

(6)    Anak-anak dengan gangguan emosi dan perilaku, yang cenderung tidak mampu mengontrol perilakunya, seriing merespon negative lingkungannya, agresif dan suka bertindak destruktif.

(7)    Anak-anak autis merupakan bagian dari anak berkebutuhan khusus yang memiliki permasalahan berkenaan interaksi social dan komunikasi nonverbal, dan bahkan tidak mau melakukan tatap mata, yang umumnya disebabkan gangguan perkembangan biologis yang kompleks. Jumlahnya tidak terlalu besar dibanding anak-anak pada umumnya, sekitar 10 dari 10.000 anak signifikan memenuhi kriteria Asperger’s Disorder, (Stephanie, 2012), yaitu mereka yang mengalami gangguan perkembangan sosial yang signifikan atau lebh dikenal sebagai gangguan autistic,

(8)Anak-anak cerdas istimewa (special gifted), yaitu anak-anak yang memiliki tingkat perkembangan yang sangat cepat dalam berbagai bidang, terutama dalam berbahasa. Penguasaan kosakatanya sangat cepat dan luas yang ditunjukkan dalam percakpan dalam berbagai topic, memiliki cara yang kreatif dalam mengelaborasi cerita, membuat sajak, mengarang lagu, dan seringkali memulai membaca dan menulis lebih awal dibanding teman-teman sebayanya, (Esa, 2003). Serupa dengan Essa, Marland (1978) menyebutkan beberapa kriteria performans yang ditunjukkan anak cerdas istimewa mencakup: (a) kemampuan intelektual secara umum, (b) kemampuan akademik khusus, (c) pemikiran yang kreatif dan produktif, (d) penampilan seni visual, (e) kemampuan leadership, dan (f) kemampuan psikomotor, (Garigulo, 2006)

 

Jenis jenis tersebut, hanyalah sebatas pengertian dasar dan belum membicarakan tentang persoalan-persoalan rinci yang mereka hadapi. Mereka adalah anak-anak yang telah mengalami berbagai hambatan dan persoaln sejak tahun-tahun pertama kehidupannya, sebagai konsekuensi atas kelainan yang disandangnya. Permasalahan akan semakin mengingat bilamana orang-orang dan lingkungan sekitarnya tidak peduli dan miskin akan perhatian.

 

Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam bidang Pendidikan Anak Usia Dini Berkebutuhan Khusus pada Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, Rabu 10 Juni 2015

Prof. Dr. Suparno, M.Pd
Prof. Dr. Suparno, M.Pd