Cetak Pemimpin Inklusif, BEM KM UNY Gelar Rintis Juang 2026 Bersama GKR Bendara

Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui Departemen Sumber Daya Mahasiswa menyelenggarakan Rintis Juang Indonesian Future Leaders 2026 di Digital Library UNY, belum lama ini. Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan yang inklusif, berlandaskan kesetaraan gender, komunikasi, dan empati.

Ketua Panitia Rintis Juang 2026, Risma Syifa Az Zahra, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi keresahan terhadap berbagai kasus pelecehan terhadap perempuan. Kondisi tersebut mendorong panitia mengangkat tema kesetaraan gender sebagai bagian penting dalam membangun karakter pemimpin masa depan. “Kami mau membangun jiwa kepemimpinan, tetapi dengan jiwa yang sadar akan kesetaraan gender,” ungkap Risma.

Kegiatan yang berlangsung selama satu bulan hingga 24–25 Oktober 2026 ini mempertemukan peserta dengan mentor masing-masing. Para peserta akan mengikuti sejumlah penugasan, mulai dari penyusunan makalah tentang kesetaraan gender, kajian strategis, pengabdian masyarakat, hingga pembuatan video kampanye. Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan debat dan presentasi.

Acara dibuka oleh Sekretaris Direktorat Akademik dan Kemahasiswaan UNY, Prof. Dr. Iis Prasetyo, S.Pd., M.M., yang hadir mewakili Rektor UNY. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kepemimpinan tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui pengalaman, pelatihan, dan keterlibatan aktif dalam organisasi. Menurutnya, organisasi mahasiswa menjadi ruang pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, bekerja sama, berinteraksi, serta meningkatkan kepekaan sosial. “Berbuatlah positif ketika masih muda seperti sekarang ini,” pesannya kepada para peserta.

Narasumber utama, Gusti Kanjeng Ratu Bendara, Penghageng KHP Nitya Budaya Keraton Yogyakarta, mengajak mahasiswa memahami kepemimpinan melalui pengalaman dan empati. Putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X tersebut menekankan bahwa perempuan memiliki peluang yang sama untuk menjadi pemimpin. Pengalaman mengelola berbagai tanggung jawab dalam keluarga, misalnya, dapat menjadi bekal kepemimpinan. “Kita perempuan di rumah me-manage orang banyak, kenapa kita tidak bisa jadi leader di luar yang me-manage orang banyak lainnya?” ujarnya. Ia juga mendorong mahasiswa untuk berani berorganisasi, terutama mereka yang masih merasa kurang percaya diri. Menurutnya, kegagalan dan miskomunikasi merupakan bagian dari proses pembelajaran yang perlu disikapi dengan introspeksi.

Selain itu, GKR Bendara menekankan pentingnya empati dalam memimpin. Seorang pemimpin perlu memahami karakter dan kondisi anggota, bukan sekadar ingin mengetahui permasalahan mereka. Pemimpin juga harus terbuka terhadap berbagai pendapat dan mampu menyesuaikan gaya komunikasi dengan kebutuhan tim. “Leader itu harus fluid,” tegasnya.

Peserta menyambut positif kegiatan ini. Anas dari Program Studi Administrasi Publik menilai materi yang disampaikan membuka wawasan tentang pentingnya kesetaraan gender agar perempuan berani mengambil peran. Sementara itu, Bella dari Pendidikan Bahasa Inggris memahami bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan kapasitas yang dapat dikembangkan siapa pun. Aulia dari Psikologi juga memperoleh pemahaman bahwa pengalaman kepemimpinan perlu dibangun secara bertahap.

Risma berharap Rintis Juang 2026 mampu menumbuhkan kesadaran mahasiswa tentang kepemimpinan dan kesetaraan gender, sekaligus mendorong terciptanya relasi yang inklusif, saling menghargai, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Penulis
Nanik Wijayanti
Editor
Dedy
Kategori Humas
IKU