Dalam rangka memberikan penguatan pemahaman sivitas akademika terkait kebijakan akreditasi perguruan tinggi (APT) maupun akreditasi program studi (APS) di bawah Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Direktorat Penjaminan Mutu Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyelenggarakan Workshop Implementasi Kebijakan Akreditasi Perguruan Tinggi dan Akreditasi Program Studi pada Selasa (3/3) di Ruang Sidang Utama Rektorat UNY. Kegiatan ini dihadiri Rektor, para pimpinan universitas, serta perwakilan perguruan tinggi mitra.
Direktur Direktorat Penjaminan Mutu UNY, Prof. Dr. Lia Yuliana menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa workshop ini bertujuan memperkuat pemahaman sivitas akademika UNY terhadap kebijakan terbaru akreditasi perguruan tinggi dan program studi di bawah BAN-PT. “Workshop ini menjadi momentum penting untuk memastikan seluruh elemen akademik memahami regulasi dan arah kebijakan akreditasi yang terus berkembang,” ujarnya.
Workshop menghadirkan Prof. Dr. Ir. Ari Purbayanto, Ph.D., Direktur Dewan Eksekutif BAN-PT, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan kebijakan terbaru berdasarkan Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 yang menegaskan bahwa akreditasi merupakan bagian integral dari Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi (SPM Dikti), yang mencakup Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME). Akreditasi diposisikan sebagai instrumen strategis untuk memastikan mutu tridharma perguruan tinggi yang berkualitas, relevan, dan berdampak.
Prof. Ari juga menekankan bahwa status akreditasi kini terdiri atas Terakreditasi, Terakreditasi Unggul, dan Tidak Terakreditasi. Setiap perguruan tinggi dan program studi wajib menjaga masa berlaku akreditasi agar tetap sah dalam meluluskan mahasiswa dan menerbitkan ijazah. Instrumen terbaru, yakni IAPS 5.1 dan IAPT 4.1, mengarahkan penilaian pada penguatan budaya mutu, relevansi tridharma, akuntabilitas tata kelola, serta diferensiasi misi, sehingga akreditasi tidak lagi sekadar administratif, melainkan berbasis kinerja dan dampak nyata.
Selain itu, implementasi sistem informasi SAPTO 2.0 menjadi bagian penting dalam transformasi proses akreditasi. Sistem ini menghadirkan integrasi data dengan PDDIKTI, mekanisme pelacakan daring, serta pemantauan mutu berkelanjutan. Transformasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas proses akreditasi di lingkungan perguruan tinggi.
Rektor UNY, Prof. Dr. Sumaryanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat dinantikan dan memiliki arti strategis bagi institusi. Menurutnya, workshop menjadi sarana penguatan kapasitas pimpinan, pengelola program studi, dan unit penjaminan mutu dalam mengelola data terintegrasi, melakukan sinkronisasi dengan PDDIKTI, serta menyiapkan dokumen evaluasi diri yang kredibel. Ia menegaskan bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan BAN-PT menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan publik serta legitimasi akademik.
Workshop diikuti oleh 139 peserta, terdiri atas 121 peserta dari Universitas Negeri Yogyakarta dan 18 peserta dari enam perguruan tinggi, yaitu UGM, ISI Yogyakarta, AAU, USD, dan Polbangtan Yoma. Kegiatan ini menegaskan komitmen UNY dalam memperkuat tata kelola akademik dan meningkatkan daya saing institusi secara nasional maupun internasional melalui implementasi kebijakan akreditasi yang adaptif dan berkelanjutan.
English