Wacana Society 5.0 menuntut dunia pendidikan untuk bergerak melampaui sekadar transfer pengetahuan. Tantangan ini dijawab oleh Roro Wilis, M.Pd melalui tesis magisternya yang mengkaji penerapan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 9 Yogyakarta. Penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran sejarah dapat dihidupkan secara lebih bermakna dengan mengaitkan materi pelajaran pada konteks nyata kehidupan peserta didik.
Roro Wilis merupakan mahasiswa Program Studi S2 Pendidikan Sejarah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNY. Melalui kajian akademiknya, ia menyoroti masih kuatnya pola pembelajaran sejarah yang berpusat pada ceramah dan hafalan. Kondisi tersebut dinilai kurang mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta penghayatan nilai-nilai kebangsaan siswa, meskipun Kurikulum Merdeka telah memberikan ruang luas bagi pembelajaran berdiferensiasi dan berbasis proyek.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi nonpartisipatif, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi yang melibatkan wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru sejarah, dan peserta didik dari kelas X hingga XII. Penelitian lapangan diawali dengan observasi awal untuk memetakan praktik pembelajaran sejarah yang telah berjalan.
“Pembelajaran sejarah seharusnya tidak berhenti pada hafalan peristiwa, tetapi membantu siswa memahami makna dan relevansinya dengan kehidupan mereka hari ini,” ujar alumni SMAN 1 Pacitan tersebut, Kamis (19/2/26). Menurutnya, pendekatan CTL memungkinkan siswa membangun pengetahuan secara aktif melalui pengalaman langsung, interaksi sosial, dan pemanfaatan konteks budaya lokal sebagai sumber belajar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah di SMA Negeri 9 Yogyakarta telah merepresentasikan tujuh komponen utama CTL, yakni konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian autentik. Ketujuh komponen tersebut terintegrasi dalam satu kerangka pembelajaran bermakna yang mendorong siswa aktif mengonstruksi pemahaman. Praktik kontekstual seperti demonstrasi tradisi lokal, analisis arsip sejarah, kunjungan sumber belajar, hingga produksi film dan vlog sejarah menjadi medium bagi siswa untuk mengaitkan masa lalu dengan realitas masa kini.
Secara teoretis penelitian ini berpijak pada konstruktivisme sosial yang menekankan pentingnya interaksi dan scaffolding dalam proses belajar. Gadis kelahiran 14 Desember 2001 itu menegaskan bahwa guru berperan sebagai fasilitator dan mediator, bukan pusat informasi. Meski demikian, penelitian ini juga mencatat sejumlah hambatan, terutama keterbatasan waktu pembelajaran dan kompleksitas pelaksanaan proyek berbasis lapangan. “Strategi manajemen waktu dan prioritas proyek bermakna menjadi solusi yang diterapkan agar pembelajaran tetap selaras dengan prinsip CTL” ungkap Roro Wilis.
Lebih dari sekadar kajian akademik, tesis ini berkontribusi pada pengembangan praktik pembelajaran sejarah yang kontekstual dan humanis. Hasil penelitian juga telah dipublikasikan dalam sejumlah artikel jurnal terakreditasi serta book chapter kolaboratif.
Tesis tersebut menjadi tonggak penting perjalanan akademik Roro Wilis. Karya ilmiah ini tidak hanya memperkaya khazanah pendidikan sejarah, tetapi juga mengantarkannya meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00 pada Wisuda Universitas Negeri Yogyakarta periode Februari 2026.
English