Di tengah lumpur yang belum sepenuhnya mengering dan bangunan yang masih menyisakan bekas genangan, suara anak-anak kembali terdengar. Tawa dan bacaan pelajaran menjadi tanda bahwa harapan belum padam. Keberlanjutan pendidikan bagi anak-anak terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu fokus utama pemulihan pascabencana. Upaya ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Pendidikan tidak boleh berhenti, bahkan dalam situasi darurat sekalipun.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kolaborasi dari Universitas Samudra (UNSAM) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) turut mengambil peran aktif dalam mendukung pendidikan darurat di wilayah terdampak. Mereka hadir bukan hanya sebagai relawan, tetapi sebagai pendamping belajar dan penyemangat bagi anak-anak yang tengah bangkit dari trauma bencana. Di Desa Mesjid Sungai Iyu, Kecamatan Bendahara, aktivitas pembelajaran tatap muka dapat kembali berjalan relatif cepat. Banjir tidak terlalu merusak bangunan sekolah, meskipun sebagian siswa harus belajar tanpa seragam karena pakaian mereka terendam dan hanyut terbawa arus.
Sebagai bentuk dukungan, tim KKN UNSAM dan UNY menginisiasi pembelajaran tambahan di kantor kepala desa. Ruang sederhana itu disulap menjadi kelas darurat yang hangat dan penuh interaksi.
Andin, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNY, turut membantu anak-anak memahami pelajaran berhitung melalui permainan edukatif sederhana. Sementara itu, Syaif dari Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) menghadirkan aktivitas gerak dan permainan ringan untuk mengembalikan keceriaan serta membantu pemulihan psikososial siswa.
Ikhlas, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), mendampingi siswa dalam pembelajaran sains dasar dengan pendekatan kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Di sisi lain, Albar dari Fakultas Teknik (FT) membantu memastikan fasilitas belajar darurat lebih tertata dan aman digunakan.
“Kami ingin memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak belajar mereka. Sekolah darurat bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk memulihkan semangat dan kepercayaan diri setelah bencana,” ujar Rizky, Ketua Tim KKN Kolaborasi UNSAM dan UNY.
Berbeda dengan kondisi di Desa Mesjid Sungai Iyu, situasi di Desa Babo, Kecamatan Bandar Pustaka, jauh lebih memprihatinkan. Banjir dengan ketinggian signifikan menyebabkan kerusakan parah. Beberapa rumah warga terseret arus dan rata dengan tanah, sementara fasilitas umum mengalami kerusakan berat.
Kegiatan belajar mengajar terpaksa dilakukan di tenda-tenda darurat yang didirikan sebagai ruang kelas sementara. Di bawah keterbatasan sarana dan prasarana, guru dan relawan tetap berupaya menghadirkan suasana belajar yang aman dan kondusif.
Seorang guru di Desa Babo menuturkan bahwa keterbatasan tidak menyurutkan semangat belajar siswa. “Kami mengajar dengan apa yang ada. Yang terpenting anak-anak tetap merasa aman dan tidak kehilangan kesempatan untuk belajar,” ujarnya.
Kolaborasi antara pemerintah desa, tenaga pendidik, dan mahasiswa KKN menjadi bukti bahwa implementasi SDGs bukan sekadar agenda global, melainkan dapat diwujudkan melalui aksi nyata di tingkat lokal. Dari ruang kelas yang kembali dibuka hingga tenda darurat yang menjadi tempat belajar sementara, semangat pendidikan terus menyala.
Di tengah keterbatasan, mahasiswa UNY bersama mitra kolaborasi menunjukkan bahwa pendidikan adalah hak yang harus dijaga dalam kondisi apa pun. Karena bagi anak-anak Aceh Tamiang, belajar bukan hanya tentang pelajaran, tetapi tentang harapan akan masa depan yang lebih baik.
English