Berawal dari keresahan mencari alternatif Kuliah Kerja Nyata (KKN), lima mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) justru menemukan jalan baru: membangun sebuah brand sepatu kulit yang kini mulai dikenal dengan nama ‘Kula Footwear’.
Di balik brand tersebut, ada sosok Sarah Oktifa Riffandjani, mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa Seni dan Budaya yang perlahan mengambil peran lebih besar dalam usaha keluarga di bidang kerajinan sepatu kulit asal Magetan, Jawa Timur. Baginya, PLK Wirausaha bukan sekadar program akademik, tetapi menjadi titik awal untuk mengembangkan mimpi yang lebih nyata. “Awalnya kami hanya ingin mencari kegiatan pengganti KKN. Tapi karena saya punya usaha keluarga di bidang sepatu kulit, kami berpikir kenapa tidak sekalian dikembangkan bersama tim,” tutur Sarah, Jumat (20/3/26).
Bersama empat rekannya—Laelatul Latifah, Nurfadhila Hidayati, Nicoleta Putri Anjali, dan Gheisya Zahra Aulia—Sarah mulai merintis Kula Footwear dari nol. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga membangun identitas brand, menyusun strategi pemasaran, hingga belajar memahami dinamika dunia usaha secara langsung.
Setiap anggota tim mengambil peran penting. Laelatul memastikan alur produksi dan komunikasi dengan pelanggan berjalan lancar. Nurfadhila menghidupkan brand melalui media sosial. Gheisya menuangkan kreativitas dalam desain dan konten visual. Sementara Nicoleta menjaga stabilitas keuangan usaha.
Produk Kula Footwear sendiri dibuat secara handmade melalui kolaborasi dengan pengrajin di Magetan. Dari pantofel hingga flat shoes, setiap pasang sepatu membawa sentuhan khas yang mengedepankan kualitas sekaligus nilai estetika. Bahkan, mereka mulai bereksperimen dengan teknik eco-print sebagai bentuk inovasi ramah lingkungan.
Namun, perjalanan ini tidak selalu mudah. Dengan sistem produksi berbasis pre-order dan waktu pengerjaan hingga tiga minggu, mereka harus mampu menjaga kepercayaan pelanggan di tengah keterbatasan. Di sisi lain, membagi waktu antara kuliah dan menjalankan usaha juga menjadi tantangan tersendiri.
Meski demikian, perlahan hasilnya mulai terlihat. Dalam kurun waktu tiga bulan, sekitar 30 pasang sepatu berhasil terjual ke berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta, Bandung, Solo, hingga Bangka Belitung. Angka yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan cerita perjuangan di baliknya. “Yang paling berharga bukan hanya penjualannya, tapi proses belajar kami. Kami benar-benar merasakan bagaimana membangun usaha dari nol,” ujar Sarah.
Selama proses tersebut, tim juga mendapat pendampingan dari dosen pembimbing, Nur Aulia Wijayanti, S.Pd., M.Pd. dan Muhamad Nur Chozin, S.Pd., M.P.A., yang membantu mengarahkan strategi bisnis dan pengembangan usaha mereka.
Bagi Sarah dan tim, Kula Footwear bukan lagi sekadar proyek PLK. Ada harapan besar agar brand ini terus tumbuh, menjangkau pasar yang lebih luas, dan suatu hari nanti menjadi usaha yang benar-benar mapan. “Kami ingin Kula Footwear terus berkembang, tidak berhenti di sini. Semoga ke depan bisa masuk marketplace, ikut expo, dan dikenal lebih luas,” katanya penuh harap.
Kisah Kula Footwear menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mampu menciptakan peluang nyata melalui inovasi dan keberanian mencoba. Program PLK Wirausaha pun hadir sebagai jembatan yang menghubungkan dunia akademik dengan pengalaman langsung di lapangan.
Kegiatan ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran berbasis pengalaman nyata, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan mendorong kewirausahaan mahasiswa, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengembangan produk handmade yang inovatif dan berkelanjutan.
English