Dua Mahasiswa UNY Jadi Finalis Pilmapres Nasional 2026

Dua mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Nosi Anggana dan Kuswantoro, berhasil menjadi finalis Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Nasional 2026 yang berlangsung di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, Banten, pada 4–8 Agustus 2026. Keduanya mewakili UNY pada kategori yang berbeda, yakni Program Sarjana dan Program Disabilitas.

Nosi Anggana, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Musik, tampil pada kategori Program Sarjana. Sementara itu, Kuswantoro, mahasiswa Program Studi Pendidikan Luar Biasa, menjadi finalis pada kategori Program Disabilitas.

Keberhasilan keduanya hingga tahap nasional menjadi buah dari proses pembinaan dan pengembangan potensi yang dilakukan secara berkelanjutan. Dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman yang berbeda, Nosi dan Kuswantoro menghadirkan gagasan serta pengalaman yang menunjukkan kontribusi mahasiswa UNY dalam menjawab berbagai persoalan di masyarakat.

Nosi mengangkat gagasan yang memadukan bidang musik, kearifan lokal Jawa, dan isu lingkungan. Melalui gagasan tersebut, ia berupaya menghadirkan pendekatan kreatif dalam merespons tantangan krisis iklim, khususnya pada sektor pertanian Indonesia.

“Saya ingin turut berkontribusi dan memberikan dampak dalam menyelesaikan tantangan krisis iklim di sektor pertanian Indonesia melalui musik dan kearifan lokal Jawa,” ujar Nosi.

Selain berhasil menjadi finalis Pilmapres Nasional 2026, Nosi juga meraih Anugerah Khusus Kesenian Berdampak. Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas gagasan dan kontribusinya melalui bidang seni yang dikembangkan untuk memberikan dampak lebih luas.

Nosi mengaku bersyukur dapat mengikuti seluruh rangkaian Pilmapres hingga tingkat nasional. Menurutnya, proses tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk berkompetisi, tetapi juga menjadi ruang untuk mengembangkan diri, menguji gagasan, serta belajar dari mahasiswa berprestasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

“Saya sangat bersyukur. Semoga proses yang selama ini saya ikhtiarkan dapat memberikan dampak bagi lingkungan sekitar,” katanya.

Sementara itu, Kuswantoro menilai keikutsertaannya dalam Pilmapres Nasional menjadi pengalaman penting untuk menunjukkan bahwa mahasiswa disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, berprestasi, dan memberikan kontribusi.

“Terima kasih kepada bapak dan ibu atas dukungan yang telah diberikan kepada kami. Ini merupakan pengalaman yang sangat berharga di tingkat nasional. Semoga kami dapat menginspirasi adik-adik di UNY dan ke depan bendera UNY dapat berkibar lebih tinggi lagi,” ungkapnya.

Ketua Program Studi Pendidikan Luar Biasa UNY sekaligus pembimbing Pilmapres UNY, Sukinah, mengatakan bahwa Pilmapres merupakan ajang prestisius yang membutuhkan persiapan matang dan proses pembinaan yang panjang. Menurutnya, mahasiswa perlu mempersiapkan berbagai aspek sejak jauh hari agar mampu tampil optimal di tingkat nasional.

“Mahasiswa yang akan mengikuti Pilmapres perlu mempersiapkan berbagai aspek sebaik mungkin agar dapat mencapai hasil maksimal, termasuk kesiapan akademik, capaian unggulan, kemampuan komunikasi, dan kondisi psikologis,” jelas Sukinah.

Ia menambahkan, prestasi yang diraih mahasiswa tidak muncul secara instan. Pembinaan perlu dilakukan secara konsisten agar mahasiswa mampu mengenali potensi, mengembangkan capaian unggulan, sekaligus membangun kepercayaan diri untuk berkompetisi di tingkat nasional.

PIC Pilmapres UNY, Eko Prianto, mengatakan capaian Nosi dan Kuswantoro tidak semata-mata dilihat dari hasil akhir kompetisi. Menurutnya, proses pembinaan yang mereka jalani juga menunjukkan ketekunan, keberanian untuk belajar, serta kesiapan menerima masukan dan melakukan perbaikan.

“Sejak awal pembinaan hingga tampil di tingkat nasional, Nosi dan Kuswantoro menunjukkan ketekunan, keberanian untuk terus belajar, serta kemauan menerima masukan. Mereka terus menyempurnakan gagasan, meningkatkan capaian unggulan, dan mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris,” tutur Eko.

Menurut Eko, proses tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk mahasiswa yang tidak hanya memiliki prestasi, tetapi juga mampu mengembangkan gagasan yang relevan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Pilmapres bukan garis akhir, melainkan titik awal untuk melangkah lebih jauh. Kami berharap pengalaman ini semakin menguatkan karakter, kepercayaan diri, dan semangat mahasiswa untuk terus berkarya sekaligus menginspirasi calon peserta Pilmapres pada tahun berikutnya,” katanya.

Bagi Nosi, pengalaman mengikuti Pilmapres Nasional menjadi pijakan untuk terus berkarya dan memberikan manfaat melalui bidang yang ditekuninya. Ia berharap semangat tersebut dapat terus dijaga sesuai dengan tagline Pilmapres, yakni “Berprestasi, Berkarakter, dan Berdampak.”

Capaian Nosi dan Kuswantoro juga merefleksikan komitmen UNY dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan potensi dan prestasi mahasiswa, serta SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui ruang prestasi yang inklusif bagi mahasiswa disabilitas. Gagasan Nosi mengenai pemanfaatan musik dan kearifan lokal Jawa untuk merespons krisis iklim juga sejalan dengan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim.

Melalui prestasi dan gagasan yang dikembangkan mahasiswa, UNY terus mendorong pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga membangun karakter, inklusivitas, kepedulian terhadap lingkungan, dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Capaian Nosi dan Kuswantoro diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa UNY lainnya untuk berani mengembangkan potensi, mempersiapkan diri sejak dini, dan menghadirkan gagasan yang berprestasi, berkarakter, dan berdampak.

Penulis
Tsania Nur Diyana
Editor
Dedy
Kategori Humas
IKU 2. Mahasiswa Mendapat Pengalaman di Luar Kampus