Edukasi HIV dan AIDS, Mahasiswa PK UNY Ajak Remaja Hapus Stigma

Pengetahuan yang benar tentang HIV dan AIDS bukan hanya penting untuk menjaga kesehatan, tetapi juga menjadi langkah awal untuk menghentikan stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV (ODHIV). Pesan inilah yang dibawa mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui edukasi kesehatan bagi siswa SMK Negeri 1 Wonosari, Kabupaten Gunungkidul.

Bekerja sama dengan Puskesmas Wonosari I, mahasiswa PK UNY Tahun Akademik 2026/2027 menyelenggarakan sosialisasi bertema “Meningkatkan Pengetahuan Remaja Tentang HIV dan AIDS” belum lama ini. Sebanyak 78 siswa kelas X mengikuti kegiatan yang dirancang untuk memberikan pemahaman mengenai HIV dan AIDS sekaligus meluruskan berbagai informasi keliru yang masih beredar di masyarakat.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Edukasi tidak hanya diarahkan pada pemahaman mengenai kesehatan, tetapi juga pembentukan sikap remaja agar lebih peduli, empati, dan tidak melakukan diskriminasi terhadap ODHIV.

Selama ini, masih terdapat sejumlah mitos mengenai penularan HIV yang dapat memunculkan ketakutan sekaligus perlakuan diskriminatif. Berjabat tangan, berpelukan, menggunakan alat makan bersama, hingga gigitan nyamuk, misalnya, kerap dianggap sebagai media penularan HIV. Kesalahpahaman tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya memberikan informasi kesehatan berbasis fakta kepada remaja.

Materi sosialisasi disampaikan oleh tenaga kesehatan Puskesmas Wonosari I, Tri Resmiyati, S.Tr.Keb. Penyampaian dilakukan secara komunikatif dan interaktif agar materi lebih mudah dipahami oleh peserta didik.

Para siswa mendapatkan penjelasan mengenai pengertian HIV dan AIDS, perbedaan HIV sebagai virus dengan AIDS sebagai kondisi ketika sistem kekebalan tubuh mengalami penurunan, cara penularan, tanda dan gejala awal, pentingnya tes HIV, pengobatan antiretroviral (ARV), serta berbagai langkah pencegahan.

Agar suasana pembelajaran tidak berlangsung satu arah, peserta juga diajak mengikuti permainan “Mitos atau Fakta” dan diskusi studi kasus. Melalui aktivitas tersebut, siswa ditantang untuk membedakan informasi yang benar dan keliru sekaligus berpikir kritis terhadap berbagai informasi mengenai HIV dan AIDS yang mereka temui.

Pesan mengenai pentingnya menghilangkan stigma menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam kegiatan tersebut. Tri Resmiyati menegaskan bahwa masyarakat perlu membedakan antara perilaku berisiko dan individu yang hidup dengan HIV. “Yang harus dihindari adalah perilaku yang berisiko, bukan orangnya. ODHIV tetap memiliki hak untuk belajar, bekerja, dan bergaul tanpa diskriminasi,” tegasnya.?p>

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa edukasi HIV dan AIDS tidak berhenti pada persoalan bagaimana mencegah penularan. Pengetahuan yang benar juga diperlukan untuk membangun lingkungan sosial yang aman dan inklusif bagi setiap orang.

Antusiasme peserta terlihat selama mengikuti rangkaian kegiatan. Melalui edukasi tersebut, siswa diharapkan mampu memahami HIV dan AIDS berdasarkan informasi ilmiah, menerapkan perilaku hidup sehat, serta tidak mudah mempercayai informasi yang keliru.

Lebih dari itu, pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat dibagikan kembali kepada teman sebaya, keluarga, maupun lingkungan sekitar. Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat berperan sebagai agen edukasi kesehatan di tengah masyarakat.

Kolaborasi mahasiswa PK UNY, Puskesmas Wonosari I, dan SMK Negeri 1 Wonosari menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan dapat menjadi ruang bersama untuk membangun generasi muda yang sehat sekaligus memiliki kepedulian sosial.

Melalui kegiatan yang berkelanjutan, edukasi kesehatan reproduksi diharapkan dapat menjangkau lebih banyak remaja di Kabupaten Gunungkidul. Dengan pengetahuan yang tepat, diharapkan tumbuh generasi yang mampu menjaga kesehatan diri, menghormati hak ODHIV, dan turut menciptakan lingkungan yang bebas stigma dan diskriminasi.

 

Penulis
Fardariyan
Editor
Dedy
Kategori Humas
IKU 2. Mahasiswa Mendapat Pengalaman di Luar Kampus