Lima mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggagas inovasi pengabdian masyarakat berbasis literasi untuk menjawab persoalan pendidikan karakter anak di Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Genuk, Kota Semarang. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) bertajuk Pelita Aksara Pelangi Anak, mereka berupaya membangun karakter anak melalui pendekatan sastra yang kreatif dan menyenangkan.
Tim mahasiswa tersebut terdiri atas Mutiara Firdaus (ketua), Bagaskara Putra Utama, Bastian Agrinitus dari Program Studi Sastra Indonesia, serta Fauzan Nur Alamsyah dan Sabina Sinkhu Fisicella dari Program Studi Teknologi Pendidikan. Kelima mahasiswa ini mengusung program kolaboratif yang memadukan literasi anak, pendidikan karakter, dan pelibatan keluarga sebagai fondasi perubahan sosial.
Ketua tim, Mutiara Firdaus, menjelaskan bahwa program ini lahir dari keresahan atas kondisi sosial anak-anak di Trimulyo. Berdasarkan hasil observasi bersama mitra, sejumlah anak usia sekolah dasar dinilai mulai terpapar perilaku negatif seperti penggunaan bahasa kasar hingga kecenderungan menormalisasi kekerasan akibat pengaruh lingkungan pergaulan. Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya pengawasan orang tua dan terbatasnya ruang ekspresi positif bagi anak-anak.
Melalui Pelita Aksara Pelangi Anak, mahasiswa UNY menawarkan pendekatan berbeda. Alih-alih pembinaan konvensional, program ini menggunakan sastra anak sebagai medium pendidikan karakter melalui kegiatan membaca cerita, menulis kreatif, story telling, hingga diskusi moral yang dikemas secara interaktif. Tidak hanya menyasar anak-anak, program ini juga melibatkan orang tua melalui pelatihan pola asuh guna memperkuat hubungan keluarga dan pengawasan terhadap tumbuh kembang anak.
Program tersebut dirancang dalam lima tahapan utama, yakni Pelita Harapan sebagai tahap persiapan, Pelita Cendekia untuk pengenalan program, Pelita Jiwa sebagai evaluasi awal kemampuan anak, Pelita Bangsa sebagai kegiatan inti, dan Pelita Aksara sebagai evaluasi akhir. Pada tahap inti, anak-anak akan didampingi membuat karya sastra dan menampilkan cerita mereka di hadapan orang tua, sementara orang tua mengikuti sesi PARENTing (Pahami, Asah, Respons, Empati, Nyatakan, Tumbuhkan) untuk memperkuat pola pengasuhan berbasis karakter.
Bastian Agrinitus, salah satu anggota tim, menuturkan bahwa sastra dipilih karena dinilai efektif menanamkan nilai moral tanpa terasa menggurui. Melalui cerita, anak-anak diajak memahami nilai seperti kejujuran, empati, keberanian, dan toleransi secara lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, kegiatan kreatif seperti menulis dan berkisah diharapkan menjadi ruang positif untuk menyalurkan ekspresi anak.
Selain membangun karakter anak, program ini juga diharapkan memperkuat ekosistem pendidikan nonformal di lingkungan masyarakat. Karang Taruna Kelurahan Trimulyo dilibatkan sebagai mitra utama yang membantu koordinasi peserta, pendampingan kegiatan, hingga keberlanjutan program setelah PKM selesai dilaksanakan. Tim mahasiswa juga menyiapkan buku pedoman mitra dan media sosial sebagai sarana edukasi serta dokumentasi program agar dapat direplikasi di wilayah lain.
Program Pelita Aksara Pelangi Anak tidak hanya menjadi bentuk kontribusi nyata mahasiswa UNY dalam menjawab persoalan sosial berbasis pendidikan, tetapi juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan literasi dan pendidikan karakter anak berbasis sastra, SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui upaya pencegahan perilaku kekerasan dan pengaruh lingkungan negatif sejak dini, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi mahasiswa, orang tua, karang taruna, sekolah, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara berkelanjutan.
Melalui pendekatan kreatif dan kolaboratif tersebut, mahasiswa UNY menunjukkan bahwa sastra tidak hanya menjadi media pembelajaran bahasa, tetapi juga dapat menjadi “pelita” yang menuntun anak-anak tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, berempati, dan memiliki daya literasi kuat untuk masa depan.
English