Kisah Alumni Bertahan dari Banjir Terparah Aceh, UNY Hadir Menguatkan di Saat Terkelam

Banjir besar yang melanda Aceh pada penghujung November 2025 menjadi pengalaman paling berat dalam hidup Dr. Nurdin, alumni Program Doktor (S3) Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Warga Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur itu menyaksikan sendiri bagaimana hujan tanpa henti selama berhari-hari mengubah kampung halamannya menjadi lautan air, lumpur, dan keterisolasian.

Dr. Nurdin mengisahkan, hujan mulai turun sejak Jumat, 21 November 2025, dengan intensitas sedang. Warga setempat awalnya tidak terlalu khawatir. Daerah Peureulak memang akrab dengan banjir tahunan, terutama di desa-desa rendah di sepanjang aliran Sungai Peureulak. Bahkan, sehari sebelum peringatan Hari Guru, keluarga Dr. Nurdin masih beraktivitas seperti biasa.

Namun, situasi berubah drastis pada 25 November. Hujan lebat turun tanpa jeda, langit gelap sepanjang hari, dan listrik mulai padam. Air perlahan masuk ke rumah—sebuah kejadian yang nyaris tak pernah terjadi di Desa Leuge sejak banjir terakhir tahun 1971. “Kami terpaksa mengungsi ke lantai dua. Air naik cepat dan arusnya kencang,” kenangnya, Sabtu (10/1/26).

Selama hampir lima hari, hujan tak berhenti. Akses jalan terputus, komunikasi lumpuh karena baterai ponsel habis dan sinyal hilang. Di Meunasah Desa, ratusan warga mengungsi dengan persediaan pangan yang kian menipis. Beras sulit diperoleh, perahu bermesin terbatas, dan solar langka. Di sejumlah daerah lain seperti Aceh Tamiang dan dataran tinggi Gayo, kondisi bahkan lebih parah—harga beras dan BBM melonjak drastis.

Banjir tak hanya merendam rumah, tetapi juga merusak sawah, kebun, dan tambak. Dampaknya, banyak warga kehilangan sumber penghidupan. Ketika hujan reda pada akhir November, air tak langsung surut. Kota Idi, ibu kota Kabupaten Aceh Timur, juga lumpuh: listrik mati total, ATM dan bank tutup, air bersih tak mengalir. “Kami benar-benar bertahan dari apa yang sempat disiapkan sebelum banjir,” tutur Dr. Nurdin.

Di tengah keterbatasan dan kecemasan karena tak bisa menghubungi keluarga di wilayah lain Aceh, secercah harapan datang dari Yogyakarta. Dr. Nurdin menerima pesan dari Prof. Heri Retnawati, Direktur Direktorat Perencanaan dan Keuangan UNY. Komunikasi itu, menurutnya, menjadi penopang mental yang sangat berarti. “Rasanya seperti dipindahkan sejenak dari situasi banjir ke Jogja,” ujarnya.

Dari komunikasi tersebut, lahir gerakan UNY Peduli Bencana. Bantuan yang dihimpun dari sivitas dan alumni UNY disalurkan langsung secara door to door kepada korban banjir di Aceh Timur, Aceh Tamiang, hingga wilayah Gayo. Bantuan itu bukan sekadar materi, tetapi juga empati dan penguat batin. “Minimal bisa menggantikan tangis dengan senyum, walau sesaat. Itu sudah sangat membahagiakan,” kata Dr. Nurdin.

Sebagai alumni, ia merasa bangga. UNY hadir secara senyap namun nyata, membantu saat masa darurat ketika bantuan pemerintah belum sepenuhnya menjangkau semua wilayah. Ia pun berharap UNY terus memperkuat jejaring alumni, termasuk membentuk kepengurusan IKA UNY Provinsi Aceh dan menginisiasi program penguatan pendidikan di sekolah terdampak agar siswa tidak mengalami kehilangan pembelajaran berkepanjangan, sekaligus menginisiasi program guru mengajar di sekolah terdampak, dengan melibatkan mahasiswa PPL, KKN, maupun dosen, agar proses pembelajaran tetap berjalan dan peserta didik tidak mengalami learning loss berkepanjangan.

Kisah Dr. Nurdin menjadi potret ketangguhan korban bencana sekaligus bukti bahwa ikatan kemanusiaan dan solidaritas kampus mampu menjangkau hingga pelosok negeri, bahkan di saat paling gelap sekalipun.

Program UNY Peduli Bencana yang hadir mendampingi alumni dan masyarakat terdampak banjir Aceh ini sejalan dengan komitmen Universitas Negeri Yogyakarta dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Kegiatan ini berkontribusi pada SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui upaya menjaga keberlanjutan pembelajaran di wilayah terdampak bencana, SDG 11 Kota dan Permukiman Berkelanjutan dalam penguatan ketangguhan masyarakat menghadapi bencana, SDG 13 Penanganan Perubahan Iklim melalui respons kemanusiaan terhadap dampak cuaca ekstrem, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui sinergi dosen, alumni, sivitas akademika, dan masyarakat.

Penulis
Sudaryono
Editor
Dedy
Kategori Humas
IKU 3. Dosen Berkegiatan di Luar Kampus
IKU 5. Hasil Kerja Dosen Digunakan oleh Masyarakat