Mahasiswa KKN UNY Plumbungan menggelar pelatihan pranatacara di Padukuhan Plumbungan, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam membawakan acara menggunakan tata bahasa dan etika Jawa yang baik dan benar.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber kompeten, yakni Nur Rosyid Hidayat, seorang guru Bahasa Jawa sekaligus praktisi pranatacara. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa pranatacara bukan sekadar menjadi pembawa acara, tetapi juga mencerminkan kehalusan budi, penguasaan bahasa, serta pemahaman budaya Jawa secara mendalam. Materi yang disampaikan mencakup persiapan menjadi pranatacara, penguasaan vokal (antaling swara), sikap andhap asor, hingga penyusunan tata runtutan acara (tata rakiting atur).
“Seorang pranatacara harus memiliki kesiapan matang, baik dari segi bahasa, vokal, maupun sikap. Selain itu, penting untuk terus mengasah pengetahuan dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya,” ujar Nur Rosyid dalam pelatihan tersebut.
Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat setempat dengan antusias, terutama generasi muda yang ingin belajar menjadi pranatacara dalam berbagai acara adat maupun formal. Selain penyampaian materi, peserta juga diberikan kesempatan untuk praktik langsung agar lebih memahami teknik pembawaan acara.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program kerja tim KKN yang diketuai oleh Bhima Henar Hestyan Sudigda, bersama anggota Zahra Endita Saharani, Widya Rosy, Fatiya Aulia Rahmayanti, Salsabilla Ayudiani, Agnes Erlina Wikarisvi, Aflakha Rendari Latifah, dan Najma Noora Syafira.
Ketua kelompok KKN, Bhima Henar Hestyan Sudigda, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana pelestarian budaya lokal sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat. “Kami melihat potensi besar di masyarakat, khususnya dalam pelestarian budaya Jawa. Melalui pelatihan ini, kami berharap warga tidak hanya memahami teori pranatacara, tetapi juga mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga budaya ini tetap hidup dan berkembang,” ungkap Bhima.
Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan masyarakat Plumbungan semakin percaya diri dalam membawakan acara adat maupun kegiatan resmi, serta turut menjaga kelestarian budaya Jawa di tengah arus modernisasi.
English