Menjawab keprihatinan atas meningkatnya masalah kesehatan mental remaja, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Departemen Pendidikan Bahasa Jerman, Fakultas Bahasa, Seni dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), bersinergi dengan Pondok Pesantren Modern Assalaam Temanggung menyelenggarakan workshop bertajuk “Guruku Konselorku: Menguatkan Empati untuk Kesehatan Mental Siswa” dan kelas “Peer Counselor: Be There, Be Kind, Be Heard”. Kegiatan ini digelar belum lama ini di Pondok Pesantren Modern Assalaam Temanggung.
Kegiatan ini lahir dari keprihatinan terhadap data global maupun nasional yang menunjukkan tingginya prevalensi gangguan kesehatan mental pada remaja. Secara global, sekitar 15,2% remaja di dunia mengalami gangguan kesehatan mental, dengan kecemasan dan depresi sebagai jenis yang paling umum. Di Indonesia, hasil survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS 2022) mencatat satu dari tiga remaja memiliki masalah kesehatan mental, sementara akses terhadap layanan profesional masih sangat terbatas — hanya sekitar 4,7% remaja yang membutuhkan layanan benar-benar memperolehnya.
“Kesehatan mental merupakan fondasi penting yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan proses pendidikan, dan peran teman sebaya memiliki kekuatan yang sangat besar dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, suportif, dan penuh empati,” ujar Dr. Akbar Kuntardi Setiawan, M.Hum., Ketua Tim PkM Departemen Pendidikan Bahasa Jerman UNY.
Senada dengan hal tersebut, Drs. KH. Muflih Wahyanto, Direktur Pondok Pesantren Modern Assalaam, menyampaikan bahwa kesehatan mental santri merupakan aspek yang tidak kalah krusial dibandingkan capaian akademik, dan menegaskan bahwa para santri yang terpilih mengemban peran strategis sebagai garda terdepan penjaga lingkungan pergaulan yang sehat secara mental di pesantren.
Program ini dirancang dalam dua kelas intensif yang berjalan simultan. Kelas Guru membekali para pendidik agar mampu menjalankan peran ganda sebagai pengajar sekaligus konselor, mentor, dan coach yang peka terhadap kondisi psikologis siswa, melalui materi Guruku Konselorku, Stimulasi Bakat Siswa, Business Model Canvas (BMC) untuk membangun produktivitas, serta Psychological First Aid (PFA). Kelas Santri menyiapkan perwakilan santri terpilih untuk menjadi konselor sebaya (peer counselor) melalui materi The Power of Listening, Self-Care & Emotional First Aid, Unlocking Potential, serta Etika Konselor Sebaya & Mengenal Batasan.
Seluruh materi mengacu pada standar kesehatan mental yang dirumuskan oleh World Health Organization (WHO), yang mencakup empat elemen kunci: kesadaran diri (self-awareness), manajemen stres (stress management), produktivitas (productivity), dan kontribusi (contribution). Rangkaian workshop juga menghadirkan sejumlah narasumber dari Syakila Training Centre Yogyakarta, di antaranya Budi Hadiastuti, Evan Setiawan Parusa, Naashih Amirul Bashir, Fatih Zaidan Althov, Lisa Purwandari, Rahmanisa Widhia, dan Amirotun Nafisah.
Kegiatan ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi UNY di bidang pengabdian kepada masyarakat, dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPRM) UNY. Program ini juga menandai penandatanganan Implementation Agreement (IA) dan Memorandum of Agreement (MoA) antara UNY dan Pondok Pesantren Modern Assalaam, sebagai landasan bagi kerja sama yang lebih luas dan berkesinambungan di masa mendatang. Sebagai kelanjutan program, akan diselenggarakan pula webinar daring bertema “Dunia Konseling” bersama Cahyadi Takariawan, dengan jadwal yang akan diinformasikan kemudian.
English