PARADIGMA PROFETIK

PARADIGMA PROFETIK

MUNGKINKAH? PERLUKAH?

 

ETOS PARADIGMA PROFETIK

Yang dimaksud dengan etos di sini adalah perangkat nilai atau nilai-nilai yang mendasari perilaku suatu golongan atau kelompok manusia. Sebagian paradigma dalam ilmu pengetahuan biasa memiliki perangkat nilai atau etos yang berlainan dengan perangkat nilai paradigma yang lain. Perangkat nilai paradigma ilmu pengetahuan yang transformatif, yang ditujukan untuk menghasilkan perubahan dalam kehidupan kemasyarakatan dan kebudayaan, berbeda dengan perangkat nilai ilmu pengetahuan yang lebih akademis, yang ditujukan terutama untuk memahami dan menjelaskan berbagai gejala dalam kehidupan manusia, walaupun sebagian juga ada yang ditujukan untuk transformasi sosial-budaya.

 

                                                                                            |- untuk Allah s.w.t.

                                                                                            |- untuk Ilmu

                                                       |-- Etos   -------------------|- untuk diri-sendiri

                                                       |   Kerja Keabdian        |- untuk sesama

                                                       |                                    |- untuk alam semesta

                                                       |

                                                       |                                    |- pengembangan unsur

                                                       |-- Etos   -------------------|-

                                                       |   Kerja Keilmuan         |- pengembangan paradigma

Basis Etos  -------- Penghayatan ---|

Paradigma Profetik                        |                                     |- kejujuran

                                                       |-- Etos   --------------------|- ketelitian / keseksamaan

                                                       |   Kerja Kemanusiaan   |- kekritisan

                                                       |                                     |- penghargaan

                                                       |

                                                       |                                     |- perlindungan

                                                       |-- Etos   --------------------|- pemeliharaan

                                                           Kerja Kesemestaan   |- pengembangan

                                                                                             |- pemanfaatan

 

Penghayatan.

Sebagaimana telah saya katakan, unsur yang sangat membedakan antara ilmu (sosial-budaya) profetik dengan yang bukan adalah pada unsur transendensinya. Unsur transenden ini dalam kehidupan ilmiah diwujudkan dalam bentuk penghayatan, yaitu pelibatan pikiran dan perasaan seseorang pada sesuatu yang diyakininya atau disukainya. Kalau dalam beragama penghayatan tersebut diwujudkan dalam peribadatan, dalam dunia keilmuan (sosial-budaya) hal tersebut diwujudkan dalam kegiatan keilmuan sehari-hari.

Penghayatan aktivitas keilmuan ini merupakan hal yang tidak mudah dilakukan, terutama apabila tujuan dari aktivitas tidak sangat sejalan dengan tujuan dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Paradigma ilmu profetik menekankan pada penghayatan, karena aktivitas keilmuan di sini tidak lagi hanya sekedar untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi dan material, tetapi lebih dari itu. Aktivitas ini merupakan ekspresi atau perwujudan dari etos dasar dalam paradigma profetik, yakni pengabdian.

 

IMPLIKASI PARADIGMA PROFETIK

Berkenaan dengan implikasi dari ilmu (sosial-budaya) profetik yang dikemukakan-nya, Kuntowijoyo mengatakan bahwa ilmu ini tentunya akan mempunyai implikasi sosial transformatif yang penting. Beliau mengakui bahwa paradigma Islam mempunyai implikasi transformatif pada level individual, tetapi beliau lebih tertarik untuk membicarakan mengenai transformasi sosialnya. Akan tetapi, hal ini justru membuat potensi transformatif paradigma Islam menjadi tidak optimal. Menurut hemat saya, paradigma Islam tersebut harus dikupas potensi transformatifnya, baik pada tingkat individu, keluarga ataupun masyarakat.

1. Transformasi Individual

Sebagaimana telah saya paparkan di atas, salah satu basis etos paradigma profetis adalah penghayatan. Penghayatan ini berlangsung pada tataran individual. Oleh karena itu, ilmu (social-budaya) profetik tentunya punya effek transformatif bukan hanya pada tataran social-budaya sebagaimana yang dibayangkan oleh mas Kunto, tetapi juga pada tataran individual. Di sinilah ilmu (social-budaya) profetik juga dapat mencakup cabang ilmu seperti psikologi.

Transformasi individual ini bisa dua macam, karena ilmu profetik bisa menghasilkan transformasi pada diri ilmuwan profetik, atau pada pada individu yang menjadi kajian ilmu profetik tertentu, yaitu psikologi dan kedokteran. Ilmu profetik kedokteran akan me-lahirkan transformasi individual pada ranah atau bidang ragawi (physical), sedang ilmu psikologi profetik akan menghasilkan transformasi pada ranah kejiwaan(psychical).

Di lain pihak keterlibatan seorang ilmuwan dalam kegiatan keilmuan dengan semangat profetik, dengan etos profetik, akan membuat ilmuwan itu sendiri mengalami perubahan-perubahan tertentu. Transformasi di sini tetnu saja merupakan transformasi pada ranah kejiwaan, yang menyangkut pikiran dan perasaan. Transformasi individual sebagai dampak dari paradigma profetik menurut hemat saya tidak kalah penting dengan effek transformatif pada tataran sosial. Gagasan mengenai ini perlu dikembangkan lebih lanjut.

2. Transformasi Sosial (Kolektif)

Mengenai transformasi sosial ini, Kuntowijoyo telah membahasnya cukup panjang-lebar, walaupun belum tuntas. Seperti halnya transformasi pada ranah individu, transformasi kolektif atau sosial ini juga bisa terjadi di kalangan ilmuwan, bisa pula di kalangan warga masyarakat yang lebih luas. Masing-masing transformasi akan memiliki corak yang berbeda.

Di kalangan ilmuwan, transformasi dapat dan seharusnya terjadi di kalangan pelaku ilmu profetik ini, yakni di kalangan ilmuwannya. Transformasi ini bisa diawali dari tataran pandangan hidup, yang kemudian mewujud menjadi suatu gaya hidup gaya hidup ilmuwan profetik, dan selanjutnya pada karya-karya mereka. Jika ini terjadi, maka transformasi kemudian bisa menurun kepada lingkungan yang lebih luas, yakni pada kalangan anak didik mereka.

Transformasi berikutnya adalah transformasi di kalangan masyarakat, yang merupakan dampak dari kehadiran para ilmuwan profetik dengan pandangan, keyakinan dan gaya hidup mereka, atau merupakan dampak dari hasil-hasil kajian yang mereka lakukan. Kajian-kajian ilmu profetik akan dapat memberikan dampak transformatif sosial yang lebih luas bilamana hasil-hasil kajian ini selalu dipublikasikan dan disosialisasikan ke tengah masyarakat dengan cara yang sistematis dan terencana dengan baik.

PARADIGMA PROFETIK : PERLUKAH ? MUNGKINKAH?

Dari uraian di atas yang mungkin belum seluruhnya jelas kita dapat melihat bahwa paradigma profetik merupakan sebuah paradigma alternatif yang kita perlukan untuk mengatasi sejumlah persoalan yang muncul dalam kehidupan masyarakat kita dan kehidupan kita sebagai ilmuwan. Hal ini bisa dilihat pada transformasi yang akan dapat terjadi dalam masyarakat dan diri kita seandainya paradigma tersebut betul-betul diterapkan dalam kehidupan keilmuan.

Jika dampak dari diaktualisasikannya paradigam profetik dalam ilmu pengetahuan adalah transformasi individual dan sosial yang positif, maka jawaban atas pertanyaan tersebut adalah ”Perlu”, bahkan “Sangat perlu”. Jika demikian, pertanyaan selanjutnya adalah “Mungkinkah itu paradigma tersebut digunakan di Indonesia?”. Jawabnya adalah “Mungkin”. Meskipun demikian kemungkinan ini bisa mewujud bilamana beberapa persyaratan terpenuhi. Di antaranya adalah, pertama, adanya kesadaran dan niat yang kuat di kalangan ilmuwan Indonesia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini berarti bahwa seseorang menapaki karir di dunia perguruan tinggi bukan untuk mendapatkan kedudukan, meskipun itu kedudukan sebagai “professor”, karena kedudukan adalah effek atau hasil dari kegiatan melakukan pengembangan ilmu pengetahuan secara serius dan bertanggung-jawab.

Kedua adalah adanya kesadaran di kalangan ilmuwan Indonesia bahwa inti pengembangan ilmu pengetahuan adalah pengembangan paradigma, sehingga para ilmuwan memiliki satu tujuan umum yang sama. Dengan demikian tenaga, waktu dan pikiran para ilmuwan dapat betul-betul difokuskan pada satu hal tertentu, dan ini akan membuat tujuan bersama tersebut lebih mudah dicapai.

Ketiga adalah adanya pemahaman yang kurang lebih sama mengenai paradigma. Hal ini akan memperkecil kemungkinan terjadinya silang–pendapat yang tidak perlu di kalangan para ilmuwan, sehingga pengembangan paradigma akan dapat berjalan dengan lancar

Keempat adalah adanya dialog di antara sesama ilmuwan berkenaan dengan berbagai hasil penelitian mereka, adanya diskusi kritis di kalangan mereka mengenai berbagai hal yang telah dicapai, sehingga kelemahan-kelemahan yang ada dapat segera diatasi. Diskusi semacam ini perlu dilakukan melalui berbagai jurnal ilmiah, sehingga diskusi tersebut dapat diketahui oleh lebih banyak orang. Dengan demikian pengembangan ilmu pengetahuan akan dapat berjalan dengan lebih lancar lagi.

PENUTUP

Dalam makalah ini saya telah mencoba memaparkan sebagian pandangan saya mengenai ilmu (sosial-budaya) profetik. Keterbatasan waktu dan ruang membuat saya belum dapat mengembangkan pemikiran tentang hal-hal di atas secara lengkap dan utuh. Meskipun demikian, di sini saya telah memberikan sebuah model atau kerangka paradigma dengan unsur-unsur yang menurut hemat saya sudah lengkap. Berdasar-kan kerangka paradigma inilah saya menjelaskan isi epistemologi profetik, yang men-cakup asumsi-asumsi dasar dan etos yang mendasarinya. Isi elemen-elemen lain dari paradigma profetik ini, yang merupakan implikasi dari basis epistemologisnya bisa ber-beda antara disiplin profetik satu dengan yang lain, sehingga sebaiknya diisi oleh ilmu-wan-ilmuwan lain dari masing-masing disiplin.

Di situlah para kolega ilmuwan dapat berpartisipasi mengembangkan gagasan me-ngenai ilmu (sosial-budaya) profetik, agar paradigma profetik di sini memiliki dampak yang lebih luas dan dapat memberikan manfaat yang lebih besar kepada kemajuan peradaban manusia...

Dan Allahlah Yang Maha Tahu......

 

Makalah disampaikan dalam seminar nasional “Paradigma Profetik: Jalan Baru Ilmu Sosial Keindonesiaan”, diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial, UNY, di Yogyakarta, 7 September 2016

Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra
Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra