Voleta Marshaniswah Armida Barrah adalah mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa, Seni dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta angkatan 2024. Mahasiswa yang kerap disapa sebagai Marsha ini berasal dari Kulon Progo, DIY. Ia merupakan salah satu mahasiswa penerima bantuan biaya pendidikan KIP-K (Kartu Indonesia Pintar Kuliah) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Indonesia. Dana yang digunakan dalam berjalannya program KIP-K berasal dari pajak masyarakat. Kehadiran KIP-K ini sangat membantu Marsha dalam melanjutkan studinya di Universitas Negeri Yogyakarta.
Saat duduk di bangku SMA, Marsha merasa bahwa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi adalah hal yang diperlukan. Menurutnya, kuliah dapat membawa Marsha ke kehidupan yang lebih baik, lebih berpengalaman, dan mengajarkannya untuk disiplin. Namun, pada saat itu kondisi finansial keluarganya sedang mengalami kemerosotan sehingga Marsha merasa tidak yakin dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Hal ini membuatnya sedikit ragu pada dirinya sendiri.
Pada saat kelas 12, Marsha mendengar kabar baik dari guru SMAnya. Ia diberi tahu bahwa terdapat program KIP-K untuk membantu siswa yang memiliki keinginan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tetapi memiliki keterbatasan ekonomi. Setelah mendengar informasi tersebut dari sang guru, Marsha kemudian memantau informasi mengenai pendaftaran KIP-K melalui Instagram dan saluran WhatsApp KIP-K. Melalui media sosial tersebut, Marsha dapat mengetahui proses pendaftaran dan seleksi KIP-K, seperti berkas yang diperlukan untuk mendaftar, kategori kondisi keluarga yang diperkenankan mendaftar KIP-K, dan informasi lainnya.
Marsha dengan mantap akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan mendaftar KIP-K. Setelah mengikuti tahapan seleksi, Marsha dinyatakan lolos sebagai penerima KIP-K pada tahun 2024. Hadirnya KIP-K sangat membantu Marsha dalam memenuhi kebutuhan selama berkuliah. Marsha mengungkapkan bahwa setiap semester ia mendapatkan living cost atau biaya hidup yang digunakannya untuk print out tugas, makan sehari-hari, membeli buku, mendukung mahasiswa saat berorganisasi, dan membeli keperluan lain dengan terstruktur dan bijak. Saat ini, ia hanya perlu fokus pada kehidupan perkuliahan, mengembangkan ilmunya, menambah pengalaman, dan kecakapan karena ia sudah tidak perlu memikirkan UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang telah ditanggung oleh KIP-K.
Semangat Marsha untuk tetap melanjutkan pendidikan datang dari lingkungan keluarga yang selalu mendukung setiap keputusan baik yang ia lakukan. Orang-orang terdekatnya selalu mendoakan yang terbaik untuknya sehingga ia menjadi lebih bersemangat untuk berdinamika di kehidupan perkuliahan. “Semoga, dengan adanya KIP-K ini di masa sekarang dan mendatang, dapat menjadi harapan dan penerang bagi mahasiswa yang benar-benar memerlukan”, ucap Marsha (27/02/2026). Ia juga berpesan pada siswa SMA/K sederajat yang ingin mendaftar KIP-K untuk mengisi data pendaftaran dengan jujur dan seadanya, tanpa memalsukan data dengan tujuan mendapatkan KIP-K karena memalsukan data termasuk pelanggaran yang cukup buruk untuk dilakukan sehingga berikan kesempatan mendapatkan KIP-K ini pada orang yang benar-benar membutuhkan.
English