Bukan Sekadar Nostalgia, Permainan Tradisional Jadi Media Belajar di MTsN 1 Bantul

Di tengah kehidupan pelajar yang semakin lekat dengan layar digital, halaman MTs Negeri 1 Bantul justru kembali dipenuhi aktivitas permainan tradisional. Dakon, engklek, gobak sodor, hingga paralon bocor dimanfaatkan bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang belajar untuk bergerak, bekerja sama, dan membangun karakter.

Kegiatan tersebut digelar melalui kolaborasi mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bersama Pengurus Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) MTsN 1 Bantul dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Peserta didik kelas VII, VIII, dan IX mengikuti berbagai perlombaan permainan tradisional.

Permainan dipilih karena mampu menghadirkan pengalaman belajar yang berlangsung secara langsung. Gobak sodor, misalnya, mendorong siswa menyusun strategi dan berkoordinasi dalam tim. Dakon melatih konsentrasi dan ketelitian, engklek mengasah keseimbangan, sedangkan paralon bocor menuntut komunikasi serta kekompakan antar peserta.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan MTsN 1 Bantul, Syaekhul Fatah, S.Pd., M.Pd., mengatakan permainan tradisional memiliki nilai pendidikan yang dapat diterapkan secara langsung oleh peserta didik. “Anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga belajar berkomunikasi dan bekerja sama dengan teman satu tim. Permainan tradisional juga merupakan salah satu sub materi dalam mata pelajaran kokurikuler sehingga pertandingan ini menjadi bentuk output nyata dari pembelajaran tersebut,” ujarnya.

Selain menghidupkan kembali permainan yang mulai jarang dimainkan, kegiatan tersebut menjadi alternatif aktivitas fisik dan interaksi sosial bagi peserta didik. Nilai sportivitas, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, serta kepatuhan terhadap aturan hadir melalui pengalaman bermain dan berkompetisi secara langsung.

Upaya tersebut turut berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Aktivitas permainan tradisional mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui aktivitas fisik dan interaksi sosial yang positif. Sementara itu, nilai pembelajaran dan penguatan karakter yang diperoleh siswa sejalan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas.

Ketua pelaksana dari mahasiswa PK UNY, Careva Jhilly, menilai kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk menerapkan keterampilan pengelolaan kegiatan pendidikan. “Mahasiswa tidak hanya belajar mengajar di kelas, tetapi juga belajar mengelola kegiatan peserta didik, mulai dari koordinasi, pembagian tugas, komunikasi dengan OSIM, hingga memastikan kegiatan berjalan tertib,” katanya.

Antusiasme peserta didik terlihat sepanjang perlombaan. Persaingan antar kelas berlangsung kompetitif dengan tetap mengedepankan sportivitas dan keamanan.

Melalui permainan tradisional, MTsN 1 Bantul menunjukkan bahwa proses pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Aktivitas sederhana seperti bermain bersama dapat menjadi sarana untuk membangun kebiasaan hidup aktif, memperkuat hubungan sosial, dan menanamkan karakter peserta didik sekaligus mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan.

Penulis
Careva Jhilly
Editor
Dedy
Kategori Humas
IKU 2. Mahasiswa Mendapat Pengalaman di Luar Kampus