Perjalanan akademik Leni Firda Kurnia Sari bukanlah kisah yang berjalan mulus sejak awal. Alumni SMKN 2 Pengasih Kulonprogo tersebut sempat berdiri di persimpangan jalan setelah kelulusan - antara langsung bekerja atau melanjutkan pendidikan tinggi. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat pilihan kuliah terasa seperti mimpi yang terlalu tinggi. Namun, dari keraguan itulah tumbuh keyakinan yang mengantarkannya menjadi salah satu mahasiswa berprestasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan capaian IPK 3,99.
Leni, mahasiswi Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Jawa, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya UNY angkatan 2022, mengaku tak pernah membayangkan angka nyaris sempurna tersebut. “IPK 3,99 bagi saya bukan sekadar angka, tetapi simbol dari proses panjang, disiplin, dan kesungguhan yang dijalani dengan doa,” tuturnya, Selasa (20/1/26). Capaian itu menjadi bukti bahwa konsistensi mampu mengalahkan keterbatasan.
Keputusan Leni untuk kuliah menemukan titik terang ketika ia mengenal program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK). Informasi yang pertama kali ia temukan melalui media sosial itu menjadi titik balik penting. KIPK tidak hanya memberi bantuan biaya pendidikan dan biaya hidup, tetapi juga rasa aman yang memungkinkan warga Karangtengah Kidul, Margosari, Pengasih itu fokus sepenuhnya pada proses belajar. “Kekhawatiran soal biaya perlahan berubah menjadi keyakinan. Saya merasa diberi kesempatan yang adil untuk berkembang,” ujarnya.
Memilih UNY sebagai tempat tumbuh bukan keputusan yang kebetulan. Bagi Leni, UNY adalah kampus yang memandang pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Lingkungan akademik yang suportif, dosen yang terbuka terhadap dialog, serta atmosfer belajar di Yogyakarta membentuk pengalaman perkuliahan yang bermakna. Pilihannya pada Pendidikan Bahasa Jawa juga lahir dari kedekatan emosional dengan budaya Jawa yang diyakini sarat nilai luhur dan relevan lintas zaman.
Di balik prestasi akademiknya, Leni menyimpan ujian hidup yang berat. Pada akhir semester tiga, ia kehilangan ibunda tercinta. Duka mendalam itu memaksanya belajar bertahan di tengah tuntutan akademik dan tanggung jawab keluarga. “Saya harus menata ulang hidup, mengatur prioritas, dan belajar menerima kenyataan,” kenang Leni. Pengalaman tersebut justru membentuk ketahanan mental yang semakin menguatkan langkahnya.
Kedisiplinan menjadi kunci utama Leni menjaga prestasi. Putri pasangan Wasiran dan (alm) Sugiyati itu terbiasa menyusun to-do-list harian, melakukan review materi secara rutin, membuat mind map, serta menerapkan teknik tertentu agar belajar tetap efektif. Keaktifan di kelas dan komunikasi dengan dosen juga menjadi fondasi penting dalam proses belajarnya. Perpustakaan, baik fisik maupun digital, menjadi ruang favoritnya untuk memperdalam ilmu.
Di luar akademik, Leni aktif dalam UKM, kegiatan volunteer, komunitas sastra, hingga Karang Taruna. Beragam aktivitas tersebut memperkaya sudut pandangnya dan melatih empati, komunikasi, serta kemampuan bekerja sama. Ia tidak menjalani kegiatan KKN dan PK karena telah dikonversi melalui kegiatan Kampus Mengajar, dan sekarang sedang konsentrasi mengerjakan skripsi untuk menuntaskan kuliahnya di FBSB UNY. Ke depan, Leni bercita-cita melanjutkan studi ke jenjang magister melalui beasiswa. Ia ingin terus berkontribusi di dunia pendidikan dengan bekal keilmuan yang lebih matang.
Leni berpesan pada siswa SMA/SMK/MA yang memiliki keterbatasan ekonomi tetapi ingin melanjutkan kuliah agar jangan pernah menjadikan keadaan sebagai alasan untuk berhenti bermimpi. Keterbatasan ekonomi memang nyata, tetapi bukan penentu akhir dari masa depan seseorang. Jangan takut untuk memiliki mimpi yang tinggi, meskipun terkadang mimpi itu dianggap terlalu besar oleh orang lain. “Tidak masalah jika ada yang meragukan atau bahkan menertawakan, karena mimpi adalah milik pribadi. Hal yang perlu ditakuti justru ketika kita berhenti bermimpi” tegasnya.
Kisah Leni Firda menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah jalan perubahan. Dengan konsistensi, keberanian bermimpi, dan dukungan negara melalui KIPK, kekhawatiran dapat berubah menjadi keyakinan—dan keyakinan itu mampu mengantar pada prestasi gemilang.
English