Tidak semua mahasiswa menjalani masa kuliah dengan keadaan yang serba mudah. Ada yang harus belajar menerima kenyataan, menghitung kebutuhan, dan mencari jalan agar cita-cita tetap bisa berjalan. Salah satunya Nayla Pritania Ananda Saputri, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari, Fakultas Bahasa Seni dan Budaya (FBSB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) angkatan 2025.
Bagi putri pasangan Agus Supriyanto dan Rita Nurcahyawati itu, kuliah bukan sekadar datang ke kampus, mengikuti perkuliahan, lalu pulang. Di balik aktivitas akademiknya, ada tanggung jawab yang perlahan ia belajar pikul sendiri.
Nayla memahami kondisi keluarganya. Ayah menjadi satu-satunya anggota keluarga yang bekerja, sementara sang ibu harus menjalani pengobatan dan kontrol rutin ke rumah sakit. Karena itu, Nayla tidak ingin seluruh kebutuhan kuliahnya menjadi beban orang tua. Ia memilih mencari jalan dengan kemampuan yang dimilikinya. Jalan itu adalah tari.
Di sela perkuliahan, Nayla bekerja sebagai pelatih tari. Kemampuan yang sejak lama ia tekuni kini tidak hanya menjadi bekal untuk berprestasi, tetapi juga menjadi sumber penghasilan. Uang yang diperoleh dari melatih tari digunakan untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus membantu biaya kuliah.
Untuk perjalanan dari Klaten ke Yogyakarta, ayahnya memberikan uang transport Rp20.000. Selebihnya, Nayla mengusahakan sendiri kebutuhan hariannya. “Alhamdulillah dapat job, jadi bisa buat keseharian,” ungkap alumni SMAN 1 Klaten tersebut, Sabtu (5/9/26).
Kalimat sederhana tersebut memperlihatkan cara Nayla menghadapi kenyataan. Ia tidak menutupi bahwa ada keterbatasan, tetapi juga tidak menjadikannya alasan untuk berhenti. Ia memilih melakukan apa yang bisa dilakukan dengan kemampuan yang dimiliki. Bahkan di tengah aktivitas bekerja, Nayla tetap menjaga kuliahnya. UKT yang harus dibayarnya mencapai Rp5.645.000. Namun, prestasi akademiknya tetap terjaga. Ia pernah memperoleh IP 3,87 pada semester 1 dan pada semester berikutnya meraih IP 3,85.
Perjalanan Nayla hingga sampai di Pendidikan Seni Tari UNY pun tidak secara langsung. Semula, ia ingin mengambil Program Studi Akuntansi. Ia mencoba SNBP, SNBT hingga seleksi mandiri, tetapi belum mendapatkan hasil seperti yang diharapkan.
Di tengah situasi itu, sang ibu justru melihat sesuatu yang mungkin belum sepenuhnya disadari Nayla. Ibunya menyarankan agar ia mengambil prodi Pendidikan Seni Tari. “Wis jupuk o tari wae, wong rezekimu ki nang tari” kata ibunya, Rita Nurcahyawati.
Nayla kemudian mengambil Akuntansi sebagai salah satu pilihan dan Pendidikan Seni Tari sebagai pilihan lainnya. Pada akhirnya, pendidikan seni tari-lah yang membawanya menjadi mahasiswa UNY lewat jalur seleksi mandiri.
Pilihan tersebut ternyata bukan tanpa bekal. Sejak sekolah, Nayla memang serius menekuni seni tari. Ia rutin berlatih di Ndalem Pujokusuman Yogyakarta dan mengikuti berbagai perlombaan. Salah satunya, ia berhasil meraih Juara I Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat kabupaten Klaten.
Kini, bakat tersebut terus ia kembangkan. Nayla tidak hanya ingin menjadi penari, tetapi juga menjadikan kemampuannya sebagai kompetensi yang memiliki nilai dan peluang. Baginya, kehidupan mahasiswa mengajarkan bahwa kesempatan tidak selalu datang dengan sendirinya. Seseorang harus berani mencarinya. “Punya bakat tetapi tidak ada peluang tidak akan menghasilkan. Begitu juga sebaliknya, ada kesempatan tetapi tidak punya bakat juga tidak akan menghasilkan,” ujarnya.
Warga Bendogantungan Klaten tersebut sedang belajar menjadi dewasa dengan caranya sendiri. Ia menerima kenyataan bahwa keadaan keluarganya tidak selalu mudah, tetapi memilih tidak larut di dalamnya. Ia kuliah, belajar, berprestasi, bekerja, dan terus mencari peluang.
Dari Klaten ke Yogyakarta, dari uang transport Rp20.000 hingga pekerjaan sebagai pelatih tari, Nayla sedang belajar bahwa tegar bukan berarti tidak memiliki kesulitan. Tegar adalah ketika seseorang mampu menerima kenyataan, kemudian tetap memilih untuk melangkah.
Dan bagi Nayla, langkah itu kini terus bergerak melalui tari—kemampuan yang dahulu mungkin hanya dianggap sebagai bakat, tetapi hari ini menjadi salah satu jalan untuk mempertahankan mimpinya menempuh pendidikan tinggi di UNY.
English