Pandangan bahwa penyandang tunarungu tidak dapat menikmati atau memainkan musik masih kerap ditemukan di masyarakat. Anggapan bahwa musik hanya dapat diakses melalui pendengaran menjadi stigma yang selama ini membatasi ruang ekspresi penyandang tunarungu. Melalui karya akademik terbarunya, dosen Program Studi Pendidikan Seni Musik Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Dr. Drijastuti Jogjaningrum, MA. berupaya meluruskan persepsi tersebut melalui buku berjudul Jelajah Keajaiban Musikalitas Tunarungu.
Buku yang diterbitkan oleh UNY Press pada Februari 2026 ini menghadirkan perspektif baru mengenai relasi antara musik dan penyandang tunarungu. Tidak sekadar membahas teori musik, karya ini menelusuri sejarah pendidikan tunarungu di dunia dan Indonesia, perkembangan bahasa isyarat, hingga praktik musikalitas yang dapat diakses melalui pengalaman multisensori.
Menurut Drijastuti, masyarakat selama ini masih kerap mempertanyakan kemampuan penyandang tunarungu dalam menikmati musik. Pertanyaan seperti “Apa iya tunarungu bisa main musik?” atau bahkan pandangan sinis “Tuli kok main musik” masih menjadi realitas sosial yang dihadapi komunitas tunarungu. Melalui buku ini, ia berusaha menunjukkan bahwa musik tidak hanya hidup dalam bunyi, tetapi juga dapat dihadirkan melalui pengalaman visual, getaran, dan gerak tubuh.
Musik bukan sekadar fenomena auditif, tetapi peristiwa multimodal yang dapat dilihat dan dirasakan, demikian salah satu gagasan utama yang diangkat dalam buku tersebut. Bagi penyandang tunarungu, pengalaman musikal dapat hadir melalui ritme yang dirasakan tubuh, getaran yang menyentuh indera taktil, hingga ekspresi visual melalui bahasa isyarat dan gerakan.
“Selama ini masih ada stigma bahwa penyandang tunarungu tidak dapat menikmati musik karena tidak mendengar bunyi. Padahal, musikalitas tidak hanya hadir melalui suara, tetapi juga melalui getaran, visual, dan pengalaman tubuh. Buku ini saya tulis untuk membuka perspektif bahwa musik adalah ruang ekspresi yang juga dapat diakses oleh penyandang tunarungu,” ujar Drijastuti, Rabu (13/5/26).
Secara komprehensif, buku ini mengulas bagaimana penyandang tunarungu memiliki identitas musikalitas yang khas. Drijastuti memaparkan bahwa pengalaman bermusik dapat diakses melalui tiga dimensi utama, yakni sensori taktil untuk merasakan vibrasi musik, sensori visual untuk melihat pola ritme dan ekspresi musikal, serta sensori kinestetik yang menghadirkan pengalaman musik melalui gerak tubuh. Pendekatan multisensori tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan pendengaran bukanlah penghalang bagi seseorang untuk mengalami keindahan musik.
Tidak berhenti pada aspek konseptual, buku ini juga menawarkan berbagai aplikasi praktis musikalitas tunarungu dalam bidang terapi, pendidikan, sosial budaya, hingga pengembangan teknologi. Dalam konteks pendidikan, misalnya, pendekatan musikal multisensori dinilai dapat menjadi alternatif pembelajaran yang lebih inklusif bagi peserta didik tunarungu. Sementara dalam bidang teknologi, pengembangan perangkat berbasis getaran atau visual dinilai membuka peluang akses musik yang lebih luas bagi komunitas tunarungu.
Melalui buku ini, Drijastuti berharap masyarakat dapat membuka cara pandang baru mengenai hak penyandang tunarungu untuk memperoleh pengalaman bermusik yang setara. Lebih jauh, karya tersebut diharapkan menjadi referensi bagi sekolah luar biasa, institusi pendidikan, peneliti, musisi, hingga pengembang teknologi untuk menciptakan ekosistem musik yang lebih inklusif.
“Musik tidak selalu harus dipahami sebagai pengalaman auditif semata. Penyandang tunarungu memiliki cara musikalitas yang khas, melalui vibrasi, ritme visual, dan ekspresi gerak. Saya berharap buku ini dapat menjadi jembatan pemahaman sekaligus referensi pendidikan seni yang lebih inklusif,” kata Drijastuti.
Kehadiran buku Jelajah Keajaiban Musikalitas Tunarungu sekaligus mempertegas komitmen UNY dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan yang berdampak sosial, khususnya pada penguatan pendidikan inklusif dan kesetaraan akses bagi seluruh lapisan masyarakat. Sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, karya ini berkontribusi pada SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui penguatan akses pendidikan seni yang inklusif dan berkeadilan.
English