Mengenakan jas almamater Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menjadi momen yang penuh haru bagi Nadine Mulia Ramadani, mahasiswa baru Program Studi Administrasi Publik. Perempuan asal Nganjuk, Jawa Timur, ini akhirnya berhasil mewujudkan impiannya menjadi bagian dari keluarga besar UNY setelah melalui perjalanan panjang yang penuh tantangan.
Sebelum diterima di UNY, Nadine sempat menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di Kediri pada Program Studi Administrasi Publik. Namun, setelah menjalani perkuliahan selama satu tahun, ia merasa lingkungan akademik yang dijalaninya belum sesuai dengan harapannya. Keinginan untuk berkuliah di UNY yang telah tumbuh sejak lulus SMA pun kembali muncul.
Perjalanan menuju UNY tidak berjalan mulus. Nadine sempat dua kali gagal dalam proses seleksi masuk UNY. Setelah menjalani kuliah di kampus sebelumnya, ia memutuskan untuk kembali memperjuangkan mimpinya dengan mengikuti Computer Based Test (CBT) Kampus UNY. Pilihan pertamanya adalah Program Studi Administrasi Publik, sedangkan pilihan keduanya Ilmu Komunikasi. "Saya memang sudah ingin kuliah di UNY sejak awal. Setelah satu tahun kuliah, saya merasa masih memiliki mimpi yang sama. Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba lagi," ujarnya.
Keputusan untuk keluar dari kampus lama ternyata tidak langsung mendapat persetujuan dari kedua orang tuanya. Mereka berharap Nadine tetap menyelesaikan kuliah di kampus tersebut karena khawatir ia harus mengulang semuanya dari awal. Kondisi itu sempat membuat Nadine merasa putus asa.
Di tengah kebimbangannya, dukungan datang dari sang kakak sepupu yang terus memberikan semangat agar ia tidak menyerah mengejar cita-citanya. Berkat dorongan tersebut, Nadine kembali yakin untuk mencoba mengikuti seleksi di UNY.
Melihat kesungguhan putrinya, kedua orang tua Nadine akhirnya memberikan restu penuh. Mereka bahkan mengantarkan Nadine saat mengikuti proses seleksi di UNY hingga akhirnya ia dinyatakan lolos sebagai mahasiswa baru. "Orang tua akhirnya mendukung keputusan saya. Mereka percaya saya bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik," tutur Nadine.
Nadine merupakan anak pertama sekaligus anak tunggal. Sang ibu pernah menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sedangkan ayahnya juga pernah berkuliah di perguruan tinggi swasta. Pengalaman kedua orang tuanya membuat mereka selalu menanamkan pentingnya pendidikan kepada Nadine. Keberhasilannya diterima di UNY pun menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga.
Selama menjalani kuliah di kampus sebelumnya, Nadine mengaku belum banyak mengikuti organisasi maupun kegiatan kemahasiswaan. Pengalaman tersebut menjadi motivasi baginya untuk lebih aktif selama menempuh pendidikan di UNY. "Saya ingin menebus kesempatan yang dulu belum sempat saya manfaatkan. Saya ingin aktif mengikuti organisasi, ikut lomba, memperluas relasi, dan mengembangkan kemampuan diri," katanya.
Saat menerima jas almamater, Nadine mengaku tidak menyangka akhirnya dapat berdiri sebagai mahasiswa UNY. Baginya, jas almamater tersebut bukan sekadar identitas mahasiswa, melainkan simbol perjuangan, keberanian untuk memulai kembali, dan bukti bahwa kegagalan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan.
Ke depan, Nadine berharap dapat meraih prestasi akademik yang baik, aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan, serta memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di UNY untuk mengembangkan potensi diri dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
English