Bioremediasi sebagai Solusi Ramah Lingkungan Berbasis Sains

Di tengah meningkatnya persoalan pencemaran lingkungan, bioremediasi muncul sebagai salah satu pendekatan ilmiah yang menawarkan solusi ramah lingkungan dan berkelanjutan. Di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), kepakaran ini dikembangkan secara konsisten oleh Prof. Dr. Ir. Suhartini, MS., akademisi yang menekuni bioremediasi sebagai jalan pemulihan lingkungan berbasis proses biologis alami.

Bagi dosen Departemen Pendidikan Biologi FMIPA UNY tersebut, pencemaran bukan sekadar persoalan teknis, melainkan tantangan multidimensi yang menyentuh kesehatan manusia, ketahanan pangan, dan keberlanjutan ekosistem. Limbah industri, pertanian, dan rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik terus menekan daya dukung lingkungan. “Dalam konteks inilah bioremediasi diposisikan sebagai pendekatan yang sejalan dengan mekanisme alam, memanfaatkan kemampuan mikroorganisme, tanaman, dan enzim untuk menguraikan polutan berbahaya” ujar Suhartini, Jumat (30/1/26).

Kepakaran Suhartini terletak pada pemahaman mendalam terhadap mekanisme kerja bioremediasi, mulai dari biodegradasi, biotransformasi, hingga mineralisasi. Melalui proses-proses tersebut, senyawa pencemar di tanah dan perairan dapat diubah menjadi bentuk yang lebih sederhana dan aman. Pendekatan ini dinilai tidak hanya efektif, tetapi juga meminimalkan risiko dampak lanjutan yang kerap muncul pada metode pembersihan berbasis bahan kimia.

Dalam pengembangan keilmuannya, warga Bangunharjo, Sewon, Bantul itu menguasai berbagai teknik bioremediasi, seperti bioaugmentasi dan biostimulasi yang mengoptimalkan kinerja mikroorganisme, fitoremediasi dengan pemanfaatan tanaman sebagai penyerap polutan, serta mikoremediasi yang mengandalkan kemampuan enzimatik jamur. Ia juga menaruh perhatian besar pada pengembangan bioreaktor dan sistem terintegrasi yang mampu meningkatkan efisiensi pengolahan limbah dalam skala yang lebih luas.

Kepakaran tersebut tidak berhenti pada tataran konseptual. Berbagai riset yang dikembangkan Guru Besar bidang ilmu kepakaran Bioremediasi itu menunjukkan aplikasi nyata bioremediasi dalam menjawab persoalan lingkungan. Pemanfaatan konsorsium mikroba lokal untuk mengolah limbah cair batik, penggunaan tanaman akuatik untuk memulihkan kualitas air lindi, hingga konversi limbah organik menjadi pupuk, ekoenzim, dan pakan ternak menjadi contoh bagaimana bioremediasi dapat diterapkan secara praktis, murah, dan replikatif di masyarakat.

Dalam pandangannya, bioremediasi memiliki relevansi kuat dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Pendekatan ini berkontribusi pada penyediaan air bersih, pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, mitigasi perubahan iklim, serta pemulihan ekosistem darat dan perairan. Bahkan, pengelolaan limbah berbasis bioremediasi dinilainya mampu mendorong ekonomi sirkular, di mana limbah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sumber daya.

Peraih gelar Doktor Ilmu Lingkungan UGM itu juga menaruh perhatian pada tantangan penerapan bioremediasi, mulai dari skalabilitas teknologi, aspek regulasi, hingga penerimaan masyarakat. Karena itu, ia mendorong kolaborasi lintas sektor antara akademisi, pemerintah, industri, dan komunitas lokal. Edukasi publik dan integrasi riset dengan pengabdian masyarakat menjadi bagian penting agar bioremediasi dapat diadopsi secara luas.

Melalui konsistensinya mengembangkan bioremediasi, Suhartini menegaskan peran ilmu pengetahuan sebagai solusi nyata bagi persoalan lingkungan. Kepakarannya tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga menghadirkan harapan akan pemulihan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Penulis
Dedy
Editor
Sudaryono
Kategori Humas
IKU 5. Hasil Kerja Dosen Digunakan oleh Masyarakat