Mahasiswa Program Pembelajaran Luar Kampus (PLK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melaksanakan program pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat melalui budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) di Dusun Pandan, Desa Somopuro, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, belum lama ini. Program bertajuk Eco Point tersebut hadir sebagai solusi atas permasalahan sampah organik rumah tangga yang selama ini belum tertangani secara optimal di lingkungan masyarakat.
Melalui program ini, mahasiswa PLK UNY memperkenalkan budidaya maggot sebagai metode pengolahan sampah organik yang cepat, efisien, ramah lingkungan, dan mudah diterapkan oleh masyarakat tanpa memerlukan teknologi rumit maupun biaya besar. Selain mampu mengurai limbah organik, maggot hasil budidaya juga memiliki nilai guna ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk organik.
Program Eco Point dilaksanakan oleh tim mahasiswa PLK UNY yang terdiri atas Andhika Ravael Milano selaku ketua pelaksana bersama sembilan anggota lainnya, yaitu Candra Dimas Saputra, Khaila Akasyah Nurfuadah Al Pahri, Erika Andaresta, Olivia Rena Hanavi, Calista Putri Zabrina, Cut Hanifah Astria, Zahwa Aulia Rahma, Naya Ramadina, dan Figra Alensy. Selama pelaksanaan program, mahasiswa melakukan berbagai tahapan kegiatan mulai dari identifikasi kebutuhan masyarakat, perancangan kandang maggot, pembangunan kandang, pemasangan kandang di titik lokasi yang telah disepakati bersama warga, hingga pendampingan teknis dan serah terima program kepada masyarakat setempat.
Penempatan kandang maggot dilakukan langsung di lingkungan warga agar proses penguraian sampah organik dapat berjalan lebih efektif dan mudah dipantau oleh masyarakat. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa juga melibatkan partisipasi aktif warga Dusun Pandan Wetan agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu memahami serta mengelola budidaya maggot secara mandiri setelah program PLK selesai dilaksanakan.
Ketua pelaksana program, Andhika Ravael Milano, menyampaikan bahwa Program Eco Point bertujuan membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah organik secara bertanggung jawab sekaligus menciptakan solusi lingkungan yang berkelanjutan. “Melalui Program Eco Point ini, kami ingin membantu masyarakat tidak hanya dalam mengurangi permasalahan sampah organik di lingkungan sekitar, tetapi juga membangun kesadaran bersama bahwa limbah rumah tangga dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai guna,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui keluhan semata, tetapi perlu diwujudkan melalui kebiasaan kecil yang dilakukan bersama secara konsisten oleh masyarakat.
Program tersebut mendapat respons positif dari warga setempat. Salah satu warga, Alex, mengungkapkan bahwa keberadaan budidaya maggot sangat membantu dalam mengelola sampah organik dari usaha makanan miliknya. “Maggot ini sangat bermanfaat untuk usaha makanan saya, karena sering kali sampah organik dari jualan saya dibuang begitu saja,” kata Alex.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa PLK UNY berharap masyarakat Dusun Pandan Wetan dapat terus melanjutkan budidaya maggot secara mandiri sehingga pengelolaan sampah organik di lingkungan desa menjadi lebih baik dan berkelanjutan. Program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah rumah tangga yang memiliki nilai ekonomi.
Program Eco Point sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pemanfaatan maggot yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat, SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui upaya menciptakan lingkungan desa yang lebih bersih dan sehat, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengolahan sampah organik dan penerapan pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan di lingkungan masyarakat.
English