Mahasiswa KKNRGen5 UNY melaksanakan kegiatan sosialisasi dan praktik budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) di Padukuhan Tegalrejo, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulonprogo. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat sekaligus pemberdayaan ekonomi lokal.
Program ini menghadirkan narasumber Sus Endarto, praktisi budidaya maggot BSF dari Sleman, Yogyakarta. Sus Endarto dikenal sebagai penggerak pengolahan sampah organik melalui maggot BSF dan pengembang integrated farming berbasis limbah rumah tangga dan limbah restoran. Melalui unit usahanya di Sleman, ia aktif memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang pemanfaatan larva Black Soldier Fly (Hermetia illucens) sebagai solusi pengurai sampah organik sekaligus sumber pakan ternak berprotein tinggi.
Dalam pemaparannya, Sus Endarto menjelaskan bahwa 40 hingga 65 persen komposisi sampah rumah tangga merupakan sampah organik yang berpotensi diolah. “Maggot BSF mampu mengurai sampah organik dua sampai lima kali bobot tubuhnya dalam 24 jam. Prosesnya relatif cepat, minim bau, dan menghasilkan residu berupa kasgot yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik,” jelas Sus Endarto di hadapan warga.
Ia juga memaparkan siklus hidup lalat BSF yang mengalami metamorfosis sempurna, mulai dari telur, larva (maggot), prepupa, pupa, hingga menjadi lalat dewasa. Dalam praktik langsung, warga diajak melihat tahapan penetasan telur, pembesaran maggot di biopond, hingga proses panen maggot dan pemisahan kasgot. Peserta juga diperkenalkan pada potensi nilai ekonomisnya, mulai dari penjualan telur maggot, fresh maggot untuk pakan ikan, ayam, dan bebek, hingga produk turunan seperti maggot kering dan pupuk kasgot.
Kegiatan ini digagas oleh tim KKN UNY yang terdiri atas Al Khansa Amadea Kalyana Putri Wibowo, Arzahnata Sholwa Nola Angel, Avif Ananditya Prabowo, Daniel Febrianto Suhardi, Kaila Diyah Nabila, Nafiatun Uqba, Nashrinda Maharani, Rara Tandaya Ivandi, Safa Paramesti Azhari, dan Ulfah Daniasari. Mereka terlibat aktif dalam persiapan materi, koordinasi dengan perangkat desa, hingga pendampingan praktik di lapangan.
Ketua tim KKN, Avif Ananditya Prabowo, menyampaikan bahwa program ini dirancang berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. “Kami melihat persoalan sampah organik masih menjadi tantangan di Tegalrejo. Melalui sosialisasi dan praktik maggot BSF ini, kami berharap warga tidak hanya memahami konsepnya, tetapi juga mampu mempraktikkannya secara mandiri sebagai solusi lingkungan sekaligus peluang ekonomi,” ujarnya, Senin (2/3/26).
Menurut Avif, pendekatan praktik langsung dipilih agar masyarakat lebih mudah memahami proses budidaya. “Kami ingin kegiatan ini berkelanjutan. Harapannya, setelah KKN selesai, warga dapat membentuk kelompok pengelola maggot yang terintegrasi dengan peternakan atau pertanian setempat,” tambahnya.
Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan seputar teknis pakan, perawatan, hingga pemasaran hasil panen. Beberapa warga bahkan menyatakan minat untuk memulai budidaya skala rumah tangga dengan memanfaatkan sisa dapur.
Kegiatan ini sejalan dengan komitmen pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui edukasi dan transfer pengetahuan kepada masyarakat, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan membuka peluang usaha berbasis pengolahan sampah, SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui pengelolaan sampah ramah lingkungan di tingkat desa, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan mendorong pengolahan sampah organik menjadi produk bernilai tambah, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) karena pengurangan sampah organik turut menekan potensi emisi gas rumah kaca dari timbunan sampah.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UNY tidak hanya menghadirkan solusi inovatif pengelolaan sampah, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran ekologis dan kemandirian ekonomi masyarakat desa. Kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan warga diharapkan menjadi langkah konkret menuju lingkungan yang lebih bersih, produktif, dan berkelanjutan di Tegalrejo, Hargowilis, Kokap.
English