STRATEGI PENGEMBANGAN PERGURUAN TINGGI UNTUK MEWUJUDKAN INSAN UNGGUL DAN BERDAYA SAING GLOBAL

Pendahuluan

Saya merasa mendapat kehormatan untuk berbagi pengalaman dalam mengembangkan strategi sebagai perguruan tinggi yang mempunyai sejarah keunikan di bidang ilmu-ilmu pertanian. Dalam makalah ini disajikan perspektif IPB sebagai perguruan tinggi pertanian untuk menghadapi tantangan bangsa dan pemenuhan kebutuhan pangan sebagai persoalan utama pada masa mendatang melalui upaya mengembangkan berbagai program untuk menghasilkan inovasi dan mewujudkan sumberdaya manusia unggul dan berdaya saing.

 

Demografi dan Implikasi Globalisasi

Pada tahun 2019, jumlah penduduk dunia diperkirakan akan mencapai 7,5 milyar jiwa. Kebutuhan umat manusia di seluruh dunia terhadap pangan, energi, air bersih, dan pemukiman; akan semakin meningkat. Dengan jumlah penduduk 253,6 juta jiwa, pada tahun 2014 Indonesia memiliki jumlah penduduk terbanyak keempat setelah China, India dan Amerika Serikat. Bahkan pada tahun 2035, jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan akan mencapai lebih dari 305 juta jiwa. Struktur demografi Indonesia tergolong sehat, yaitu terkonsentrasi pada usia produktif atau pada rentang usia 15-64 tahun. Jumlah ini sebesar 67,9 persen dari total jumlah penduduk dan meningkat dari angka tahun 2010 sebesar 66,5 persen.

Tingginya usia produktif tersebut diikuti juga dengan pengurangan angka dependency ratio menjadi 47,3 persen. Menurunnya rasio beban ketergantungan menunjukkan berkurangnya beban ekonomi bagi penduduk umur produktif yang menanggung penduduk umur tidak produktif. Negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, statistika demografinya dicirikan oleh dominasi penduduk usia tua. Di Indonesia rasio ketergantungan penduduk usia tua terha­dap usia muda bahkan terus menunjukkan penurunan hingga mencapai titik terendahnya pada 2030. Sehingga 15 tahun ke depan merupakan tahun emas bagi Indonesia karena momen­tum pertumbuhan ekonomi yang sangat baik.

Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat pada beberapa tahun terakhir ini semakin menyatukan dunia dan menyingkirkan sekat-sekat geografis. Fenomena internet, media sosial, hingga program-program aplikasi berbasis Android, iOS, Windows, dan lainnya; bukan hanya memudahkan komunikasi antar masyarakat, melainkan juga mengubah paradigma ekonomi, politik, pengembangan ilmu pengetahuan serta budaya. Seperti diprediksi oleh Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave (1980), teknologi informasi telah menjadi faktor yang sangat penting dalam gelombang ketiga perubahan peradaban umat manusia. Globalisasi yang mengubah peta kekuatan ekonomi dunia harus kita sikapi dengan pola pikir positif namun progresif dan berbasis kebenaran untuk kepentingan bangsa kita khususnya dan umat manusia pada umumnya dalam jangka panjang.

Kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan berlaku mulai akhir tahun 2015 memberi peluang sekaligus tantangan dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Salah satu pilar dari Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah bahwa ASEAN menjadi pasar tunggal dan berbasis produksi regional yang didukung oleh elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terdidik dan aliran modal yang lebih bebas. Dengan adanya arus bebas tenaga kerja terampil dapat dipastikan akan terbuka kesempatan kerja seluas-luasnya bagi warga negara dari negara-negara ASEAN karena dapat keluar dan masuk dari satu negara ke negara lain untuk mendapatkan pekerjaan tanpa adanya hambatan di negara yang dituju.

Kunci keberhasilan dalam implementasi kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah sumberdaya manusia dan pengembangan riset melalui pendidikan yang berkualitas dan berkesetaraan. Indonesia perlu meningkatkan produktifitas dan mutu produk dan jasa untuk tidak saja mampu memenuhi kebutuhan dasar dalam negeri, namun juga berorientasi pada pasar ekspor. Tantangannya adalah bagaimana mempersiapkan sumberdaya unggul yang siap bersaing secara global.

 

Ekonomi Indonesia dan Pengembangan Sumberdaya Manusia

Dalam konstelasi dunia, kita termasuk negara yang menjadi salah satu pusaran perdagangan dunia.  Sebagai negara maritim dengan tiga jalur perlintasan transportasi dunia, Indonesia adalah salah satu negara yang paling banyak disinggahi kapal.  Tetapi hal ini belum membawa keuntungan bagi kita. Indonesia bahkan harus memastikan keselamatan armada bangsa lain yang menggunakan perairan kita secara bebas.

Indonesia diprediksi oleh McKinsey Global Institute akan menjadi negara dengan economic size no­mor tujuh terbesar di dunia pada 2030. McKinsey Global Institute juga menguraikan potensi maupun peluang yang tersedia bagi negeri ini maupun tantangan dan permasalahan yang dihadapi. Ekonomi Indonesia saat ini masih berada di urutan ke-16 di dunia, dengan 45 juta penduduk kelas konsumen, 53% penduduk di kota-kota menyumbang 74% PDB, 55 juta tenaga kerja terampil, US$ 0,5 Trilyun pangsa pasar pada sektor jasa, pertanian dan perikanan, sumber daya energi dan pendidikan.

Namun, perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional pada saat ini dapat menyebabkan prediksi McKinsey Global Institute itu meleset. Ekonomi Indonesia ternyata hanya tumbuh 5,01% pada tahun 2014.  Angka ini merupakan angka paling rendah dalam lima tahun terakhir.  Perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia itu terjadi seiring dengan menurunnya harga-harga ekspor komoditi utama sedangkan volume ekspor dan investasi tidak banyak mengalami kemajuan. Ekonomi kita sebagian besar didukung oleh perdagangan barang dan jasa.  Kontribusi sektor riil seperti pertanian dan perikanan, serta sumberdaya lain dan pendidikan sangat kecil. Masyarakat kita masih belum betul-betul melihat bahwa pendidikan adalah investasi emas jangka panjang. Indonesia masih harus bekerja sangat keras untuk menjadi negara dengan ekonomi terbesar ketujuh dunia pada tahun 2030.

Peluang perkembangan ekonomi Indonesia harus diraih dengan peningkatan pendidikan, produktivitas, dan sekaligus penciptaan lapangan kerja yang memadai. Apabila hal-hal tersebut tidak berhasil dilakukan maka kita akan menghadapi masalah tingginya angka pengangguran dan krimi­nalitas. Sebagai gambaran, pada saat ini angkatan kerja Indonesia berjumlah 112 juta jiwa dan 67 persen diantaranya hanya berpen­didikan SMP ke bawah. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia harus benar-benar menjadi perhatian bangsa kita pada saat ini.

Human Development Report tahun 2014 yang dipublikasikan oleh UNDP menempatkan Indonesia pada posisi ke 108 berdasarkan Human Development Index (HDI). Peringkat ini memang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya (21), namun angka HDI Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN lain seperti Singapura (9), Brunei Darussalam (30), Malaysia (62), dan Thailand (89). Posisi HDI Indonesia tersebut mengindikasikan bahwa tingkat harapan hidup, tingkat perkembangan ilmu, dan tingkat standar hidup rakyatnya masih sangat tertinggal dibandingkan bangsa-bangsa lain.

Bangsa-bangsa di seluruh dunia harus merespon secara sungguh-sungguh delapan persoalan pokok dunia dengan menekan angka kemiskinan dari 46,7% menjadi 22%, mendorong kesempatan menikmati pendidikan dasar hingga 91,1% populasi dunia, memperjuangkan persamaan gender dan pemberdayaan perempuan hingga 97%, menurunkan angka kematian bayi hingga 50%, menurunkan angka kematian wanita menyusui dari 380 per 100.000 orang menjadi 210 orang per 100.000 orang, mengendalikan penyakit menular dan HIV hingga 5%, menurunkan proporsi masyarakat tanpa air bersih hingga 11%, dan memperjuangkan akses masyarakat untuk sanitasi hingga berkurang menjadi 36%.  Perhatian terhadap pendidikan sebagai prioritas utama dalam pembangunan manusia sangat jelas terlihat.  Kelompok masyarakat dari berbagai jenis kelamin, kelompok umur melihat bahwa pendidikan dapat menjadi solusi yang komprehensif dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh berbagai bangsa di seluruh dunia tersebut.

 

Tantangan dalam Memenuhi Kebutuhan Pangan

Sebelum menguraikan peran dan strategi perguruan tinggi dalam membangun insan unggul yang berdaya saing global, ada persoalan yang pokok untuk menjadi perhatian kita semua yaitu pangan. Persoalan pangan adalah persoalan yang sangat penting bagi suatu bangsa. Setiap bangsa tidak mungkin mampu membangun sumberdaya manusia yang unggul, jika persoalan pangan dan kecukupan gizi masih menjadi masalah utama. Bung Karno pernah mengingatkan betapa pentingnya hal tersebut. Ketika meletakkan batu pertama pembangunan kampus Institut Pertanian Bogor tahun 1952, Bung Karno mengatakan: “…soal persediaan makanan rakjat ini, bagi kita adalah soal hidup atau mati. Tjamkan, sekali lagi tjamkan, kalau kita tidak “ampakkan” soal makanan rakjat ini setjara besar-besaran, setjara radikal dan revolusioner, kita akan mengalami tjelaka…”

Pernyataan Bung Karno tersebut terasa nyata kebenarannya pada saat ini, terutama jika kita mencermati bagaimana upaya penyediaan pangan harus berpacu dengan pertumbuhan penduduk yang melaju sangat cepat. Indonesia pernah mengalami masa sulit terkait dengan persoalan pangan ini karena impor beras mencapai angka tertinggi (6,077 juta ton) yaitu pada tahun 1998 ketika terjadi krisis moneter. Impor beras yang mencapai rekor tertinggi  itu telah menjadi pemicu kerusuhan dan mengganggu stabilitas nasional.

Indonesia pada saat ini menghadapi persoalan yang tidak mudah dalam membangun kedaulatan pangan. Hal ini terjadi antara lain karena volume kebutuhan pangan nasional meningkat tajam sementara produksi nasional tidak mampu mengimbanginya. Kita masih mengimpor berbagai komoditi pangan, yaitu antara lain gandum, jagung, kedele, daging sapi, susu, dan buah-buahan. Laporan Badan Pusat Statistik tahun 2014 menyebutkan bahwa sebagai imbas dari banyaknya bahan pangan yang dipenuhi dari impor, pengeluaran rata-rata untuk konsumsi makanan dan minuman pun meningkat tajam yaitu rata-rata sebesar 14,7 persen per tahun. Konsumsi tahu dan tempe yang merupakan sumber penting protein nabati, sekalipun sumber bahan bakunya sebagian besar impor, peningkatannya juga jauh lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk.

Pada tingkat global dan nasional, produksi pangan dihadapkan pada berbagai kendala besar. Kendala tersebut antara lain menurunnya permukaan air tanah, laju peningkatan produksi yang mulai stagnan, perubahan iklim yang mengacaukan jadwal tanam, meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman, deplesi cadangan fosfat sebagai bahan baku pupuk P, serta degradasi dan erosi tanah. Di sisi lain, pada saat ini pola konsumsi masyarakat kita juga mengalami perubahan. Konsumsi beras per kapita per tahun yang menurun ternyata bukan disebabkan beralihnya konsumsi ke sumber karbohidrat lokal lainnya, melainkan lebih disebabkan peningkatan konsumsi pangan olahan berbasis tepung terigu yang meningkat tajam. Pola konsumsi dan gizi masyarakat dicirikan oleh terjadinya peningkatan kecil konsumsi protein asal hewani, yaitu 0,28 persen setiap tahun, dimana sebagian besar berasal dari unggas. Namun, jumlah tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk. Pola konsumsi masyarakat justru kian bergeser dari pola konsumsi pangan yang diproduksi oleh petani, peternak, dan nelayan kecil ke pangan berbasis impor dan produk korporasi.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi kenyataan bahwa 4 juta rumah tangga nelayan dan hampir 1 juta tenaga kerja di pelabuhan masih terjebak dalam kondisi miskin. Sumbangan sektor ini terhadap ekonomi yang belum beranjak melebihi angka 7%. Padahal potensi sumberdaya ikan dan pelabuhan kita sangat besar. Sekitar 24,5 juta ha perairan laut dangkal telah diidentifikasi sesuai untuk usaha budidaya laut seperti ikan kerapu, kakap, baronang, kerang mutiara, teripang, abalone, dan rumput laut yang bernilai ekonomi tinggi, dengan potensi produksi sekitar 47 juta ton/tahun.  Produksi perikanan laut di negara kepulauan dengan pola agromaritim akan memperkuat konektivitas antara wilayah, logistik perikanan yang muaranya akan memperkuat industrialisasi perikanan. Untuk mengatasi berbagai masalah di bidang pangan tersebut dan berdasarkan potensi yang kita miliki maka pilihan terbaik bagi kita adalah membangun sistem produksi pangan nasional kita sendiri dengan melakukan upaya-upaya menegakkan kedaulatan pangan.

 

Upaya Menegakkan Kedaulatan Pangan

Dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia harus memiliki grand strategy dalam membangun sistem produksi pangan yang tangguh sehingga terbebas dari ketergantungan kepada pangan impor. Tanah air kita yang berada di daerah beriklim tropika memungkinkan kita memproduksi pangan sepanjang tahun. Kita dapat membangun sistem produksi pangan yang tangguh dengan mengerahkan seluruh sumber daya dan kemampuan yang dimiliki untuk menghasilkan kebutuhan pangan sendiri, baik dalam ragam maupun volume dan waktu ketersediaannya. Kalau Indonesia dapat membangun sistem produksi pangan yang kuat, kita juga akan dapat membantu negara-negara lain di dunia yang mengalami kesulitan di  bidang pangan. Dengan demikian, grand strategy kita dalam bidang produksi pangan tidak akan terjebak pada penanganan persoalan jangka pendek dan terbatas pada komoditas tertentu, tetapi menjangkau rentang waktu yang lebih panjang dengan cakupan yang lebih luas sehingga lebih tangguh (Suhardiyanto 2012).

Untuk mengatasi kelangkaan pangan, kita tidak boleh hanya mengandalkan instrumen kebijakan perdagangan. Tetapi harus mencakup juga penguatan sistem produksi di dalam negeri, terutama untuk mencegah kelangkaan pangan. Untuk membangun sistem produksi pangan yang kuat, kita perlu mengelola secara optimal sumber daya yang kita miliki. Namun hal tersebut menghadapi tantangan konversi lahan yang sangat cepat ke penggunaan untuk permukiman, industri, jalan raya, dan sebagainya. Badan Pusat Statistik menyebutkan setiap tahun terjadi konversi lahan pertanian ke penggunaan lain tidak kurang dari 110 ribu hektare. Termasuk dalam lingkaran persoalan tersebut ialah lahan tidur yang tidak ditanami karena sudah dibeli dari petani dan pembelinya berspekulasi untuk dapat menjualnya lagi dengan harga jauh lebih tinggi.

Infrastruktur bendungan dan jaringan irigasi yang kita miliki tidak berfungsi maksimal karena daerah tangkapan air di hulu terdegradasi dan jaringan irigasi rusak. Volume air yang dapat ditampung waduk berkurang karena sedimentasi dari erosi lahan di bagian hulu dari sungai yang dibendung. Di beberapa daerah irigasi, sawah di daerah hulu menerima air berlebih, sedangkan di daerah hilir sering kekurangan air. Selain itu, di daerah irigasi tertentu terjadi hambatan besar dalam pengelolaan. Dalam beberapa kasus, kekurangan air di daerah irigasi bukan karena kekurangan pembagian air dari waduk, melainkan karena hambatan pengelolaan. Hal tersebut sering mengakibatkan rencana tanam serentak di hamparan sawah tersebut sulit direalisasikan.

Petani menghadapi masalah karena tanah sawah di lokasi tersebut telah diberi pupuk anorganik berlebihan dalam jangka waktu yang lama. Pada aspek benih, kita juga masih lemah. Jumlah petani yang sangat memahami perbenihan mengalami penurunan sejalan dengan meningkatnya usia rata-rata petani. Untuk itu, semua persoalan ketidakoptimalan pengelolaan sumber daya itu harus segera dipecahkan agar kita bisa membangun sistem produksi pangan yang tangguh. Swasembada beras yang pernah kita capai pada 1984 antara lain merupakan buah konsistensi implementasi gagasan revolusi hijau dalam jangka panjang yang dimulai dengan kegiatan action research pilot project Pancausaha Lengkap di Karawang pada Agustus 1963.

Program itu kemudian diperluas menjadi Bimas (Bimbingan Massal) dan beberapa nama program lain sesudahnya sebagai bentuk penyempurnaan. Hal ini memberikan pelajaran kapada kita bahwa inovasi dan diseminasi hasil inovasi pernah mengantarkan bangsa kita mencapai prestasi yang membanggakan di bidang produksi pangan. Oleh karena itu, bangsa kita harus menjadikan riset yang menghasilkan inovasi sebagai agenda nasional yang penting.

 

Inovasi untuk Perbaikan Perekonomian Bangsa

Inovasi sangat penting untuk mengantarkan bangsa kita agar perekonomian nasionalnya bergeser dari factor-driven economy menjadi innovation-driven economy. Oleh karena itu, perguruan tinggi harus mampu menghasilkan inovasi yang berguna bagi penguatan perekonomian nasional. Untuk merangsang tumbuhnya inovasi di Indonesia, Business Innovation Center (BIC) dengan dukungan Kementerian Riset dan Teknologi RI menerbitkan daftar 100 plus karya inovatif paling prospektif. Melalui penerbitan daftar karya inovatif tersebut, sejak 2008 para peneliti baik dari perguruan tinggi, institusi penelitian dan pengembangan di berbagai kementerian, maupun swasta di Indonesia didorong untuk menghasilkan inovasi-inovasi terbaik mereka.

Penting bagi perguruan tinggi untuk selalu berupaya memberikan kontribusi terhadap lahirnya inovasi seperti yang dilakukan oleh IPB yang selalu memberikan kontribusi inovasi terbanyak di Indonesia. Pada seleksi 100 karya inovatif paling prospektif tahun 2008, tercatat sebanyak 21 karya inovasi IPB yang merupakan karya dosen, peneliti dan mahasiswa IPB; tahun 2009, dari 101 karya inovatif, 24 inovasi karya IPB; tahun 2010, dari 102 karya inovatif, 51 inovasi karya IPB; tahun 2011, dari 103 karya inovatif, 35 inovasi karya IPB; tahun 2012, dari 104 karya inovatif, 48 inovasi karya IPB; tahun 2013, dari 105 karya inovatif, 55 inovasi karya IPB; dan tahun 2014, dari 106 karya inovatif, 45 karya IPB.  Sehingga secara keseluruhan, kontribusi inovasi IPB selama tujuh tahun adalah 278 inovasi dari 721 inovasi Indonesia atau sebanyak 38,55%.

Pengembangan inovasi yang dilakukan oleh perguruan tinggi juga harus aplikatif dan secara nyata berkontribusi pada penyelesain persoalan yang ada di masyarakat. Sebagai ilustrasi, saya ingin menyajikan beberapa contoh inovasi IPB yang telah berhasil didesiminasi baik dalam bentuk komersialiasi dan aplikasi lainnya. Dalam produksi padi dan kedelai misalnya. Mengingat selama puluhan tahun sawah selalu dipupuk dengan pupuk anorganik saja dan tidak mendapat pasokan bahan organik yang cukup, dilakukanlah penelitian budi daya tanaman padi dengan aplikasi bahan organik, yaitu jerami dengan dekomposer dan pupuk hayati tanpa aplikasi pestisida.

Hasil penelitian IPB di Karawang selama lima musim tanam menyatakan bahwa metode itu telah meningkatkan ketersediaan unsur hara tanah, meningkatkan daya pegang air tanah sehingga tanaman lebih tahan kekeringan, mengembalikan kesuburan tanah, memperkuat agen pengendali hayati atau probiotik bagi tanaman, dan menyuburkan pertumbuhan musuh alami dari hama tanaman padi; sehingga menghasilkan padi 8 ton/ha pada musim tanam keempat sekaligus dengan pengurangan dosis pupuk kimia menjadi hanya 50% dari biasanya (Sugiyanta, 2012).  Untuk mengkaji kemungkinan penambahan luas areal tanam kedelai, IPB telah melakukan penelitian untuk menjadikan lahan pasang surut sebagai tambahan areal untuk tanaman kedelai.

Hal ini diharapkan dapat mengurangi kemungkinan penurunan areal tanam jagung dan palawija lain karena perluasan areal tanam kedelai. Kadar pirit yang tinggi di lahan pasang surut menyebabkan rendahnya pH tanah pada kondisi teroksidasi sehingga produktivitas kedelai hanya 800 kg/ha. Teknologi budi daya jenuh air yang meliputi pengaturan tinggi muka air, penerapan olah tanah ringan, dan pemberian kapur ternyata dapat menurunkan kadar pirit (Ghulamahdi, 2009). Penerapan teknologi tersebut pada 2009-2010 di lahan pasang surut mencatat produktivitas kedelai dapat mencapai angka cukup tinggi, yaitu 4 ton/ha. Untuk pengembangan skala besar, tentu ada penurunan produktivitas rata-rata. Bila diasumsikan terjadi penurunan 40%, produktivitas kedelai masih dapat mencapai rata-rata 2,4 ton/ha di lahan pasang surut, suatu angka yang sangat menjanjikan bagi peningkatan produksi kedelai nasional.

Selain itu, beberapa inovasi IPB lainnya yang juga telah berhasil didesiminasi, yaitu antara lain meliputi: 1) inovasi dalam bidang pangan misalnya pelepasan varietas-varietas unggul IPB untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian antara lain varietas kentang, pepaya, pisang, cabai, tomat, melon, kedelai dan padi; diversifikasi pangan antara lain seperti beras analog, mie jagung, beras tekad, tepung mocaf, telor omega 3, serta formula pakan ternak; 2) inovasi dalam bidang perikanan misalnya mesin pemisah daging, alat pemanen udang, mesin pemingsan udang, alat penghitung benih ikan, mesin pencuci rumput laut, model tambak udang di lahan berpasir; 3) inovasi dalam bidang peternakan misalnya pelet daun indigofera sebagai suplemen protein pakan kambing perah, biskuit pakan berbasis limbah jagung, yoghurt bubuk susu kambing, bio-yoghurt temulawak madu manis, tablet rennet instan untuk keju, dan lainnya.

Selain itu IPB juga menghasilkan inovasi dalam bidang kehutanan misalnya papan partikel limbah akar wangi, perekat kayu alami berbasis karet, papan partikel dari limbah pertanian tanpa perekat sintetis, dan lainnya. Inovasi IPB dalam bidang biomedis meliputi detektor flu burung, vaksin flu burung, ekstrak tabat barito untuk anti-tumor, ekstrak buncis untuk diabetes.

Dalam artikel An entrepreneurial, research-based university model focused on intellectual property management for economic development in emerging economies: The case of Bogor Agricultural University, Indonesia yang ditulis oleh Payumo JG et al., peneliti dari Washington State University dan peneliti dari IPB, di jurnal World Patent Information tahun 2014, IPB diakui sebagai salah satu rujukan bagi perguruan tinggi yang bermaksud membangun model universitas riset yang berorientasi pada sinergi riset, kewirausahaan dan komersialisasi teknologi.

IPB juga mendapat penghargaan nasional 2015 sebagai perguruan tinggi dengan komersialisasi paten terbanyak dari Kementerian Hukum dan HAM. Pengakuan ini melengkapi prestasi pada tahun 2012 dimana IPB mendapat penghargaan sebagai perguruan tinggi yang terbanyak mendaftarkan paten di Indonesia. Pada saat ini tercatat 256 paten terdaftar dan 47 paten granted. Tantangan IPB adalah bagaimana menghadirkan berbagai hasil riset, inovasi dan paten tersebut di tengah-tengah masyarakat, dan untuk ini, dukungan semua pihak sangat diperlukan.

Tentu masih banyak hasil penelitian dari para dosen berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta serta para peneliti di berbagai institusi penelitian dan pengembangan milik pemerintah maupun swasta yang tidak dapat diuraikan di sini. Yang jelas, kita sesungguhnya mampu mengembangkan teknologi yang sesuai untuk kondisi dan tantangan yang bangsa kita hadapi. Sayangnya, masih sedikit pelaku bisnis dan institusi publik yang memanfaatkan hasil inovasi bangsa sendiri. Memang seringkali inovasi yang dihasilkan belum dapat segera dikomersialisasikan karena riset yang belum terarah untuk menghasilkan solusi komprehensif. Untuk itu, kampus-kampus kita perlu memiliki agenda riset yang dijalankan secara konsisten.

 

Perumusan Agenda Riset

Pengembangan inovasi berhulu pada kegiatan riset yang dilakukan secara berkesinambungan. Perguruan tinggi harus konsisten dalam melakukan riset dengan agenda riset yang tajam dan terarah. Hal ini karena untuk menghasilkan kesimpulan dan inovasi yang baik, riset harus dilakukan dengan penuh ketekunan dan konsistensi. Dalam merumuskan agenda riset tentu diperlukan kepemimpinan yang kuat tapi juga melayani. Sangatlah penting untuk merumuskan agenda riset secara partisipatif. Proses pengambilan keputusan dalam perumusan agenda riset haruslah berdasarkan kaidah ilmiah yang obyektif. Dalam kesempatan ini, perkenankan saya menyampaikan sebuah ilustrasi tentang perumusan agenda riset di IPB.

Pelaksanaan kegiatan riset di IPB agar terarah, konvergen dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, dilakukan dengan mengacu agenda riset strategis sebagai dasar rencana induk penelitian. Agenda riset IPB meliputi bidang pangan, energi, lingkungan, penanggulangan kemiskinan dan biomedis. Agenda ini juga menjadi acuan dalam melakukan evaluasi tema-tema riset yang akan dilakukan oleh dosen dan penelitian melalui berbagai skema penelitian seperti hibah bersaing, hibah kompetensi, hibah penelitian strategis nasional, dan lain sebagainya.

Untuk memenuhi kebutuhan menghasilkan riset-riset terobosan dan berdampak luas, IPB juga inovasi dalam pendanaan riset melalui skema ‘Penelitian Institusi’. Skema ini disediakan untuk riset-riset yang multiyears, melibatkan kolaborasi berbagai disiplin ilmu, dan memerlukan sumberdaya yang relatif besar. Beberapa contoh agenda penelitian intitusi yang sedang dan akan dilaksanakan yaitu: studi multilokasi dan penglepasan varietas baru padi; scalling up sistem produksi kedelai di lahan pasang surut; pengembangan benih dan pakan lokal untuk budidaya ikan; pemurnian galur dan pengembangan sapi Bali; pengembangan sistem pengelolaan air dan irigasi; scalling-up produksi beras analog; pengembangan sistem edukasi konsumen untuk menurunkan konsumsi beras per kapita; kajian kebijakan dan politik yang kondusif untuk sistem produksi pangan nasional mencakup agraria, logistik dan rantai pasok, infrastruktur, tataniaga, pemasaran, insentif/subsidi, transportasi; dan pengembangan sistem pengendalian penyakit ternak dan riset-riset zoonotic.

Dengan komitmen dan konsistensi yang tinggi dalam mengembangkan riset dan melakukan diseminasi hasil riset ternyata diperoleh prestasi yang baik. Jumlah publikasi ilmiah internasional IPB mengalami peningkatan signifikan dalam tujuh tahun terakhir. Bahkan tahun 2014 ini, jumlah publikasi internasional IPB yang terindeks Scopus adalah yang terbanyak ketiga di Indonesia setelah ITB dan UI, yaitu 287 buah. Kontribusi mahasiswa pascasarjana tercatat 40% dari total publikasi. Hal ini antara lain merupakan dampak positif dari ketentuan agar mahasiswa pasca sarjana mempublikasikan hasil penelitiannya. Ketentuan tersebut ternyata tidak menambah panjang masa studi mereka.

 

Kompetensi Lulusan Perguruan Tinggi

Peran perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kompeten dalam bidang ilmunya sedang berada dalam sorotan. Hal ini antara lain karena banyaknya pengangguran lulusan perguruan tinggi. Memang persoalan education mismatch tidak hanya terjadi di negara kita. Namun, persoalan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi. Kampus-kampus kita harus segera mengambil langkah yang nyata untuk memastikan adanya relevansi yang kuat antara kurikulum dengan kebutuhan bangsa terhadap peran lulusan pada masa yang akan datang. Indonesia perlu segera memiliki manpower need of national economy and services berdasarkan scenario pertumbuhan ekonomi dan pelayanan umum. Berdasarkan scenario tersebut, kampus-kampus lalu menentukan program studi apa saja yang dibuka dan jumlah mahasiswa baru yang akan diterima pada setiap program studi tersebut.

Perguruan tinggi perlu membangkitkan suasana akademik yang membangkitkan kecintaan kepada ilmu pengetahuan, memperkuat motivasi, dan merangsang kreatifitas para mahasiswanya. Selain itu, pendekatan yang diterapkan dalam proses belajar mengajar juga perlu disesuaikan akan semakin mendekatkan kampus dengan institusi dan lapangan kiprah para lulusan. Pengalaman Jerman dalam mengembangkan dual system curriculum untuk pendidikan vokasi dapat kiranya menjadi rujukan. Dalam proses pembelajarannya, porsi utama diberikan di perusahaan sesuai dengan pekerjaannya dengan waktu pembelajaran diatur secara berbeda namun di bawah satu peraturan yang terkoordinasi.

Pada masa sekarang, terdapat kecenderungan semakin banyaknya generasi muda yang bekerja di negara lain. Dalam persaingan yang semakin ketat tersebut, kompetensi lulusan perguruan tinggi sangat menentukan peran yang bersangkutan di tengah masyarakat. Hal ini karena momentum kemajuan teknologi, ekonomi, dan berbagai sendi kehidupan sering kali datang secara mendadak dan tidak sempat diprediksi jauh-jauh hari sebelumnya. Siapa yang paling kompeten dan paling siap menghadapi ketidakpastian semacam itu, akan mendapat kesempatan paling besar untuk berperan di tengah masyarakat dan menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi sesama.

Oleh karena itu, perguruan tinggi dituntut tanggap dalam menghadapi dinamika perubahan dan ketidakpastian yang akan terus berlangsung. Para mahasiswa harus terus-menerus meningkatkan kompetensi, termasuk kemampuan berbahasa asing yang dibutuhkan untuk menghadapi persaingan usaha dan persaingan bursa tenaga kerja yang lebih ketat. Jika kita tidak sigap, alih-alih kita dapat memasuki pasar tenaga kerja di negara lain, yang terjadi adalah sebaliknya yaitu kita akan melihat semakin banyak tenaga kerja asing yang bekerja di negara kita. Arus perubahan sosial yang selalu terjadi seiring dengan dinamika masyarakat menuntut lulusan perguruan tinggi memiliki sifat responsif  terhadap berbagai fenomena sosial yang berkembang.  Persaingan dalam penyediaan layanan pendidikan tinggi yang bermutu menjadi tantangan sekaligus peluang untuk melakukan perubahan internal perguruan tinggi jika ingin tetap berperan di tengah masyarakat.

Persyaratan penerimaan tenaga kerja pada beberapa tahun terakhir ini menjadi sangat ketat.  Persyaratan kerja tidak hanya berupa kualitas lulusan pada penguasaan hard skills yang meliputi kemampuan teknis dan akademis, tetapi juga soft skills yang meliputi kemampuan intra dan interpersonal seperti kemampuan beradaptasi, komunikasi, kepemimpinan, inisiatif, kemauan dan motivasi yang tinggi, komitmen, kemampuan dalam pengambilan keputusan, optimisme, kemampuan dalam pemecahan masalah, integritas diri, keramahan, dan sebagainya. Kunci keberhasilan di lapangan pekerjaan ternyata hanya 20% ditentukan oleh kompetensi akademik (teknis, hard skills), sementara 80% ditentukan oleh kompetensi non akademik (soft skills).

Kalau sumber daya yang kita miliki dapat kita kelola dengan optimal, bila inovasi terus didorong dan dimanfaatkan secara efektif, dan jika penyiapan insan yang unggul dapat kita lakukan melalui pendidikan tinggi yang bermutu, kita optimistis bahwa bangsa kita akan menjadi bangsa yang maju dan setaraf dengan bangsa-bangsa lain yang sudah lebih dahulu menjadi bangsa yang maju. Untuk itu, kampus-kampus terkemuka di tanah air harus memiliki visi menjadi perguruan tinggi bertaraf internasional.

 

World Class University dan Internasionalisasi

World class university dalam beberapa tahun terakhir merupakan kata kunci yang sempat menjadi isu dalam pengembangan perguruan tinggi di tanah air. Rumusan-rumusan tersebut berbeda sedikit satu sama lain, namun secara umum sama. Dalam hal ini, IPB berpegang pada prinsip bahwa pemeringkatan perguruan tinggi merupakan hal yang penting namun bukan segala-galanya. Dibandingkan dengan pemeringkatan yang fluktuatif, IPB lebih berorientasi pada akreditasi internasional yang lebih ajeg dan lebih mencerminkan mutu penyelenggaran pendidikan tinggi. Sebagai informasi dalam hal pemeringkatan, IPB selama ini diakui sebagai salah satu dari 150 Perguruan Tinggi terbaik di dunia versi QS World University Ranking by Subject yaitu Agriculture and Forestry. Pada saat ini IPB menempati peringkat 1 di Indonesia dan 93 di dunia untuk Rangking Web of Repositories.

Dalam hal akreditasi internasional, dalam kurun empat tahun terakhir (2012-2015), IPB berhasil mendorong 15 program studi mendapatkan akreditasi internasional. Pada bulan Maret 2015, program studi sarjana Teknik Mesin dan Biosistem memperoleh Akreditasi dari Japan Accreditation Board for Engineering Education (JABEE), Program studi sarjana di  Departemen Agronomi dan Hortikultura, Departemen Proteksi Tanaman, dan Departemen Budidaya Perairan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Departemen Sains dan Komunikasi Pengembangan Masyarakat telah memperoleh sertifikat dari Asean University Network-Quality Assurance (AUN-QA).

Departemen Teknologi Hasil Hutan telah memperoleh akreditasi dari Society of Wood Science and Technology (SWST) Amerika Serikat.  Sebelumnya, program studi sarjana di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan telah memperoleh akreditasi dari Institute of Food and Technologist (IFT) Amerika Serikat pada tahun 2012 dan IUFoST tahun 2013; Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan dari The Institute of Marine Engineering, Science and Technology (IMarEST) Inggris, dan Departemen Teknologi Industri Pertanian dari Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET) Amerika Serikat pada tahun 2013.

Dalam konteks kerjasama dan program internasional, IPB sedang menjalankan program joint/double degree dengan beberapa universitas ternama, antara lain dengan Adelaide University (Australia), Maastricht University (Belanda), Ibaraki University dan Chiba University (Jepang), Goettingen University (Jerman), dan Montpelier SupAgro (Perancis). IPB juga berperan sebagai simpul penting kerjasama internasional untuk riset dan pendidikan tinggi melalui program-program CRC990-EFForTS yang dibiayai oleh German Research Foundation (DFG) kerjasama dengan Goettingen University, Universitas Jambi dan Universitas Tadulako, yang melibatkan lebih dari 40 Profesor dan peneliti dari Jerman; Higher Education Partnership (HEP) yang disponsori DAAD, kerjasama dengan Universitas di Jerman, Afrika Selatan, dan Amerika Selatan;  konsorsium Erasmus Mundus, konsorsium Six University Indonesia-Japan Initiative (SUIJI), dan konsorsium riset dengan  Wageningen University, Belanda. IPB berperan aktif dalam pembentukan UNTA (University Network for Tropical Agriculture). Kerjasama lainnya juga sedang dikembangkan dengan beberapa universitas di Amerika Serikat, Australia, Jepang, Swedia, Denmark, Perancis, dan sekitar 131 universitas dan institusi dari 27 negara.

Akreditasi internasional, berbagai kegiatan internasionalisasi perguruan tinggi, dan penggunaan hasil riset untuk pendidikan merupakan cerminan mutu perguruan tinggi. Namun, meningkatkan mutu selalu dihadapkan pada tantangan untuk tetap menjaga akses yang seluas-luasnya bagi calon mahasiswa yang mempunyai kemampuan akademik yang baik.

 

Perluasan Akses dan Peningkatan Mutu Pendidikan Tinggi

Perguruan tinggi dapat memilih skenario perluasan akses dan peningkatan mutu dari empat pilihan, yaitu (1) akses sempit dan mutu rendah, (2) akses luas dan mutu rendah, (3) akses sempit dan mutu tinggi, dan (4) akses luas dan mutu tinggi. Pilihan 1, 2, dan 3 tidak sesuai dengan UUD 1945.  Pilihan 2, yaitu membuka akses yang seluas-luasnya tanpa peningkatan mutu pendidikan, merupakan pilihan yang tidak bertanggung jawab. Hal ini menghasilkan lulusan sebanyak-banyaknya, tetapi tidak kompeten. Pilihan 3, mencapai mutu tinggi dengan cara menggantungkan pendanaan dari mahasiswa, mempersempit akses pendidikan. Pilihan ini akan mengakibatkan pendidikan tinggi hanya dinikmati kaum elite secara ekonomi. Pilihan yang sesuai konstitusi adalah pilihan 4, yaitu akses yang luas pada pendidikan bermutu tinggi. Pilihan ini sejalan dengan cita-cita kemerdekaan para pendiri negara kita sebagaimana dinyatakan dalam Pembukaan UUD 1945, yang antara lain mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini sejalan dengan pandangan peran perguruan tinggi sebagai wahana penempaan calon pemimpin bangsa.

Tujuan perluasan akses adalah semangat mewujudkan pendidikan untuk semua. Masalah yang sering dihadapi adalah persoalan keterjangkauan. Solusinya adalah komitmen pemerintah dalam menetapkan alokasi anggaran memadai sebagaimana sudah dilaksanakan dengan program Bantuan Pendidikan untuk Mahasiswa Miskin (Bidikmisi), Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri, beasiswa, dan sebagainya. Selain itu, perlu ada peraturan tegas tentang kontribusi maksimum biaya pendidikan yang ditanggung mahasiswa. Tujuan peningkatan mutu adalah terwujudnya keunggulan akademik dan relevansi terhadap kebutuhan masyarakat. Tantangan yang harus dihadapi adalah proses transformasi dalam membangun atmosfer akademik yang baik, tata kelola yang sehat, dan penerapan prinsip-prinsip manajemen modern yang berlaku universal. Otonomi memungkinkan terjadinya perubahan budaya kerja yang berorientasi pada peningkatan mutu untuk melahirkan prestasi tinggi dan kinerja unggul (Suhardiyanto 2013).

 

Otonomi Perguruan Tinggi

Masyarakat kita masih sering salah persepsi tentang otonomi perguruan tinggi. Namun, hal tersebut tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat umum, tetapi juga pimpinan PTN. Masyarakat mengira implementasi otonomi perguruan tinggi mengakibatkan semakin besarnya dana pendidikan yang ditanggung mahasiswa. Adapun beberapa pimpinan PTN menganggap otonomi perguruan tinggi sebagai kesempatan menutupi kebutuhan dana peningkatan mutu dengan menggalang dana dari mahasiswa. Otonomi bukanlah komersialisasi. Karena itu, hal-hal yang dapat membuat masyarakat salah paham, seperti formulir kesanggupan menyumbang, harus ditiadakan.

Orangtua mencantumkan kesanggupan membayar yang lebih besar karena beranggapan bisa membuka peluang lebih besar agar anaknya diterima sebagai mahasiswa baru. Calon mahasiswa yang tidak diterima pun bisa berpersepsi bahwa angka sumbangan yang diisikan dalam formulir terlalu kecil. Padahal, sangat boleh jadi dia tidak diterima memang karena nilai ujiannya tidak masuk nilai persyaratan terendah program studi pada PTN yang bersangkutan. Otonomi perguruan tinggi bukan berarti kesempatan mengumpulkan dana sebesar-besarnya dari masyarakat melalui berbagai jalur penerimaan mahasiswa baru. Sebaliknya, otonomi perguruan tinggi merupakan kesempatan yang berharga untuk menjaga keseimbangan antara perluasan akses dan peningkatan mutu pendidikan tinggi (Suhardiyanto 2013).

Kunci keberhasilan otonomi perguruan tinggi adalah proses pengambilan keputusan secara bermartabat dan partisipatif berdasarkan kebenaran yang berbasis data dan fakta. Dalam PTN Badan Hukum, terbuka kesempatan bagi masyarakat untuk berperan dalam proses tata kelola melalui anggota Majelis Wali Amanat (MWA). MWA memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan penting dan strategis. Dengan keluarnya tujuh Peraturan Pemerintah tentang statuta untuk tujuh PTN Badan Hukum yang merupakan implementasi dari Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi maka telah ada landasan hukum untuk memberikan kepastian dan landasan yang lebih kokoh mengenai jaminan kemandirian kampus dalam mengekspresikan kebebasan akademiknya dan pengelolaan kampus yang otonom.

Dengan demikian, proses transformasi perguruan tinggi menjadi perguruan tinggi yang otonom dapat terus dilanjutkan. Dengan menyelenggarakan pendidikan tinggi yang bermutu, perguruan tinggi kita yang otonom dapat lebih leluasa dan efektif mendidik mahasiswanya dan melahirkan inovasi bagi masa depan bangsa kita melalui upaya-upaya membangun budaya akademik dapat memastikan tetap pentingnya peran perguruan tinggi dalam jangka panjang.

 

Relevansi Program dan Budaya Akademik

Kurikulum perlu dikembangkan untuk selalu relevan dengan kebutuhan bangsa melalui upaya mendorong munculnya inovasi karena proses berpikir yang kreatif, inovatif dan imajinatif. Budaya riset dan inovasi harus dikembangkan di kampus-kampus untuk ikut mendorong transformasi ekonomi nasional dari efficiency driven economy menjadi innovation driven economy. Perguruan tinggi perlu melakukan transformasi dari teaching university menjadi research-based university. Hal ini berarti bahwa perguruan tinggi harus mampu membangun sistem pendidikan pascasarjana dan sumber belajar berbasis riset, mampu membangun jejaring kolaborasi yang fokus pada sinergitas riset berbagai disiplin ilmu atau inter/transdisiplin ilmu yang efektif, mampu menyediakan dana dan sarana ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang diperlukan dalam pengembangan ilmu dan memberikan solusi bagi masyarakat dalam proses perubahan ekologi, ekonomi, sosial, dan budaya yang berkesinambungan, dan mampu menciptakan iklim riset yang baik sehingga menghasilkan solusi sangat berguna bagi masyarakat.

Kampus-kampus kita harus selalu menakar derajat relevansi program akademik yang dijalankannya dengan kebutuhan bangsa. Program akademik yang semakin relevan dengan kebutuhan bangsa akan meningkatkan peran dan reputasi perguruan tinggi yang bersangkutan. Perguruan tinggi juga harus memiliki peran yang nyata dan reputasi yang baik dalam bidang yang menjadi kompetensi utamanya, menguasai faktor-faktor penentu perubahan, menjadi rujukan dalam ketidakpastian dan kompleksitas perubahan untuk menghadirkan jawaban bagi tantangan besar kehidupan manusia di muka bumi pada masa-masa kini maupun mendatang.

Budaya akademik di kampus perlu terus dibentuk dari rangkaian proses belajar sivitas akedemikanya yang datang dan pergi silih berganti tetapi tetap dapat saling memperkuat. Para mahasiswa belajar dari para dosen dan interaksinya dengan sesama mahasiswa. Wahana belajar terhampar di segenap proses para mahasiswa tersebut dalam memenuhi ketentuan akademik. Para dosen belajar dari riset yang dilakukannya untuk menjawab berbagai pertanyaan termasuk dari para mahasiswanya. Sebagai referensi, IPB mengembangkan budaya akademik dengan menggali dari objek pembelajaran yaitu pertanian beserta ekosistemnya. Pelajaran tentang makhluk hidup yang meliputi manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan mikroorganisma telah mengajari dosen dan mahasiswa untuk terbiasa mengelola kompleksitas dan ketidakpastian. Pelajaran tentang persamaan matematika, aljabar matriks, kalkulus, dan statistika telah mengajari dosen dan mahasiswa untuk mampu menghadirkan keunggulan solusi numerik dan terukur.

Pelajaran tentang iklim, cuaca, perairan, terrestrial, dan lingkungan untuk pertumbuhan makhluk hidup telah mengajari dosen dan mahasiswa untuk selalu berpikir sistem dan peduli lingkungan. Pelajaran tentang keteraturan alam semesta, taksonomi, prosedur praktikum, dan pembentukan peraturan dan ketentuan telah mengajari dosen dan mahasiswa untuk selalu berpikir dan bertindak runut, taat asa, prosedur dan aturan.  Kuliah Kerja Nyata, Praktek Lapangan, dan kegiatan sejenisnya telah mengajari dosen dan mahasiswa untuk selalu peduli rakyat kecil dan ringan langkah membantu sesama.

Kampus-kampus harus sangat memperhatikan upaya membangun budaya akademik. Kita harus sangat peduli dengan kasus penjiplakan yang dapat menjadi ciri belum berkembangnya budaya akademik yang baik, apalagi dengan adanya fasilitas penelusuran dokumen melalui internet. Untuk itu, para dosen harus betul-betul memastikan bahwa mahasiswanya menyusun sendiri skripsi/tesis/disertasi. Keterlibatan para mahasiswa dalam penelitian sangat penting untuk didorong. Bahkan, interaksi langsung mahasiswa dengan pembimbingnya dalam sebuah penelitian sangat menentukan keberhasilan pembentukan insan unggul yang kompeten.

 

Insan Unggul dan Kepemimpinan

Perguruan tinggi perlu mengembangkan pemikiran-pemikiran baru yang outside the box dan berbeda dengan tradisi keilmuan yang seringkali diredusir pengembangannya oleh individu tertentu yang malas belajar. Hal ini akan mendorong transformasi perguruan tinggi sehingga program-program akademiknya mampu menghasilkan insan unggul dan berdayasaing global.  Pribadi unggul dapat dilihat dari karakter yang memiliki lima filosofi dasar yaitu 1) memiliki kemampuan berpikir dan gemar menggali ilmu pengetahuan, 2) pandai mengambil hikmah, dan pelajaran dari setiap fenomena alam maupun sosial, 3) selalu berpegang teguh pada kebaikan dan keadilan, 4) memiliki pengetahuan luas, kritis dan teliti dalam dalam menerima informasi, teori dan proporsional, 5) dan mampu mengedepankan kemaslahatan umat.

Dalam mendorong budaya unggul yang inovatif, pribadi unggul harus mengedepankan nilai luhur dan budaya maju, memiliki semangat scientific nationalism dan scientific patriotism.  Insan unggul dan berdayasaing perlu memiliki semangat kejuangan, kebangsaan, keberanian dan patriotisme. Semangat tersebut adalah kunci kekuatan dalam menghadapi era global yang sangat ketat persaingannya.  Seluruh elemen perguruan tinggi harus memiliki semangat ini dan menularkannya kepada para mahasiswa agar kita dapat mengejar ketertinggal dari negara maju. 

Kita harus keluar dari kondisi nyaman soft zone dan segera masuk ke  competition zone. Kita harus menyadari kemungkinan berjangkitnya penyakit mediokrasi yang sering hinggap di kalangan bangsa-bangsa yang kaya sumberdaya namun tidak memiliki sumberdaya manusia yang mumpuni dalam mengelola.  Sifat-sifat kurangnya empati, kurang kompehensif dalam menilai, terlalu banyak menuntut, dan kedangkalan berpikir haruslah dihindari.  Insan unggul dan berdayasaing global lulusan perguruan tinggi kita harus memperkuat karakternya dengan adab, moral, budaya dan tanggung jawab. 

Dalam perspektif organisasi masa depan Collins (2002) menguraikan upaya membangun institusi yang unggul. Institusi dengan kepemimpinan yang kuat tidak hanya sekedar memiliki individu yang cakap, tetapi juga anggota yang berkontribusi, manajer yang kompeten, dan pemimpin yang efektif, serta pemimpin yang mengantarkan kejayaan institusi jangka panjang. Antonio (2007) memotret pribadi Nabi Muhammad SAW sebagai epicentrum karakter seorang pemimpin tangguh yang pernah ada di dunia. 

Pemimpin yang sukses dan bertahan lama merupakan pemimpin yang memperhatikan fungsi yang ada yaitu sebagai perintis, penyelaras, pemberdaya dan panutan. Selain itu juga, seorang pemimpin harus mempunyai sifat visioner, berkemauan kuat, mempunyai integritas, memegang amanah, mempunyai rasa ingin tahu, menguasai perubahan, mampu merancang organisasi, memiliki inisiatif, mampu menjaga interdependensi, memiliki standar integritas yang tinggi, dipercaya, senang mendengarkan, dan mendidik kadernya.  Semua itu teladan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW yang dilihat dari segala aspek (family, dakwah, social & politics, education, legal system, military, self development, dan business).

 

Penutup

Sebelum mengakhiri uraian saya, perkenankan saya menyampaikan harapan saya mengenai UNY. Saya berharap UNY akan menjadi perguruan tinggi yang memiliki: (1) sistem manajemen yang baik untuk menjalankan program-program akademik yang relevan dengan kepentingan bangsa dan bertaraf internasional; (2) sumberdaya manusia yang unggul dan mampu melakukan riset yang menghasilkan inovasi di bidang sains, teknologi, dan pendidikan; (3) kemampuan dalam mencari solusi dan pendekatan baru di bidang pendidikan agar kita mampu melahirkan insan unggul dan berdayasaing global.

Reputasi kampus-kampus kita dibangun dari kerja keras dan dedikasi seluruh sivitas akademika dan alumninya yang bersatu padu dari generasi ke generasi. Setiap keberhasilan perguruan tinggi adalah keberhasilan kolektif yang diperoleh dengan penuh perjuangan dan pengorbanan. Kepada segenap warga UNY, perkenankan saya menyampaikan pesan bahwa para pendahulu dan senior UNY telah memberikan keteladanan dan mempercayakan kepada setiap generasi untuk terus menjaga semangat juang yang mendasari dedikasi mereka dalam memajukan UNY dan bangsa Indonesia.

Kita boleh berbangga atas segala prestasi dan keberhasilan yang telah kita capai, namun melihat tantangan ke depan, perjuangan kita belum berakhir, perjalanan ini masih panjang. Tak boleh kita berhenti melangkah, sebelum kita memberi solusi bagi bangsa ini agar berdaulat atas pangan, bermartabat di bidang moral, dan berjaya dalam menghasilkan inovasi. Tak layak kita beristirahat, sebelum kita dapat membangun sistem pendidikan nasional yang tangguh dan dapat melahirkan lulusan yang unggul dan siap bersaing dalam berbagai medan persaingan internasional.

Meski perjalanan ke depan tidaklah semakin mudah, namun dengan kebersamaan dan kerja keras yang telah terbangun selama 51 tahun terakhir ini, saya yakin UNY akan dapat menunaikan amanat bangsa dan menggenapkan langkah perjalanan sejarahnya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk dan kekuatan kepada kita semua untuk menunaikan amanah yang diberikan kepada kita masing-masing dalam menempuh hari-hari mendatang menyongsong kejayaan UNY dan kejayaan bangsa Indonesia.

 

Daftar Pustaka

Antonio, MS. 2007. Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager. ProLM. Jakarta. ISBN:978-979-16712-0-0.

Collins, J. 2014. Good to Great. PT Gramedia. Jakarta. ISBN: 978-602-03-0443-4

Ghulamahdi, M., Melati M., and Sagala D.. 2009. Production of Soybean Varieties Under Saturated Soil Culture on Tidal Swamps. J. Agron. Indonesia. 37 (3): 226-232.

McKinsey Global Institute (MGI). 2012. Perekonomian Nusantara: Menggali potensi terpendam Indonesia. McKinsey & Company.

Payumo JG., Arasu P., Fauzi AM., SiregarIZ.,Noviana D. 2014. An Entrepreneurial, Research-Based University Model Focused on Intellectual Property Management for Economic Development in Emerging Economies: The Case of Bogor Agricultural University, Indonesia. World Patent Information. Elsevier (36):22-31.

Porter, M. 1996. "What is Strategy?". Harvard Business Review hal .61-79

Sugiyanta, Rumawas F., Chozin M.A., Ghulamahdi M.. 2010. Reduksi Pupuk Anorganik dengan Pembenaman Jerami dan Pupuk Hayati pada Padi Sawah. J. Agron. Indonesia.

Suhardiyanto, H. 2013. Salah Persepsi Otonomi Perguruan Tinggi. Koran Kompas.

Suhardiyanto, H. 2012. Optimisme di Balik Kelangkaan Kedelai.  Media Indonesia.

Toffler, A. 1980. The Third Wave. Bantam Books. United States.

United Nations Development Programme. 2014. Sustaining Human Progress: Reducing Vulnerabilities and Building Resilience. Human Development Report 2014.UNDP Publising.

 

Catatan:

Tulisan ini disampaikan pada upacara Dies Natalis ke-51 Universitas Negeri Yogyakarta, 21 Mei 2015

Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc.: Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI)

Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc.
Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc.