Memahami konsep ekonomi tidak selalu harus dilakukan melalui buku dan penjelasan di dalam kelas. Pilihan-pilihan sederhana yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari justru dapat menjadi sarana untuk belajar mengambil keputusan secara bijak. Pendekatan inilah yang diterapkan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) saat melaksanakan Praktik Kependidikan (PK) di SMA Negeri 2 Yogyakarta.
Pembelajaran yang dilaksanakan bersama siswa kelas XE-7 baru-baru ini mengangkat materi biaya peluang yang diintegrasikan dengan Sustainable Development Goals (SDG) ke-12, yaitu Responsible Consumption and Production atau Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Dalam kegiatan ini, konsep biaya peluang dikaitkan dengan perilaku konsumsi yang bertanggung jawab. Adhestia Putri Richinta, mahasiswa UNY yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran tersebut, menggunakan media Economic Choice Card untuk membuat siswa lebih aktif dalam memahami konsep biaya peluang sekaligus menghubungkannya dengan situasi nyata.?p>
"Pembelajaran diawali dengan penyampaian konsep biaya peluang dan pengambilan keputusan ekonomi. Setelah siswa memahami konsep dasar, mereka diajak mengikuti aktivitas Economic Choice Card yang dirancang berbasis studi kasus" katanya.
Media pembelajaran tersebut dibuat secara sederhana dengan memanfaatkan kardus bekas paket COD. Kardus tersebut diolah menjadi sebuah kotak yang berisi lembaran kasus dengan berbagai warna. Setiap warna memiliki kategori kasus yang berbeda. Lembaran kemudian dilipat sehingga bagian tengah yang berisi soal studi kasus tertutup.
Dalam aktivitas tersebut, siswa diminta mengambil satu kartu secara acak dan membuka lipatannya untuk mengetahui situasi yang mereka peroleh. Kasus yang diberikan dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari memilih membeli barang baru atau menggunakan barang yang masih layak, membedakan kebutuhan dan keinginan, mempertimbangkan pengaruh diskon, hingga menentukan pilihan konsumsi yang lebih efisien. Melalui kasus-kasus tersebut, siswa tidak hanya diminta menentukan pilihan. Mereka juga harus mempertimbangkan alasan, tujuan, manfaat, konsekuensi, serta peluang yang hilang dari setiap keputusan.
Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam mengintegrasikan SDG 12 ke dalam pembelajaran ekonomi. Siswa diajak memahami bahwa keputusan sebagai konsumen tidak semata-mata ditentukan oleh harga, tetapi juga perlu mempertimbangkan kebutuhan, manfaat, kondisi keuangan, penggunaan sumber daya, dan dampak dari pilihan yang diambil.
Nilai konsumsi bertanggung jawab juga diperkuat melalui penggunaan kembali material dalam pembuatan media pembelajaran. Pemanfaatan kardus bekas sebagai bahan Economic Choice Card menunjukkan bahwa barang yang masih dapat digunakan dapat dimanfaatkan kembali sehingga tidak langsung menjadi sampah.
Sejumlah kasus yang diberikan kepada siswa juga mendorong mereka untuk mempertimbangkan penggunaan kembali barang yang masih layak, memperbaiki barang yang rusak, memilih produk isi ulang, serta lebih kritis terhadap keputusan membeli barang hanya karena adanya diskon atau mengikuti perkembangan zaman.
Hasil penugasan menunjukkan adanya beragam pertimbangan dari siswa dalam menentukan pilihan. Mereka tidak hanya melihat aspek harga, tetapi juga memperhatikan kebutuhan, situasi, manfaat, kondisi keuangan, dan konsekuensi dari keputusan yang diambil.
Melalui pembelajaran tersebut, konsep biaya peluang menjadi lebih dekat dengan kehidupan siswa. Setiap pilihan memiliki konsekuensi dan selalu ada sesuatu yang dikorbankan. Karena itu, kemampuan mempertimbangkan kebutuhan dan dampak sebelum mengambil keputusan menjadi bagian penting dalam membangun perilaku konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Melalui Economic Choice Card, Adhestia dan mahasiswa UNY berharap pembelajaran ekonomi tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi juga membantu siswa menerapkan cara berpikir ekonomi dalam mengambil keputusan sehari-hari secara lebih bijak dan bertanggung jawab.
English