Menjalani perkuliahan sekaligus membangun usaha bukanlah perkara mudah. Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa, Takashi Nurdi Al Mu’tasyimbillah, mahasiswa Prodi Biologi FMIPA UNY, memilih tetap berjuang mencari penghasilan tambahan dengan berjualan makanan. Baginya, usaha tersebut bukan sekadar aktivitas mencari pemasukan, tetapi juga bagian dari perjalanan untuk belajar mandiri dan membangun masa depan.
Semangat berjualan telah tumbuh dalam diri Takashi sejak duduk di bangku SMA. Kebiasaan tersebut kemudian ia lanjutkan ketika memasuki dunia perkuliahan. Memasuki semester kedua, Takashi semakin serius menjalani aktivitas jualannya sebagai salah satu upaya agar kebutuhan sehari-hari tidak sepenuhnya dibebankan kepada orang tua. “Saya sudah berjualan sejak SMA, jadi sekarang saya melanjutkannya. Saya juga ingin punya penghasilan sendiri supaya bisa membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan tidak terlalu membebani orang tua, terutama untuk uang saku dan keperluan kuliah” ungkapnya, Sabtu (12/9/26).
Saat ini, Takashi menjual risol dengan tiga varian. Produk tersebut dipasarkannya di lingkungan sekitar kampus dan kepada mahasiswa yang membutuhkan. Dalam sehari, ia mampu menjual hingga sekitar 300 buah risol. Harganya pun dibuat terjangkau, mulai dari Rp3.000 hingga Rp4.000 per buah. Ia membuat sendiri kudapan tersebut sepulang kuliah, dan berjualan pada hari Senin, Selasa dan Jumat.
Alumni SMA Muhammadiyah 1 Babat Lamongan itu juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai kepanitiaan mahasiswa. Tidak jarang, pesanan datang dari kegiatan mahasiswa yang membutuhkan produk untuk keperluan dana usaha atau danusan. Bagi Takashi, setiap pesanan menjadi kesempatan untuk terus menjalankan usahanya sekaligus belajar memahami kebutuhan konsumen. Perjalanan membangun usaha tentu tidak selalu berjalan mulus. Takashi pernah mencoba mengikuti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW), tetapi belum berhasil lolos. Pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia justru terus menjalankan usaha yang telah dirintisnya sambil menempuh pendidikan.
Bagi Takashi, pengalaman berjualan merupakan investasi untuk masa depan. Ia ingin pengalaman tersebut menjadi bekal untuk mengembangkan usaha dan membangun jiwa kewirausahaan. “Harapannya ke depan bisa punya jiwa entrepreneur. Mungkin saya bisa mengembangkan usaha” ujar warga Kecamatan Babat, Lamongan tersebut.
Kegigihan Takashi juga mendapat perhatian dari Dr. Wenny Pinta Litna Tarigan, dosen yang mengenalnya dalam aktivitas perkuliahan. Menurutnya, Takashi merupakan mahasiswa yang tidak hanya rajin berusaha mengembangkan berbagai kreasi kuliner untuk menambah pemasukan, tetapi juga tetap menunjukkan keseriusan dalam mengikuti perkuliahan. “Mas Takashi adalah seorang mahasiswa Prodi Biologi. Beliau sehari-harinya rajin menciptakan makanan-makanan kuliner seperti ini untuk menambah pemasukan. Selain itu, beliau juga rajin di kelas,” tuturnya.
Ia mengaku salut dengan kegigihan Takashi dalam menjalani dua peran sekaligus, yakni sebagai mahasiswa dan sebagai seseorang yang berusaha membangun kemandirian melalui usaha. “Saya sangat berempati kepada beliau dan salut dengan kegigihannya. Di tengah perjuangan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, beliau tetap bersemangat untuk belajar dan meraih cita-cita” lanjut dosen Pendidikan biologi FMIPA UNY tersebut.
Bagi generasi muda, Dr. Wenny berpesan agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi kehidupan. Menurutnya, semangat untuk terus belajar dan menciptakan berbagai kreasi menjadi modal penting untuk membuka peluang baru. “Bagi generasi muda selanjutnya, silakan untuk tetap lebih bersemangat dan bisa menciptakan kreasi baru agar bisa melanjutkan kehidupannya lebih baik lagi,” pesannya.
Kisah Takashi menjadi gambaran bahwa perjuangan mahasiswa tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Di balik aktivitas akademiknya, ada upaya untuk belajar mandiri, mengatur waktu, mencari peluang, serta membangun keterampilan yang kelak dapat menjadi bekal memasuki dunia kerja dan kewirausahaan.
English