Menjadi pendidik bagi anak berkebutuhan khusus bukan sekadar persoalan menyampaikan materi pembelajaran. Enam mahasiswa Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menemukan pengalaman tersebut secara langsung selama menjalani Praktik Kependidikan (PK) di SLB Bhakti Wiyata Giripeni, Wates, Kulonprogo.
Berhadapan langsung dengan siswa membuat mereka menyadari bahwa setiap anak memiliki karakter, minat, kemampuan, dan cara belajar yang berbeda. Pengalaman di lapangan tersebut sekaligus memberikan pemahaman baru tentang pentingnya kesabaran, kreativitas, dan kemampuan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan setiap siswa.
Ketua kelompok mahasiswa PK, Norma Listyani, mengungkapkan salah satu tantangan yang mereka hadapi adalah menghadapi sikap dan karakter siswa yang beragam. Menurutnya, pengalaman praktik langsung memberikan gambaran yang berbeda dibandingkan pembelajaran yang diperoleh sebelumnya. “Anak autis itu walaupun dalam batasnya sama, cara belajarnya beda, minatnya beda, karakteristiknya juga beda,” ujar Norma, Kamis (17/9/26).
Ia menjelaskan, di dalam satu kelas pun mahasiswa harus menyesuaikan pendekatan pembelajaran. Ada siswa yang hiperaktif, ada pula yang hipersensitif. Karena itu, tugas dan metode pembelajaran perlu dibedakan sesuai karakteristik masing-masing siswa.
Pengalaman serupa dirasakan Chintya Darari. Ia mengatakan bahwa setiap siswa autis memiliki keunikan tersendiri. Ada siswa yang sangat sensitif, sementara siswa lainnya sangat aktif dan belum mampu mengikuti instruksi dengan mudah. “Setiap anak autis itu unik dan benar-benar berbeda. Yang satu sangat sensitif, yang satunya aktif sekali,” ungkap Chintya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat mahasiswa belajar untuk tidak menggunakan satu cara yang sama kepada semua siswa. Mereka harus lebih sabar dan menyesuaikan cara mengajar dari satu anak ke anak lainnya.
Salsabila Irene menambahkan bahwa pengalaman PK juga mengubah pandangan mahasiswa mengenai proses mendidik anak berkebutuhan khusus. Ia melihat pengalaman para guru di SLB menjadi pembelajaran tersendiri bagi mahasiswa. “Menjadi guru dengan mendidik anak berkebutuhan khusus ternyata tidak semudah itu,” kata Salsabila.
Ia juga mengapresiasi penerimaan dari para guru selama mahasiswa menjalani PK. Interaksi selama berada di sekolah tidak hanya menambah pengalaman dalam menangani siswa, tetapi juga mempererat kebersamaan antarmahasiswa dalam kelompok.
Selain mendampingi pembelajaran, mahasiswa juga melaksanakan sejumlah kegiatan di sekolah. Chusnul Mariyah menyebutkan beberapa program yang dilakukan, antara lain lomba memperingati Hari Kemerdekaan, kegiatan Hari Pramuka, Hari Olahraga Nasional, serta kegiatan bersama PMI. Mahasiswa juga berencana membuat pelatihan kerajinan dengan memanfaatkan barang bekas seperti koran dan kardus untuk dijadikan pigura yang nantinya dipajang di kelas.
Sementara itu, Berliana Agestin melihat pengalaman PK di SLB Bhakti Wiyata sebagai kesempatan untuk mengembangkan kreativitas dalam merancang pembelajaran. Beragam karakteristik siswa menuntut pendidik untuk tidak terpaku pada satu metode pembelajaran. “Di sini kita dituntut untuk kreatif dan inovatif. Dengan berbagai macam karakteristik anak, kita tidak bisa menyampaikan pembelajaran dengan cara yang sama,” ungkap Berliana.
Kepala SLB Bhakti Wiyata Wates, Tresnaning Putri, S.Pd., mengatakan kehadiran mahasiswa PK UNY sangat membantu proses pembelajaran maupun kegiatan nonpembelajaran di sekolah. Menurutnya, mahasiswa juga membawa kebaruan ilmu yang dapat menjadi tambahan bagi para guru. “Untuk proses pembelajaran sangat membantu sekali untuk Bapak-Ibu guru dan juga bisa berbagi ilmu baru,” tutur Tresnaning Putri. Pihak sekolah berharap SLB Bhakti Wiyata dapat kembali menjadi sekolah sasaran PK bagi mahasiswa UNY pada masa mendatang.
Bagi keenam mahasiswa—Norma Listyani, Salsabila Irene, Chusnul Mariyah, Annisa Febrianti, Chintya Darari, dan Berliana Agestin—PK di SLB Bhakti Wiyata Wates menjadi ruang untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dengan pengalaman nyata di lapangan.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman pendidikan yang bermakna dan inklusif. Melalui keterlibatan mahasiswa dalam mendampingi siswa dengan beragam karakteristik dan kebutuhan belajar, kegiatan ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Bermutu serta mendukung SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan.
English