Mahasiswa UNY Kembangkan Quiche Lorraine Kaya Zat Besi untuk Remaja

Mahasiswa UNY menghadirkan inovasi di bidang pangan melalui karya yang mengangkat isu gizi remaja. Mau’idhatun Nashuha mengembangkan produk Quiche Lorraine berbasis substitusi puree wortel dan bayam sebagai sumber zat besi untuk remaja, khususnya remaja putri.

Inovasi ini berangkat dari pengalaman mahasiswa prodi Pendidikan Tata Boga Fakultas Teknik tersebut saat menempuh pendidikan jenjang SMP dan SMA di lingkungan boarding school. Pada masa itu, sekolah rutin memberikan tablet tambah darah (TTD) setiap satu minggu sekali sebagai upaya pencegahan anemia pada siswi. Namun, tidak sedikit siswa yang mengalami ketidaknyamanan dalam mengonsumsi TTD karena rasa, aroma, dan aftertaste yang menyerupai besi sehingga menimbulkan rasa mual dan membuat kepatuhan konsumsi menjadi rendah.

Selain itu, pola konsumsi makanan di lingkungan asrama dengan sistem central kitchen yang cenderung monoton juga mempengaruhi nafsu makan. Menu sayuran seperti bayam dan wortel sering kali tidak dihabiskan oleh siswa, sehingga memunculkan tantangan dalam pemenuhan gizi harian remaja.

“Dari pengalaman tersebut saya terinspirasi untuk mengembangkan produk makanan fungsional yang tidak hanya tinggi zat besi, tetapi juga memiliki karakteristik rasa, aroma, dan tekstur yang disukai remaja, khususnya remaja putri,” kata alumni SMA MTA Surakarta tersebut, Senin (22/6/26).

Produk Quiche Lorraine ini memodifikasi resep klasik Prancis dengan penambahan bahan lokal bergizi. Pada bagian pie crust, digunakan tepung terigu protein sedang 120 gram, puree wortel 30 gram, butter 100 gram, dan setengah butir telur. Sementara pada bagian isian, digunakan bayam 100 gram, jamur kuping 25 gram, puree wortel 35 ml, susu cair 140 ml, keju 87 gram, dua butir telur, serta bumbu berupa garam 1 gram, lada 1,5 gram, kaldu bubuk 1,5 gram, dan pala bubuk 2 gram.

Kombinasi bayam dan wortel dipilih karena memiliki kandungan zat besi, vitamin, serta antioksidan yang baik untuk mendukung kesehatan remaja, khususnya dalam pencegahan anemia. “Sementara itu, teknik pengolahan dalam bentuk quiche diharapkan dapat meningkatkan daya terima remaja terhadap sayuran yang selama ini kurang disukai” ujar Mau’idhatun Nashuha.

Proses pembuatan quiche diawali dengan mencampurkan bahan kulit yang terdiri dari puree wortel, tepung terigu, telur, butter, dan gula halus, kemudian dibentuk dengan teknik crimping pada bagian pinggir sebelum dilakukan pemanggangan awal (blind bake) pada suhu 175°C selama 15 menit. Secara paralel, isian disiapkan dengan menumis bayam dan jamur hingga layu, lalu mencampurkan bahan filling berupa susu, telur, sari wortel, garam, lada, dan pala bubuk. Selanjutnya, tumisan dan campuran filling disatukan ke dalam kulit pie yang telah dipanggang, kemudian dipanggang kembali (finish baking) pada suhu 175°C selama 25 menit, dan diakhiri dengan proses pendinginan sebelum quiche siap dipotong dan disajikan.

Inovasi ini juga sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) dan SDG 3 (Good Health and Well-being), melalui pengembangan pangan bergizi berbasis bahan lokal yang lebih disukai generasi muda.

Ke depan, produk ini diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari pembelajaran akademik, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai alternatif pangan sehat di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas.

Penulis
Dedy
Editor
Sudaryono
Kategori Humas
Inovasi
MBKM